Bulan Ramadan seharusnya menjadi bulan penuh berkah dan memiliki makna yang berbeda bagi setiap umat Islam di mana pun berada.
Namun tidak demikian halnya dengan saya. Kedatangan bulan Ramadan justru menghadapkan saya pada perasaan ngenes yang berlipat ganda.
Sebagai seorang ayah yang bekerja cukup jauh dari keluarga, kedatangan bulan Ramadan kerap kali menambah rasa nelangsa di hati kecil saya.
Bagaimana tidak, waktu yang seharusnya menjadi momen penuh makna dan keberkahan bersama keluarga, justru lebih banyak terlewatkan karena jarak yang memisahkan antara saya dengan keluarga.
Hal ini tak lepas dari status LDM yang saya jalani beberapa tahun ini. Sebagai seorang pekerja yang gajinya berasal dari uang pajak masyarakat, tentunya saya harus patuh dan tunduk kepada apa yang telah ditetapkan oleh negara, termasuk di dalamnya memenuhi ketentuan bersedia untuk ditempatkan di mana pun.
Dan inilah yang terjadi. Semenjak enam tahun lalu, negara menempatkan saya di sebuah sekolah yang berada di bilangan wilayah Kabupaten Rembang bagian timur yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, tempat saya bekerja hanya berjarak satu kecamatan saja dari perbatasan dengan Jawa Timur.
Sementara istri dan anak, tetap stay di Kabupaten sebelah yang secara administrasi sudah masuk ke Provinsi Jawa Timur karena berbagai pertimbangan. Memang, secara jarak, rentangan antara tempat kerja dan rumah hanya berada di kisaran 75 km saja untuk sekali jalan.
Perjalanan yang ditempuh pun sejatinya tak terlalu lama, hanya sekira 1,5-2 jam saja jika menggunakan motor pribadi. Sehingga, secara perhitungan, saya bisa saja setiap harinya melakukan perjalanan pulang-pergi demi untuk tetap bisa bersama keluarga.
Bukannya tak pernah aku lakukan, namun banyaknya risiko, mengingat perjalanan harus saya lakukan dengan melalui jalur Pantura Jawa ditambah dengan kondisi tubuh yang kadang tak sepenuhnya fit, membuat saya akhirnya lebih memilih untuk tinggal di daerah tempat saya bekerja dan pulang ke rumah ketika weekend atau hari-hari libur.
Terlebih lagi keluarga asli saya juga tinggal di daerah sini, sehingga pada hakikatnya, saya bekerja di daerah sendiri meskipun harus berpisah dengan anak dan istri yang memilih untuk menetap di kota sebelah.
Sebuah keputusan yang pada akhirnya membuat saya harus merasakan ngenes yang berganda setiap kali bulan Ramadan tiba.
Jika di hari-hari lainnya ngenes yang saya rasakan bisa dikatakan biasa-biasa saja karena hanya tak bisa bertemu setiap waktu dengan keluarga, namun tidak demikian halnya dengan ketika saat bulan Ramadan tiba.
Ketika di rumah-rumah lain seorang ayah tengah menikmati hangatnya waktu sahur bersama keluarganya, bercengkerama melepas beban sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba dan menikmati momen-momen beribadah bersama mereka, tidak demikian halnya dengan saya di sini.
Momen-momen yang penuh makna seperti itu sangat jarang bisa saya rasakan, karena alasan jarak yang memisahkan saya dengan anak-istri di kota lain tentunya. Sebuah keterbatasan yang tentunya tak bisa dengan serta-merta saya lawan, karena dampaknya bisa saja menyeret karier dan masa depan saya.
Jika diingat-ingat, di sepanjang guliran bulan Ramadan tahun 2026 ini, saya menghitung hanya sekitar enam atau tujuh kali saja bisa membersamai keluarga untuk sahur dan berbuka bersama.
Rinciannya, tiga hari pertama Ramadan karena bertepatan dengan libur dan cuti bersama sehingga saya tak berkewajiban untuk masuk kerja, kemudian tiga kali akhir pekan kemarin. Sementara sisanya, tentu saja aku jalani secara terpisah dengan keluarga karena harus masuk kerja dengan jarak puluhan kilometer dari rumah tempat tinggal.
Ngenes? Tentu saja iya. Suami mana sih yang ingin melewatkan momen-momen Ramadan bersama istrinya? Dan ayah mana pula sih yang ingin melewatkan kebahagiaan Ramadan yang tercipta ketika membersamai anaknya untuk sahur, berbuka puasa, salat tarawih, tadarus atau mungkin hal-hal kecil yang bisa mempererat emosi lainnya?
Sama sekali tak ada bukan?
Namun itulah, saat ini Ramadan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk terciptanya banyak momen membahagiakan bersama keluarga, kali ini masih harus saya jalani dengan ngenes, yang rasanya kian hari makin mengganda menjelang idulfitri tiba.
Baca Juga
-
Dapat Pekerjaan Baru, Patrick Kluivert Bakal Bikin Timnas Suriname Melesat Tajam! Tapi ke Mana?
-
Elkan Baggott Nyatakan Siap Comeback, Justin Hubner Harus Siap Jadi Tumbal The Big Elk!
-
Bagi LOSC Lille, Calvin Verdonk Belakangan Ini Tak Ubahnya Penjelmaan Dewi Fortuna Versi Lite
-
Sepertiga Akhir Ramadan dan Muslim Indonesia yang Harus Berjuang Lebih Keras Berburu Lailatul Qadar
-
Batasan Kontestan Asian Games Dicabut, John Herdman Urung Jadi Pengangguran Parsial
Artikel Terkait
-
Berkah Ramadan! Bhayangkara FC Jadi Satu-Satunya Tim Sempurna dengan Sapu Bersih 4 Laga Beruntun
-
Niat Puasa Qadha Ramadan: Pengertian dan Aturan Qadha dalam Islam
-
Melayani Sepenuh Hati, Bank Mandiri Salurkan Program Sosial Bagi Lebih dari 114.000 Penerima Manfaat
-
Niat Membayar Fidyah Puasa dengan Beras, Berapa Besarannya?
-
Sakit di Penghujung Ramadan, Benarkah Tanda Dosa Dihapus?
Kolom
-
Ketika Ucapan Idulfitri Diwakili oleh Mesin Kecerdasan Buatan
-
Belajar Melepaskan: Bagaimana Proses Decluttering Mengajarkan Kita Hidup Lebih Ringan
-
Kenapa Ide Kreatif Muncul Saat Kita Melamun dan Mau Tidur?
-
Pragmatis atau Inkonsisten? Membaca Gaya Bebas Ekonomi ala Prabowo
-
Mudik Bukan Sekadar Pulang, tapi Sekolah yang Sarat Nilai Kehidupan
Terkini
-
Di Balik Larangan Medsos untuk Remaja: Ada Bahaya Konten Kekerasan, Hoaks, dan Bullying Online
-
Menjadi Ibu pun Tetap Bisa Menjadi Diri Sendiri: Ulasan Buku Empowered ME
-
Harga Anjlok! 7 HP Samsung Galaxy S Series Ini Wajib Masuk Wishlist
-
Ketika Hutan Tak Lagi Aman: Nasib Badak Kalimantan Kini di Ujung Tanduk Harapan
-
5 Rekomendasi Bumbu Rendang Instan Terbaik, Masak Lebaran Jadi Sat-set!