Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Bripda MS (Bidik layar/Instagram)
Fauzah Hs

Sobat Yoursay, pernahkah terbayang dalam benak kita bahwa perlengkapan pelindung yang seharusnya digunakan untuk keselamatan justru berubah menjadi instrumen kematian? Tragedi yang menimpa Arianto Tawakal, seorang remaja berusia 14 tahun di Kota Tual, Maluku, benar-benar menyentak nurani kita semua.

Bagaimana mungkin seorang anak di bawah umur harus meregang nyawa akibat ayunan helm taktikal milik anggota Korps Brimob? Kasus ini mengungkap adanya salah penempatan dan salah penanganan pasukan paramiliter di ruang publik kita.

Brimob bukanlah polisi "biasa" yang kita temui di perempatan jalan untuk mengatur lalu lintas. Mereka adalah pasukan elite, unit paramiliter dengan kualifikasi tempur tinggi, yang dilatih untuk menghadapi kerusuhan massa skala besar, terorisme, hingga konflik bersenjata di medan yang berat. Kurikulum pelatihan mereka dirancang dengan intensitas tinggi untuk melumpuhkan lawan. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika pasukan dengan mentalitas tempur ini diterjunkan untuk menangani urusan keamanan dan ketertiban masyarakat atau Kamtibmas harian, seperti membubarkan balap liar atau sekadar patroli wilayah pemukiman.

Instruksi Kapolri yang meminta kasus ini diusut tuntas memang memberikan sedikit angin segar, namun desakan dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) jauh lebih penting untuk kita diskusikan, Sobat Yoursay.

YLBHI menuntut agar Brimob ditarik dari urusan-urusan yang bersinggungan langsung dengan warga sipil dalam konteks Kamtibmas biasa. Mengapa ini penting? Karena ada ketimpangan pendekatan yang sangat tajam.

Warga sipil, apalagi remaja seperti mendiang Arianto, membutuhkan pendekatan humanis, persuasif, dan edukatif. Sebaliknya, karakteristik pasukan khusus cenderung menggunakan pendekatan kekuatan yang terukur untuk "musuh".

Sobat Yoursay, mari bayangkan situasinya. Di satu sisi ada remaja 14 tahun dengan segala kenaifannya, dan di sisi lain ada aparat dengan perlengkapan tempur lengkap. Mengayunkan helm baja ke arah pelipis anak kecil jelas bukanlah bentuk penegakan hukum.

Helm taktikal atau helm baja dirancang untuk menahan benturan peluru atau serpihan ledakan, bobotnya sangat berat dan materialnya sangat keras. Menggunakannya untuk memukul kepala manusia adalah tindakan yang menunjukkan hilangnya akal sehat dan gagalnya kontrol diri. Hal ini membuktikan bahwa doktrin militeristik yang melekat pada pasukan khusus sering kali tidak kompatibel dengan penanganan konflik ringan di tengah masyarakat.

Kita perlu mendorong adanya demiliterisasi dalam penanganan ketertiban di ruang publik. Polisi umum seharusnya menjadi garda terdepan yang lebih mengedepankan komunikasi ketimbang unjuk kekuatan fisik. Penurunan pasukan Brimob untuk tugas-tugas sepele di pemukiman warga justru menciptakan suasana mencekam, bukannya rasa aman.

Tentu kita setuju bahwa balap liar atau keributan warga perlu ditertibkan, tapi bukan dengan cara-cara yang mencabut nyawa. Jika penanganan kamtibmas terus diserahkan kepada unit dengan insting tempur, maka tragedi di Maluku ini sangat mungkin terulang di tempat lain.

Kita tidak boleh membiarkan normalisasi kekerasan aparat terus terjadi hanya karena alasan "sedang bertugas". Tugas polisi adalah melindungi nyawa, bukan malah menghilangkannya dengan alasan yang dicari-cari.

Sobat Yoursay, Brimob harus dikembalikan ke fungsinya sebagai pasukan cadangan pusat yang hanya digunakan untuk situasi darurat yang tidak bisa diatasi oleh polisi umum. Penempatan mereka dalam urusan harian masyarakat sipil adalah sebuah kesalahan manajemen keamanan yang fatal.

Kita harus menuntut agar tidak ada lagi nyawa anak bangsa yang melayang hanya karena seorang aparat gagal membedakan mana medan perang dan mana jalanan kota tempat anak-anak bermain.

Kematian Arianto Tawakal harus menjadi pelajaran teramat mahal bagi institusi Polri. Harus ada keberanian untuk mengevaluasi doktrin dan aturan pelibatan pasukan Brimob di wilayah sipil.

Jangan sampai helm baja yang dibeli dari uang pajak rakyat justru digunakan untuk meremukkan pelipis anak-anak rakyat itu sendiri. Bagaimana menurut Sobat Yoursay, apakah kamu merasa lebih aman atau justru lebih cemas saat melihat pasukan dengan perlengkapan tempur lengkap berpatroli di lingkungan rumahmu?

Keadilan bagi Arianto bukan hanya memenjarakan pelaku, tapi memastikan bahwa tidak ada lagi "Bripda MS" lain yang membawa mentalitas tempur ke hadapan warga sipil. Saatnya memulangkan pasukan khusus ke barak, dan mengembalikan ruang publik kita kepada pendekatan yang lebih manusiawi.