Begitu ada kabar artis perempuan berselingkuh, media sosial kita mendadak berubah menjadi cabang resmi "kantor pusat Tuhan". Timeline yang isinya hanya sambatan cicilan dan pamer filter estetis tiba-tiba penuh dengan orang-orang yang merasa sudah mendapat wahyu. Entah dari mana asalnya, warganet kita mendadak memiliki gelar profesor di bidang moralitas dan sertifikat malaikat jalur undangan.
Aturannya sederhana dan sudah menjadi prosedur operasi standar (SOP) yang tidak tertulis: kalau laki-laki yang berselingkuh, kita cukup menggunakan kartu "maklum". "Ya, namanya juga laki-laki, kodratnya memang pemburu," atau "Mungkin dia sedang khilaf dan butuh variasi." Selesai. Masalah tuntas dengan tawa tipis dan sedikit nasihat sabar untuk istrinya.
Namun, coba kalau perempuan yang "jajan" di luar? Wah, itu bukan sekadar khilaf; itu sudah kiamat moral! Standar suci langsung dinaikkan sampai langit ketujuh, dan hujatannya? Kreativitasnya mengalahkan tim kreatif agensi iklan.
Hebatnya kita, moral itu bisa sangat fleksibel jika menyangkut urusan gender. Laki-laki memiliki diskon hukuman sosial yang luar biasa besar, sementara perempuan harus menjadi simbol kesucian tanpa celah. Perempuan itu harus menjadi tiang rumah tangga; kalau tiangnya melengkung sedikit, ya sudah, mending dibakar sekalian satu rumahnya. Begitu dia keluar jalur, cap "perusak moral bangsa" langsung ditempel permanen di dahinya tanpa ada proses banding atau remisi.
Media sosial kita juga sangat suportif dalam urusan ini. Algoritma tidak membutuhkan empati atau klarifikasi; ia hanya butuh kerumunan orang yang haus darah. Judul berita dibuat seprovokatif mungkin, video dipotong-potong agar makin kelihatan jahat, dan warganet pun berpesta di kolom komentar. Kita semua menjadi hakim yang paling jujur sedunia, padahal aslinya hanya penonton sok tahu yang kebetulan memiliki paket data.
Lucunya lagi, yang diributkan bukan soal mengapa perselingkuhan itu salah secara prinsip, melainkan soal bagaimana seharusnya si perempuan ini "tahu diri". Kita sibuk mengatur cara dia meminta maaf, cara dia menunduk, sampai cara dia menderita di depan publik. Si laki-laki dalam skandal ini? Biasanya hanya menjadi figuran yang tidak sengaja lewat, tidak dianggap sebagai pemain utama dalam drama dosa ini.
Padahal kalau mau jujur—tetapi biasanya warganet tidak mau—selingkuh itu ya brengsek, siapa pun yang melakukannya. Tidak ada ceritanya selingkuh menjadi "halal" atau "ringan" hanya karena pelakunya memiliki jakun. Namun, publik kita memang sudah terlalu nyaman dengan standar ganda ini. Lebih gampang menghujat orang lewat jempol daripada harus repot-repot berkaca di kamar sendiri.
Ironisnya, banyak dari "polisi moral" ini akunnya penuh kutipan bijak dan foto tempat ibadah, tetapi jarinya kalau mengetik hinaan pedasnya mengalahkan seblak level 10. Menghakimi perempuan selingkuh sudah menjadi hobi nasional baru, tempat paling asyik untuk melampiaskan rasa kurang puas terhadap hidup sendiri dengan cara merundung orang lain.
Jadi, masalahnya bukan soal perselingkuhannya, melainkan soal betapa senangnya kita memiliki alasan untuk merasa lebih suci daripada orang lain. Selama menghujat secara berjamaah masih dianggap sebagai ibadah digital, jangan harap kita menjadi bangsa yang dewasa. Kita hanya kumpulan orang-orang munafik yang hobi melempar batu sambil sembunyi di balik anonimitas.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
Hotman Paris Sebut Ada Podcaster Jago Selingkuh, Doktif: Inisial DRL
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Mencari Rumah yang Hilang
-
Reni Effendi Klarifikasi soal Foto dr Richard Lee bareng Cewek: Saya Tahu Siapa Suami Saya
-
Ogah Damai dengan Inara Rusli, Mawa Minta Polisi Lanjutkan Kasus Perzinaan
Kolom
-
Tren Nama Anak Sulit Dieja: Sudahkah Orang Tua Memikirkan Repotnya Kelak?
-
Mengenal Desil 1 sampai 10: Penentu Nasib Bansos dan KIP Kuliah yang Sering Salah Sasaran
-
Slow Living: Gaya Hidup Berkelanjutan atau Privilege Kelas Atas?
-
Gen Z, Healing, dan Self-Care: Hidup Seimbang Kini Jadi Bukti Kebebasan?
-
Satu Kebijakan Publik Bisa Mengubah Harga dan Hidup Masyarakat
Terkini
-
Tinggalkan Masa Lalu! Chung Ha Ajak Kita Memulai Hidup Baru di Lagu Mexico
-
Diserbu Ratusan Penggemar, Intip Keseruan BAKKA!! Maid Cafe 'Maid the Rock!!' di BW Express Jakarta
-
Kulit Berminyak Bebas Jerawat! 4 Acne Cleansing Foam Cegah Pori Tersumbat
-
Menyelami Labirin Trauma dan Ilusi dalam Film Shutter Island
-
Dewasa Ternyata Melelahkan: Bedah Makna di Balik Lagu 'Masa Mudaku Habis'