Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Novel Sang Pemenang Berdiri Sendiri (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Sang Pemenang Berdiri Sendiri karya Paulo Coelho menguak bagaimana begitu sunyinya para pemenang, orang-orang yang telah berdiri di puncak karpet merah Cannes. Baik itu produser film Hollywood ternama, desainer adibusana, maupun aktris besar yang takut kehilangan kekuasaannya. Di sini uang, kuasa, dan ketenaran adalah kunci kesuksesan dalam dunia mode dan film, dengan latar Festival Cannes, Prancis.

Sinopsis

Novel ini menceritakan Igor, seorang jutawan Rusia yang datang ke Cannes dengan tujuan memberi pesan kepada Ewa, istri yang telah meninggalkannya, melalui “pengorbanan” satu demi satu nyawa. Sungguh aneh jalan pikiran orang ini. Menurut Igor, membunuh untuk melepaskan seseorang dari kemelaratan dan ketersiksaan adalah sesuatu yang mulia.

Awalnya Igor bertemu Olivia di bangku taman, seorang gadis sederhana penjual kerajinan cendera mata buatan orang tuanya untuk para turis. Setelah mengobrol beberapa saat, Igor mengetahui bahwa orang tua Olivia mengeksploitasinya dan pacarnya yang pemabuk sering melakukan kekerasan padanya. Tanpa banyak pertimbangan, Igor mengakhiri hidup Olivia dengan cara yang membuat kematiannya tampak wajar di mata orang lain.

Beralih ke tokoh Ewa, seorang wanita luar biasa yang menjadi obsesi Igor. Ia mengetahui perilaku aneh suaminya yang tega membunuh pengemis yang dianggap mengganggu makan siang mereka. Ewa kemudian menikahi desainer adibusana di Paris, Hamid Hussein, pria kaya asal suku Bedouin dengan kekayaan fantastis.

Novel ini juga menyoroti kehidupan Gabriella, gadis yang sejak kecil mati-matian ingin tampil sebagai pemeran utama. Berbagai tes telah ia lalui hingga sampai ke Cannes untuk memukau produser agar memilihnya. Ada pula Maureen, produser film muda berbakat penuh idealisme yang ingin menembus industri film global dengan proyek-proyek besarnya. Ia datang ke Cannes untuk menemui Javits, sosok yang mengendalikan jaringan bioskop dunia. Tak hanya itu, ada Jasmine, gadis muda asal Rwanda yang lahir di tengah konflik dan datang ke Cannes atas undangan untuk menjadi calon model besar karya Hamid Hussein.

Igor yang tengah makan siang di sebuah hotel tertarik pada Javits yang tenang dan tidak banyak menjilat siapa pun. Lagi-lagi Igor merasa ia pantas dikorbankan demi cintanya pada Ewa. Kematian pun kembali terjadi dan tampak seperti takdir yang kebetulan.

Inspektur Savoy dan seorang ahli patologi berusaha mencari motif dari pembunuhan-pembunuhan yang terjadi berdekatan di tengah kota kecil yang akan segera dipenuhi para elite dunia untuk Festival Cannes. Savoy yang penuh idealisme merasa kasus ini bisa menjadi titik balik kariernya.

Kematian Javits tentu berpengaruh besar, termasuk pada cita-cita Maureen yang datang dengan anggaran terbatas demi bertemu orang paling berpengaruh dalam dunia pemasaran film itu. Di tengah kesedihannya, Maureen bertemu Igor dan tanpa sadar masuk ke dalam lingkaran obsesinya. Ia pun menjadi korban berikutnya.

Sementara itu, kematian Hamid Hussein tentu menjadi penyebab gagalnya Gabriella dan Jasmine menjadi model top. Mereka telah melalui begitu banyak rintangan dan pengorbanan, baik uang maupun tenaga, demi kesempatan emas tersebut. Semua mimpi itu runtuh seketika karena satu obsesi seorang pria. Dunia yang mereka kejar dengan susah payah hancur tanpa pernah memberi mereka panggung yang dijanjikan.

Sebelumnya Igor bahkan pernah melapor secara sukarela pada polisi bahwa dialah pembunuh Olivia, namun ia tidak dianggap serius. Polisi menyimpulkan kematian itu sebagai kasus lain yang tak terlalu penting. Seorang aktor juga ditemukan mati di hotel dengan pesan yang ditujukan kepada Ewa. Rangkaian kematian ini tampak acak, tanpa pola yang mudah dibaca.

Pesan-pesan “pengorbanan” yang diterima Ewa membuatnya gelisah. Hingga akhirnya, suatu sore Igor, Hamid, dan Ewa bertemu di sekitar pantai Cannes. Awalnya hanya seperti pertemuan biasa. Hamid memberi kesempatan Igor menyampaikan isi hatinya. Namun kesadaran bahwa Ewa tak akan pernah kembali membuat obsesi Igor runtuh. Tragedi pun terjadi, dan Ewa serta Hamid menjadi korban terakhirnya.

Kisah berakhir tanpa pelaku yang benar-benar terungkap jelas di hadapan publik, meninggalkan kesan horor di tengah gemerlap dunia mode dan festival. Igor merasa dirinya bukan pembunuh berantai, melainkan pembebas jiwa-jiwa yang terkurung. Ia menganggap tindakannya memiliki tujuan.

Namun sebagai pembaca, saya justru cukup gemas. Mengapa polisi begitu lamban? Mengapa tidak menyewa detektif profesional ketika korban terus berjatuhan di kota sekecil itu? Selain itu, Igor seolah diberi pembenaran dalam logikanya sendiri. Penulis juga mengungkap berbagai jenis racun dan cara membunuh dengan cukup detail, yang bagi saya terasa mengganggu dan berisiko disalahgunakan oleh pembaca yang tidak bijak.

Meski demikian, novel ini tetap menjadi kritik tajam terhadap dunia hiburan yang gemerlap namun rapuh. Di balik kemenangan dan sorotan kamera, para pemenang itu ternyata benar-benar berdiri sendiri.

Identitas Buku

Judul: Sang Pemenang Berdiri Sendirian (The Winner Stands Alone)
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2008 (edisi asli), 2009 (Indonesia)
Tebal: 472 halaman
ISBN: 9789792248289 / 9789792299625 (edisi baru)
Genre: Fiksi, novel terjemahan