Bagi perempuan, menstruasi adalah fenomena alami yang terjadi sejak masa pubertas. Yakni peralihan masa kanak-kanak ke remaja. Tapi, kadang menstruasi bisa menimbulkan cinta dan benci lho. Aneh nggak tuh?
Melansir laman Alodokter, menstruasi adalah situasi dimana sel-sel telur di rahim meluruh karena nggak dibuahi. Hal ini adalah normal ya. Justru yang mengkhawatirkan itu kalau nggak mengalami menstruasi sama sekali.
Namun, satu individu dengan individu lain tentu memiliki waktu awal menstruasi yang berbeda. Ada yang usia 12 tahun, 13 tahun, atau aku pernah mendengar satu kasus unik yakni baru mengalami menstruasi pada kelas 1 SMA.
Buat kamu para perempuan yang beli pembalut, atau laki-laki yang membelikan pembalut entah untuk ibunya, saudarinya, atau istrinya, hal ini nggak tabu ya. Memang masih ada pandangan aneh di lingkungan ketika kita beli pembalut. Yang mana pandangan ini masih berjalan hingga sekarang. Namun, jangan malu. Toh, kita beli pembalut bersih nan steril dan bayar pakai uang kok!
Kemudian untuk yang pernah tembus saat menstruasi, aku sendiri sebagai perempuan tentu pernah. Apa yang bisa kita lakukan? Penting untuk membawa persiapan pembalut ganti, dan berganti setiap beberapa jam sekali. Atau kalau dirasa ‘penuh’, ya kita harus segera ganti.
Memang, masih ada orang-orang baik yang memberi tahu apabila kita tembus sih. Namun, tetap diri kita sendiri yang harus mengurusi perihal pembalut kan?
Percaya nggak percaya, bagi perempuan menstruasi adalah momentum yang asli bikin deg-degan. Meski kedatangannya rutin sebulan sekali, tetapi tidak melulu hadir pada tanggal yang sama. Bisa jadi di Januari hadir pada tanggal 3, di Februari hadir pada tanggal 5. Tentunya dengan waktu yang nggak sama. Mumet nggak tuh?!
Belum lagi, ada beragam hal yang bisa membuat pola menstruasi acak-acakan, salah satunya stress. Aku sendiri pernah telat dua bulan gara-gara stress dengan kerjaan, plus gejala tipes. Dan begitu menstruasi datang, leganya berasa menang lotre.
Banyak perempuan tentu bakal mengakui bahwa mereka cinta sekaligus benci sewaktu menstruasi datang. Sebab, datangnya menstruasi kerap dibarengi kram perut, nyeri punggung, kembung, kelelahan, nyeri otot (pengalaman pribadi), hingga perubahan mood yang ekstrim, yang dikemas dalam istilah PMS.
Nah, kalaupun sedang beraktivitas di luar rumah seperti bekerja atau sekolah, pasti rasa nggak nyaman itu hadir. Setiap kali duduk, pasti harus berhati-hati dan menyentuh rok guna mendeteksi adanya ‘tembus’. Belum lagi sewaktu batuk atau bersin, walah! Ngerti kan maksudnya?
Seperti apapun drama sewaktu menstruasi, nyatanya dia adalah tamu yang kita nantikan setiap bulan. Sesuatu yang kita tunggu-tunggu kalau sudah lewat tempo datangnya, meski baru telat satu atau dua hari.
Sebab, menstruasi adalah kompas alami bagi perempuan, sebagai tolok ukur kesehatan reproduksi. Bahkan sampai ada obat untuk memperlancar menstruasi, karena ya memang dia ini karakter utama dalam kehidupan setiap perempuan. Meski kadang agak bikin ribet sih.
Bagi yang sudah menikah, datangnya menstruasi menjadi penanda adanya kehamilan atau tidaknya. Sedangkan bagi yang belum menikah, menstruasi digunakan sebagai pemantau kesehatan. Yang ditakutkan, telatnya menstruasi justru sebagai tanda adanya penyakit reproduksi sih, seperti kista.
Yah, apapun keluh kesah para perempuan terhadap teman setianya itu, menstruasi adalah kodrat alami yang selalu ditunggu setiap bulan. Dia adalah penyampai pesan, kabar, dan momentum dari dalam tubuh perempuan sendiri. Sampai-sampai saking istimewanya, perempuan yang sedang menstruasi pun diizinkan nggak berpuasa.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Nikmatnya Sambal Pencit: Kuliner 'Survival' Low Budget yang Kini Jadi Menu Populer Restoran
-
Sisi Gelap Sound Horeg Agustusan: Antara Cuan Gacor dan Panci yang Ikut Bergetar
-
Pernikahan Arwah: Setting Lokasi dan Tradisi Otentik dengan Nuansa Brutal
-
'Binatang Jalang', Noda Chairul Anwar dalam Skema Korupsi Pakan Binatang
-
Derita Selisih Stock Opname Toko, saat Karyawan Jadi Samsak Omelan Bos
Artikel Terkait
-
Bagaimana Islam Memuliakan Perempuan? Ulasan Buku Karya Al-Buthi
-
6 Fakta Kasus Kekerasan Mahasiswa UNISA Yogyakarta, Pelaku Diduga Anak Kades Bima
-
UMKM Perempuan Masih Hadapi Tantangan, Pendampingan Jadi Kunci Keberlanjutan
-
5 Smartwatch yang Bisa Pantau Siklus Menstruasi, Praktis dan Stylish!
-
Dorong Pemberdayaan, Komunitas yang Hadirkan Ruang Aman Perempuan
Kolom
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?
-
Jangan Salahkan Attitude! Ini Alasan Logis Kenapa Gen Z Susah Cari Kerja
Terkini
-
"The Rock from the Sky" dan Pelajaran tentang Berani Menghadapi Perubahan
-
Flawless Tanpa Dempul! 3 Foundation Full Coverage Buat Tutupi Bekas Jerawat
-
Kang Edai dan Kemiren: Ketika Budaya Osing Menjadi Jalan Menuju Kesejahteraan Desa
-
Nyoman Nadiana, Les Grow, dan Astra: Modal Lokal VS Pendampingan Tepat
-
Usai Manon, Sophia KATSEYE Umumkan Hiatus Grup Demi Kesehatan Mental