Di ruang tamu itu, jam dinding berdetak terlalu keras. Seperti sengaja mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, sementara hidup Nara berhenti di satu titik: kalimat “suamimu selingkuh”.
Nara duduk dengan punggung lurus, tangan saling menggenggam di pangkuan. Ia tidak menangis. Air mata hanya akan membuat orang-orang merasa benar. Dan Nara sudah lelah membenarkan dunia.
“Sebenernya kamu kurang apa sih, Ra?” tanya Bu Ratna, tetangga sebelah, sambil mengaduk teh yang tak pernah ia minum.
Nara tersenyum tipis. “Kurang salah, mungkin.”
Bu Ratna tertawa kecil, tidak menangkap ironi itu. “Ya maksud saya… laki-laki kan begitu. Kamu kurang ngurus diri kali. Dulu kamu langsing.”
Kalimat itu jatuh seperti sendok ke lantai. Tidak keras, tapi cukup untuk melukai.
Di sudut ruangan, ibu Nara duduk diam. Tangannya memainkan ujung kerudung. Sejak kabar itu menyebar, ibunya lebih sering diam daripada bicara. Diam yang berat. Diam yang menyimpan malu.
“Yang penting kamu masih dinafkahi,” sambung Bu Ratna. “Zaman sekarang susah cari laki-laki tanggung jawab.”
Nara mengangguk pelan. Ia ingin bertanya: sejak kapan tidak meninggalkan keluarga jadi prestasi luar biasa? Tapi ia simpan pertanyaan itu di dadanya. Sudah terlalu penuh.
Malamnya, Nara dan Arga duduk berhadapan di meja makan. Tidak ada makanan. Hanya dua gelas air dan jarak yang tak lagi bisa diukur.
“Aku cuma capek,” kata Arga akhirnya. “Kamu kerja terus. Pulang malam. Badan kamu juga… ya, kamu tau lah.”
Nara menatap suaminya. Lelaki yang dulu ia kenal sebagai rumah. Kini hanya tembok yang menyalahkan angin.
“Jadi kamu cari perempuan lain karena aku kerja?” tanya Nara, suaranya tenang.
Arga mengangkat bahu. “Aku kan laki-laki.”
Kalimat itu. Selalu itu.
Seolah dua kata tersebut cukup untuk menghapus kebohongan, pesan singkat, hotel murah, dan malam-malam yang bukan milik istrinya.
“Kamu tau nggak,” kata Nara pelan, “setiap orang selalu bilang aku kurang ini, kurang itu. Tapi nggak ada satu pun yang tanya kamu kurang apa sebagai manusia.”
Arga terdiam. Bukan karena tersentuh, tapi karena tidak terbiasa dipertanyakan. Keesokan harinya, Nara pulang ke rumah orang tuanya. Ibunya menyambut dengan wajah cemas.
“Kamu jangan cerai ya,” kata ibunya tanpa basa-basi. “Orang-orang nanti ngomong.”
“Nanti anak kamu gimana?”
“Nanti ibu malu.”
Kata ‘nanti’ berjejer rapi, tapi tidak ada satu pun yang menyebut ‘sekarang Nara sakit’.
Di kamar masa kecilnya, Nara duduk di depan cermin. Ia melihat perempuan dengan mata lelah dan pundak yang tetap tegak. Ia ingat semua kalimat yang tumbuh bersamanya sejak kecil.
Perempuan kok bangun siang.
Perempuan kok nggak bisa masak.
Perempuan kok rumah berantakan.
Tak pernah ia dengar:
Manusia kok nggak bisa setia.
Manusia kok nggak bisa bertanggung jawab.
Manusia kok nyakitin lalu minta dimaklumi.
Siang itu, Nara bertemu sahabat lamanya, Lila, di sebuah warung kopi kecil.
“Gue pengen cerai,” kata Nara akhirnya.
Lila tidak terkejut. Ia hanya mengangguk. “Lu tau kan nanti bakal banyak yang nyalahin lu?”
Nara tersenyum lelah. “Dari dulu juga gue salah.”
Lila menyesap kopinya. “Lucu ya. Kalau laki-laki selingkuh, alasannya istri. Kalau istri pergi, alasannya egois.”
“Padahal,” sambung Nara, “yang egois itu sistemnya.”
Mereka tertawa kecil. Tawa orang-orang yang sudah terlalu sering disuruh mengerti, tapi jarang dimengerti.
Beberapa minggu kemudian, kabar perceraian itu menyebar. Ada yang berbisik, ada yang menghakimi terang-terangan.
“Sayang sih,” kata seseorang, “padahal suaminya masih mau pulang.”
Nara mendengar itu sambil menggendong anaknya. Ia menatap wajah kecil yang tertidur damai.
“Justru karena itu,” gumamnya.
Di malam yang sunyi, Nara menulis di buku catatannya: "Aku tidak pergi karena aku perempuan yang gagal. Aku pergi karena aku manusia yang menolak terus disalahkan."
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu tidak lagi menyalahkan Nara. Rumah itu adalah dirinya sendiri.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Novel Promise: Ternyata Jujur adalah Nama Tengah Cinta
-
Buku Tuhan, Maafkan Masa Laluku: Teguran Keras untuk Kita yang Lalai
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Antara Babi, Korupsi, dan Secangkir Kopi
-
Kenapa Perempuan yang Berdaya Masih Dianggap Mengancam di Era Ini?