Sobat Yoursay, ada satu hal yang terasa berubah pelan-pelan di dunia sekolah kita. Dulu, kalau ada salah paham antara guru, murid, dan orang tua, penyelesaiannya sering terjadi di ruang kepala sekolah, di kursi plastik yang disusun melingkar, dengan nada suara yang naik turun tapi masih menyisakan ruang untuk saling memahami.
Namun hari ini, jarak dari ruang kelas ke meja pelaporan terasa jauh lebih pendek. Seolah konflik kecil kini punya jalur cepat menuju ranah hukum.
Kasus Bu Budi di Tangerang menjadi contoh dari fenomena ini. Sebuah nasihat umum tentang kepedulian dan tanggung jawab di kelas berubah menjadi rangkaian laporan ke berbagai instansi, hingga kepolisian.
Padahal, dari keterangan saksi, tidak ada kata kasar, tidak ada penunjukan individu, bahkan hasil pendampingan tidak menunjukkan trauma pada murid. Namun proses hukum tetap berjalan, permintaan maaf belum diterima, dan hubungan yang tadinya sederhana antara guru dan orang tua berubah menjadi hubungan formal penuh kehati-hatian.
Sobat Yoursay, mengapa mediasi terasa semakin jarang dipilih sebagai jalan pertama? Apakah kita semakin kehilangan kesabaran untuk duduk bersama dan mendengar versi masing-masing?
Budaya pelaporan sebenarnya datang dari kebutuhan akan perlindungan. Tidak semua guru benar, tidak semua sekolah aman. Ada kasus kekerasan yang memang harus ditangani secara tegas. Namun yang mengkhawatirkan adalah ketika semua konflik, tanpa melihat konteks, langsung dianggap layak masuk jalur hukum. Seolah dialog menjadi opsi terakhir, bukan yang pertama.
Emosi yang muncul di rumah setelah mendengar cerita anak bisa langsung diterjemahkan menjadi tindakan resmi. Orang tua merasa perlu bergerak cepat demi melindungi anaknya.
Di sisi lain, guru sering kali tidak diberi ruang cukup untuk menjelaskan niat dan konteks. Dalam situasi seperti ini, mediasi yang seharusnya menjadi jembatan justru kalah oleh dorongan untuk mencari kepastian melalui otoritas hukum.
Padahal, sekolah adalah ruang sosial tempat anak belajar menghadapi perbedaan, menerima koreksi, dan memahami bahwa tidak semua pengalaman menyenangkan berarti tidak adil. Ketika setiap ketidaknyamanan diterjemahkan sebagai pelanggaran, kita berisiko menciptakan generasi yang tumbuh tanpa keterampilan menyelesaikan konflik secara sehat.
Sobat Yoursay, bayangkan posisi guru dalam situasi seperti ini. Setiap kata harus ditimbang, setiap ekspresi harus dikontrol, setiap teguran berpotensi menjadi bukti. Lama-lama, mengajar bukan lagi soal mendidik, tapi soal bertahan. Ketika rasa takut lebih dominan daripada rasa tanggung jawab, kualitas interaksi di kelas ikut berubah. Guru bisa memilih aman dengan diam. Tapi apakah itu yang kita inginkan?
Mediasi sebenarnya bukan konsep baru dalam pendidikan Indonesia. Banyak sekolah dulu memiliki budaya musyawarah yang kuat. Orang tua dipanggil, guru menjelaskan, murid diberi kesempatan bicara, dan solusi dicari bersama.
Tidak selalu mulus, tapi ada upaya untuk menjaga relasi. Sekarang, rasa percaya itu tampak menipis. Ada kecenderungan melihat konflik sebagai pertarungan menang atau kalah, bukan proses belajar bersama.
Menariknya, kasus Bu Budi juga menunjukkan adanya dukungan publik yang besar terhadap guru. Puluhan ribu orang menandatangani petisi sebagai bentuk solidaritas. Ini menandakan masyarakat sebenarnya masih menghargai peran guru.
Namun di sisi lain, kasus ini juga membuka fakta bahwa mekanisme komunikasi antara sekolah dan orang tua belum cukup kuat untuk mencegah konflik berkembang sejauh itu.
Sobat Yoursay, mungkin kita perlu menata ulang fungsi mediasi di lingkungan pendidikan. Mediasi bukan berarti mengabaikan kesalahan, tapi memberi ruang bagi semua pihak untuk memahami perspektif satu sama lain. Anak belajar bahwa konflik bisa diselesaikan tanpa permusuhan. Orang tua belajar bahwa niat guru tidak selalu seburuk yang dibayangkan. Guru pun belajar cara menyampaikan nasihat dengan lebih sensitif.
Jika jalur hukum menjadi pilihan pertama, ada risiko hubungan antara sekolah dan keluarga berubah menjadi hubungan transaksional. Semua pihak menjadi defensif. Tidak ada yang benar-benar merasa aman. Padahal pendidikan membutuhkan rasa percaya yang tidak bisa dibangun di atas ketakutan.
Sobat Yoursay, mungkin kita perlu jujur bahwa konflik di sekolah tidak akan pernah hilang. Selama ada manusia, akan selalu ada perbedaan persepsi dan emosi. Namun cara kita menyikapi konflik itulah yang menentukan kualitas pendidikan kita.
Kasus Bu Budi bisa menjadi pengingat bahwa mediasi bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan sosial. Memberi kesempatan untuk berdialog bukan berarti mengabaikan hak anak, melainkan memastikan semua pihak diperlakukan adil. Karena di balik setiap konflik di sekolah, ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang benar dan siapa yang salah.
Baca Juga
-
Pidato Progresif, Anggaran Pasif: Ironi Pendidikan di Tangan Prabowo
-
Nasihat Berujung Polisi: Kronologi Kasus Bu Budi dan Masa Depan Guru
-
Motor dan Modal Usaha: Empati yang Menenangkan, tapi Apakah Menyelesaikan?
-
Vonis Tanpa Bukti Lab: Saat Laporan Warga Jadi Senjata Intimidasi Aparat
-
Makin Dewasa, Makin Datar: Mengapa Ulang Tahun Tak Lagi Terasa Spesial?
Artikel Terkait
-
Kunjungi SRMP 1 Deli Serdang, Gus Ipul Pastikan Sekolah Rakyat Ramah Disabilitas
-
Viral Ustaz Mengajar 85 Anak Tanpa Bayaran, Rela Lapar dan Hampir Terusir dari Kontrakan
-
Wamensos Agus Jabo Ajak PWI Gaungkan Program Sekolah Rakyat
-
Guru dan Cahaya Kecil yang Tak Pernah Padam
-
Polisi Setop Penyelidikan Kasus Guru di Tangsel, Dugaan Kekerasan Psikis Tak Terbukti!
Kolom
-
Banjir yang Tak Pernah Usai: Kota, Beton, dan Kekalahan Berulang
-
Pemulihan Aceh Pascabencana: Ini Suara untuk Negara yang Lambat Bertindak!
-
Di Balik Persaingan Ketat dan Banyaknya Jalur Masuk ke Perguruan Tinggi
-
Ketika Berita Ramai Dibaca tapi Kehilangan Makna
-
Pidato Progresif, Anggaran Pasif: Ironi Pendidikan di Tangan Prabowo
Terkini
-
Polemik Transfer Maarten Paes: Dianggap Mahal untuk Seorang Kiper Pelapis!
-
4 Film Korea Tayang Februari 2026, Comeback Choi Woo Shik hingga Zo Insung
-
Sparks of Tomorrow Siap Tayang Juli, Pencarian Buku Katalog Listrik Dimulai
-
3 Drama Korea Bertema Hukum yang Tayang di Awal Tahun 2026, Terbaru Honour
-
Sinopsis Mercy, Film Thriller yang Mengungkap AI Jadi Hakim Keadilan