M. Reza Sulaiman | Aryo Akhmad Maulana
Ilustrasi buku jurnal dan secangkir teh (pexels.com/Katya Wolf)
Aryo Akhmad Maulana

Berapa banyak video pendek yang kamu tonton dalam satu sesi scrolling? Banyak dan sulit dihitung. Bahkan, mungkin saja 10 video terakhir yang kamu tonton sudah pergi dari ingatan. Secepat inilah media sosial menciptakan 'surga' bagi kita, tetapi secepat itu pula ia berubah menjadi 'neraka' yang menyiksa pikiran kita.

Sadarkah kamu? Alih-alih menenangkan pikiran, scrolling sebelum tidur justru sering memunculkan masalah baru: overthinking, insecure, dan jam tidur yang makin kacau. Tunggu, apa kamu merasa relate dengan ini? Jika iya, sudah saatnya kamu mengganti aktivitasmu sebelum tidur, yang tidak hanya menjauhkanmu dari emosi negatif, tetapi juga meredakan pikiran berisik yang sering menghampiri.

1. Kenapa Kita Harus Membatasi Media Sosial Sebelum Tidur?

Bagi sebagian orang, terutama generasi muda, berselancar di internet menjadi ritual wajib sebelum tidur. Harapannya, rutinitas ini bisa menjadi pelampiasan setelah berjibaku dengan hiruk-pikuk kehidupan dewasa. Namun, apakah selalu berakhir demikian?

Ikon love yang berubah warna saat ada video lucu. Bunyi 'tik' keyboard yang bersahutan saat jarimu berbicara. Pesawat kertas yang meluncur sebagai wujud sedekah konten.

Itu semua memang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Namun, itu hanya bertahan sejenak sampai kita sadar bahwa jarum jam di dinding sudah berbaris vertikal. Saat itu pula semua perasaan bahagia yang dihasilkan berubah menjadi penyesalan, atau mungkin kecemasan, karena telah menjual waktu tidur dengan siklus semu yang membuat kita pura-pura bahagia.

Dilansir The Conversation, sebuah studi yang dilakukan Brian Chin, asisten profesor psikologi di Trinity College Hartford, menunjukkan bahwa paparan blue screen dari gawai menghambat produksi melatonin. Melatonin adalah hormon yang bertugas memberi sinyal pada tubuh jika sudah waktunya untuk tidur. Jika produksinya terganggu, tubuh akan tetap terjaga dan mungkin akan mengalami insomnia jika berkelanjutan.

Tidak ada yang salah dengan berselancar di internet. Namun, jika itu dilakukan dalam jangka waktu 30 menit sebelum tidur, sudah saatnya kita merenungkan kembali keputusan itu.

2. Jurnaling, Alternatif Meredam Suara Berisik di Malam Hari

Selamat datang di era jurnaling. Aktivitas klise yang sudah ada jauh sebelum kamu lahir ke dunia, tetapi ia masih bertahan sampai saat ini. Jurnaling sebelum tidur punya manfaat lebih banyak daripada scrolling. Ia tidak menjanjikan kebahagiaan instan, justru terkadang bisa sedikit melukai kita. Itu bukan karena ia jahat, melainkan karena jurnaling menjadikan kita menelisik kembali luka lama yang kita pendam dan belum sembuh seutuhnya.

Menulis jurnal terasa relate karena apa yang kita tulis memang berasal dari cerita kita sendiri, bukan cerita orang lain yang—menurut kita—mirip dengan cerita kita. Saat menulis, kita tidak hanya lari dari suara berisik tersebut, tetapi juga mengubahnya menjadi tulisan yang penuh akan cerita autentik. Bahkan, jika dilakukan secara rutin, jurnaling bisa menjadi jalan untuk menemukan jati diri kita yang sesungguhnya.

3. Tidak Selalu tentang Estetika, Jurnaling Hadir untuk Menuangkan Rasa yang Selalu Dipendam

Selama ini, jurnaling identik dengan buku estetis yang dipenuhi stiker atau font warna-warni. Memang benar demikian jika itu dilakukan, kita bisa lebih semangat dalam menuliskan perasaan kita. Namun, bukan itu tujuan utama jurnaling.

Seperti yang telah disinggung di poin sebelumnya, menulis jurnal menjadi opsi mencurahkan isi kepala secara sehat. Maka dari itu, tidak masalah jika kamu menginginkan buku jurnal yang estetis. Namun, tidak menjadi dosa juga jika buku jurnalmu memiliki konsep minimalis.

Meskipun memiliki tampilan yang sederhana, apa yang ada di dalamnya justru sangat kompleks. Saat kita berinteraksi dengan pena dan buku jurnal, kita melibatkan proses emosi—bahkan, mungkin inspirasi—yang selama ini belum terkurung di pikiran kita. Singkatnya, utamakan fungsi, bukan gengsi.

Alih-alih menghabiskan waktu pratidur dengan scrolling tanpa arah, lebih baik beralih ke rutinitas baru yang lebih positif, menulis jurnal. Selain bisa menjaga jadwal tidur, ia juga bisa meredam kekacauan di dalam otak. Jadi, ambil alat tulismu dan mulailah menulis!