Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Ilustrasi Guru dan Cahaya (Gemini AI)
Angelia Cipta RN

Menjadi seorang guru, mungkin terdengar sangat menyenangkan. Tapi, tidak demikian. Banyak hal yang harus dilakukan, banyak kegiatan yang dijalankan hingga banyak pikiran yang harus diselesaikan. Ini bukan mengeluh, tapi mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan dalam dada.

Hari pertama Aruna mengajar dimulai dengan listrik mati. Pengalaman menyebalkan tetapi dipaksa untuk tetap bersabar.

Kelas gelap, kipas angin berhenti, suasana kelas semakin panas dan tiga puluh murid ribut seperti pasar kecil. Ia berdiri di depan papan tulis sambil memegang spidol yang tidak bisa digunakan. Sekolah itu berada di ujung kota, bangunannya tua, catnya pudar, dan ruangannya selalu terasa setengah lelah.

Ia bisa saja menyerah pagi itu. Banyak orang sebelumnya menyerah karena menjadi seorang guru tak mudah jika hanya berpegang uang gaji sebulan. Tapi, Aruna tidak datang sejauh ini untuk menyerah begitu saja.

Ia menepuk tangan keras.

“Kalau listrik mati,” katanya, “kita pakai matahari.”

Anak-anak tertawa keras seakan apa yang diucapkan gurunya terdengar aneh.

Ia membuka jendela selebar mungkin. Cahaya masuk seperti tamu yang terlambat tapi disambut hangat. Debu beterbangan, suara burung ikut masuk, dan untuk pertama kalinya kelas itu terasa hidup.

Aruna menulis dengan kapur.

Tulisannya jelek dan tidak lurus. Anak-anak menertawakan. Ia ikut tertawa. Tapi, di situlah pelajaran pertama dimulai sekolah tidak harus menakutkan.

Ia memilih menjadi guru bukan karena itu cita-cita masa kecilnya. Justru sebaliknya. Ia dulu benci sekolah. Baginya sekolah adalah tempat orang-orang pintar membuat orang lain merasa kecil.

Sampai suatu hari ia bertemu Pak Rahman, guru favoritnya. Pak Rahman tidak pernah membuatnya merasa bodoh. Ia membuatnya menjadi siswa yang lebih percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Setiap kali Aruna gagal, Pak Rahman selalu berkata, “Bagus. Artinya kamu mencoba. Supaya lebih baik, kamu harus terus mencobanya.”

Kalimat itu sederhana, tapi seperti jembatan di atas jurang rasa tidak percaya diri. Aruna menyeberang pelan-pelan. Tahun demi tahun ia berubah dari anak yang takut bicara menjadi anak yang berani bermimpi.

Hingga pada suatu hari ia sadar ia ingin menjadi seseorang seperti Pak Rahman. Seseorang yang menyalakan lampu di kepala orang lain. Seseorang yang bisa membangun kepercayaan pada bakat orang lain dan seseorang yang bisa memberikan inspirasi bagi orang lain.

Sekolah tempat Aruna mengajar penuh anak yang terbiasa dianggap “biasa saja”. Anak buruh, anak pedagang kaki lima, anak yang datang dengan sepatu robek dan perut setengah kenyang.

Mereka tidak kekurangan kecerdasan. Mereka hanya kekurangan orang yang dapat dipercaya.

Di baris paling belakang duduk seorang anak bernama Fajar. Rambutnya selalu acak, bajunya jarang rapi, dan matanya menyimpan kewaspadaan seperti hewan kecil yang terbiasa disalahkan.

Fajar tidak pernah mengerjakan tugas. Guru lain sudah menyerah dengan tabiatnya.

“Anak itu malas,” kata mereka.

Aruna duduk di sampingnya suatu siang.

“Kamu nggak suka pelajaran?” tanyanya

Fajar mengangkat bahu, “Percuma,” katanya pelan. “Saya tetap nggak bakal jadi apa-apa, Bu.”

Kalimat itu membuat Aruna terdiam. Tidak ada anak yang lahir dengan pikiran seperti itu. Kalimat itu ditanam oleh seseorang. Dipupuk oleh keadaan. Disiram oleh kegagalan yang berulang.

Aruna menatapnya lama, “Kamu tahu lampu?” tanyanya.

Fajar bingung.

“Lampu kecil bisa bikin ruangan gelap jadi terang. Kamu nggak perlu jadi matahari. Cukup jadi lampu kecil saja bagi hidupmu.”

Fajar tidak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya, ia mendengarkan nasihat Aruna.

Hari berikutnya Aruna membawa satu kotak kecil ke kelas. Di dalamnya ada kertas warna-warni.

“Ini kotak kemenangan,” katanya. “Setiap kali kalian berhasil melakukan hal kecil, tulis di kertas dan masukkan ke sini.”

Anak-anak kebingungan,

“Hal kecil apa, Bu?”

“Datang tepat waktu. Mengerti satu soal. Membantu teman. Apa saja. Pokoknya hal baik yang sudah kamu semua lakukan dalam satu hari.”

Mereka menganggap itu permainan. Tapi, lama kelamaan kotak itu mulai penuh.

Hari pertama hanya dua kertas. Hari kedua lima. Minggu berikutnya kotak itu tidak bisa ditutup.

Aruna membacakan beberapa isi kertas tanpa menyebut nama dari si pengirim.

“Saya berani bertanya hari ini.”

“Saya tidak menyerah waktu susah.”

“Saya membantu teman yang jatuh.”

“Saya bisa mengerjakan soal matematika yang rumit”

Seluruh kelas menjadi hening. Anak-anak mendengar versi terbaik dari diri mereka sendiri. Tapi, hanya ada satu siswa yang tak pernah menulis pencapaiannya, ya, dia adalah Fajar.

Sampai suatu hari Aruna menemukan kertas kecil dengan tulisan miring, “Saya tidak tidur di kelas hari ini.” Itu saja.

Tapi Aruna menaruh kertas itu di atas kotak seperti piala. Keesokan harinya Fajar mengangkat tangan. Pertanyaan sederhana. Jawaban setengah benar. Tapi, membuat satu kelas bertepuk tangan.

Wajahnya merah. Matanya bersinar. Perubahan tidak datang seperti ledakan. Perubahan datang seperti matahari pagi pelan, konsisten, tidak bisa dihentikan.

Tahun pertama Aruna mengajar terasa seperti menanam benih di tanah keras. Banyak yang tidak tumbuh. Banyak yang layu. Ia pulang berkali-kali dengan rasa gagal. Lalu suatu sore, seorang ibu datang menemuinya. Itu ibu Fajar.

Perempuan itu menggenggam tangan Aruna erat.

“Terima kasih,” katanya dengan suara pecah. “Anak saya sekarang mau belajar. Dia bilang ada guru yang percaya sama dia.”

Aruna tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum dan di dalam hatinya, sesuatu hal mulai membuat dirinya kuat. Ia mengerti bahwa guru tidak selalu melihat hasilnya langsung. Tapi hasil itu tumbuh diam-diam di rumah orang lain.

Tahun-tahun berlalu. Murid datang dan pergi seperti musim yang terus berganti.

Ada yang kembali membawa kabar baik. Ada yang kembali membawa luka. Aruna menerima semuanya dengan lapang dada. Ia tidak bisa menyelamatkan semua orang. Tapi ia bisa hadir untuk setiap orang.

Suatu hari setelah beberapa tahun lamanya, sekolah mengadakan reuni kecil. Mantan murid berdatangan. Suara tawa memenuhi koridor yang dulu sunyi. Seorang pria muda berdiri di depan Aruna. Ia membawa kotak kayu kecil.

“Ibu, ingat saya?” tanya seorang pria muda dengan wajah yang sumringah di depan Aruna.

Aruna hanya mengernyitkan dahi.

“Ini saya Fajar, Bu.”

Aruna menutup mulutnya kaget. Fajar tersenyum lebar.

“Saya sekarang teknisi listrik,” katanya. “Saya suka lampu. Saya ingat kata Ibu waktu itu.”

Ia membuka kotak itu ternyata di dalamnya ada lampu kecil menyala.

“Saya pasang lampu gratis di rumah orang yang nggak mampu,” katanya pelan. “Supaya mereka nggak gelap dan bisa melihat terangnya dunia, Bu.”

Air mata Aruna jatuh sebelum ia sempat menahannya. Hal kecil. Kalimat kecil. Kotak kecil. Lampu kecil dan membuat dunia berubah.

Tidak dalam berita. Tidak dalam sejarah besar. Tapi di rumah-rumah yang sekarang terang.

Di kepala anak-anak yang sekarang percaya diri. Di hati orang-orang yang memilih bertahan.

Malam itu Aruna berdiri sendirian di kelas setelah semua pulang. Ia menyalakan lampu. Ruangan kosong itu hangat.

Ia teringat dengan sosok Pak Rahman. Ia teringat dirinya yang dulu yang menganggap hidupnya adalah rantai cahaya yang diteruskan dari satu orang ke orang lain.

Guru bukan pekerjaan yang membuat dunia gemetar. Guru adalah pekerjaan yang membuat dunia menyala.

Pelan. Diam-diam. Tapi selamanya. Aruna pun tersenyum, karena ia tahu ia tak perlu menjadi matahari, tapi cukup menjadi lampu kecil yang tidak pernah padam dan itu sudah mengubah segalanya.