Dubai sering kali dipandang dari ciri khas gedung pencakar langitnya yang begitu tinggi. Namun, saat bulan suci tiba, kota ini memiliki sisi lain yang lebih tenang. Melalui musim kebersamaan atau Season of Wulfa, Dubai mengundang kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk modernitas dan meresapi Ramadan melalui pengalaman indra yang mendalam.
Bagi wisatawan Indonesia, suasana ini akan terasa akrab dengan sedikit keunikan tersendiri. Berikut adalah cara menikmati sisi teduh Dubai yang akan membuat perjalanan Anda lebih dari sekadar wisata biasa.
Visual: Hijau-hijau Menenangkan di Quranic Park
Di Quranic Park, indra penglihatan Anda akan dimanjakan oleh hamparan taman seluas 64 hektare. Taman ini bukan sekadar ruang terbuka hijau, melainkan pusat edukasi nilai-nilai Islam.
Di sini, pengunjung dapat melihat 51 jenis tanaman yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Berjalan di antara kebun buah dan danau, atau mengeksplorasi Cave of Miracles dan Glass House yang memberikan perspektif visual tentang nilai perdamaian dan toleransi.
Sentuhan: Desir Angin Sore di Atas Abra
Salah satu cara terbaik menemukan wajah asli Dubai adalah dengan menyusuri Deira Creek. Sentuhan angin laut terasa sejuk ketika Anda menaiki Abra, perahu kayu tradisional, menuju kawasan Al Ras. Getaran kayu perahu dan percikan air sungai menciptakan koneksi dengan sejarah Dubai sebagai kota pelabuhan, memberikan ketenangan sebelum keriuhan berbuka dimulai.
Suara: Gema Tradisi di Balik Ikon Modernitas
Saat matahari mulai terbenam, telinga Anda akan menangkap suara yang paling ikonik di Dubai, yakni dentuman meriam Ramadan. Meski terjadi di bawah bayang-bayang Burj Khalifa yang megah, suara dentuman ini menjadi pengingat spiritual yang telah ada selama puluhan tahun.
Pengalaman yang lebih meriah dapat ditemukan di Hai Ramadan, Expo City Dubai. Di sini, suara meriam menyatu dengan keriuhan pasar tradisional (souk) dan pertunjukan cahaya yang dapat menciptakan harmoni antara masa lalu dan budaya kontemporer dalam satu destinasi.
Rasa & Aroma: Dari Rempah Al Ras hingga Lumeran Kunafa
Ramadan adalah tentang rasa yang menyatukan. Dengan mengikuti Dubai Souks Iftar Tour dari Frying Pan Adventures, Anda bisa menghirup aroma roti segar dari toko roti tradisional di kawasan tua Al Ras yang menggoda indra penciuman Anda.
Puncaknya adalah mencicipi Kunafa autentik. Lapisan pastry kataifi yang renyah dan berwarna keemasan, membungkus keju lembut yang meleleh, ditambah dengan siraman sirup manis. Mencicipi versi aslinya langsung di pasar malam Ramadan Street Food Festival memberikan sensasi yang berbeda dari sekadar melihatnya viral di media sosial.
Bagi yang menginginkan ketenangan, Bulgari Resort Dubai menawarkan suasana elegan. Di sini, aroma masakan Mediterania berpadu dengan desain interior yang indah, menciptakan momen penutup sahur yang intim di bawah langit Dubai.
Ramadan di Dubai membuktikan bahwa di balik kemegahan bangunannya, detak jantung kota ini tetap menjadi kebersamaan dan tradisi yang hangat.
Baca Juga
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Menolak Romantisasi Seni Gratisan yang Mematikan Seniman: Jeritan Jaran Abang dari Kota Budaya
-
GIVERS: Menjembatani Ketimpangan, Membawa Senyum Melalui Surplus Pangan
-
Silent Book Club Jakarta: Cara Baru Menuntaskan Buku di Tengah Keramaian
-
River Ranger Jakarta Pilih Tersesat di Pedalaman Demi Solusi Warga, Kenapa?
Artikel Terkait
-
Teman Berjalan Jadikan Ramadan Ruang Tumbuhkan Empati dan Kebersamaan
-
Ramadan di Tengah Budaya Konsumtif yang Tinggi
-
Cara Harita Nickel Gerakkan Roda Ekonomi Kerakyatan
-
Kilau Berkah Ramadan: Tring! by Pegadaian Hadirkan Festival Seru di 10 Kota Besar Indonesia
-
5 Macam Salat Qiyamul Lail dan Keutamaannya
Ulasan
-
Gamers Tidak Selalu Gagal: Perspektif Baru dari Dear Parents
-
Boyfriend on Demand: Kala AI Terasa Lebih Nyata daripada Manusia
-
No Place to Be Single, Alasan Kota Kecil Selalu Cocok untuk Film Romantis
-
Boogle Personality dalam Film 'Swapped': Berpura-PuraBaik Ternyata Busuk
-
Review Bungkam Suara: Satire Tajam J.S. Khairen tentang Ilusi Kebebasan
Terkini
-
Kenapa Orang Rela Antre demi AP x Swatch? Fenomena FOMO dan Budaya Luxury
-
Kenapa Baca Banyak Buku Tidak Otomatis Membuat Seseorang Pandai Menulis?
-
Dilema Finansial Perempuan: Gaji Tak Seberapa, Ekspektasi Setinggi Langit
-
Sisa 1 Hari Lagi, Marapthon Siapkan Konser Closing Besar di Istora Senayan
-
Budaya Belanja Generasi Sekarang: Antara Self-Reward dan Self-Destruction