Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Anak-anak melambaikan tangan dari jendela ruang kelas. (Pexels/muallim nur)
Fairus Farizki

Setiap kali skor PISA keluar, kita mendadak sibuk seperti hari pembagian rapor sekolah. Angka dibanding-bandingkan, lalu dengan gampang menyalahkan anak-anak kurang baca dan kebanyakan main HP, selesai. Padahal, data PISA terbaru yang dirilis pada Selasa (8/9/2026) kemarin membawa cerita yang lebih rumit daripada sekedar angka di papan klasemen sepak bola. 

Skor kita kali ini ada di angka 365 untuk membaca, 364 matematika, dan 389 sains. Dibanding tahun 2022, nilai membaca dan sains kita naik tipis 6 poin, sementara matematika turun 2 poin. Karena naiknya tipis, OECD bahkan menyebut perubahan ini belum signifikan secara statistik. Jadi, kita tak perlu buru-buru bikin slametan, tapi juga tidak usah langsung murung. 

Tantangan aslinya adalah jarak kita dengan rata-rata negara OECD yang masih terpaut jauh. Di saat rata-rata negara lain main di angka 460-an, kita baru 27% siswa yang menyentuh Level 2 dalam level dasar membaca. Melihat ini, tampaknya PR besar kita bukan cuma menyuruh anak-anak menjauhi layar gawai, melainkan bagaimana membangun daya tahan mereka untuk mencerna bacaan hingga tuntas.

Di sinilah PISA 2025 menjadi lebih menarik. Untuk pertama kalinya, asesmen ini mengukur CPS atau computational problem solving, yakni kemampuan memecahkan masalah menggunakan perangkat komputasional seperti pemodelan, pemrograman, analisis data, eksperimen, serta membangun dan memperbaiki produk digital. Skor Indonesia tak main-main mencapai 427, meskipun rata-rata OECD berada di angka 500. 

Itu artinya, di balik angka-angka yang bikin elus dada tadi, ada bakat terpendam dari anak-anak Indonesia. Data di atas menunjukkan sebagian siswa ternyata cukup lihai memakai perangkat digital untuk memecahkan masalah. Simpelnya, kalau urusan klik sana-klik sini mencari jalan keluar di handphone, anak-anak kita ini sebetulnya punya modal bakat yang lumayan jago. 

Masalahnya, menurut catatan OECD, kemampuan memecahkan masalah lewat digital itu juga harus seiring sejalan dengan ilmu sains, membaca, dan matematika. Ibarat kata, punya HP canggih dan kuota penuh itu bagus, tapi kalau tidak ada modal fondasi pengetahuan yang kuat di kepala, kita cuma jadi penonton yang kebingungan di belantara dunia digital. 

Persoalan ini tentu tidak adil kalau langsung ditimpakan begitu saja kepada anak-anak yang kecanduan main HP. PISA mengungkap bahwa hampir separuh siswa kita sebesar 47% berada di kelompok sosial-ekonomi terbawah skala internasional. Jarak nilai sains antara si kaya dan si miskin pun terpaut hingga 47 poin. Jadi, urusan pintar di sekolah ini ternyata bukan cuma soal anak malas atau rajin, tapi juga erat kaitannya dengan urusan isi dompet orang tua di rumahnya.

Solusinya tentu bukan cuma menyita HP anak-anak saat bel masuk berbunyi, lalu menganggap masalah beres. Ruang kelas kita justru perlu lebih sering memberi panggung untuk membaca kritis, mengotak-atik data, dan memecahkan persoalan nyata. Anak-anak harus diajak menguji kebenaran informasi, bukan sekadar menghafal jawaban biar lulus ujian. 

Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan skor PISA seperti ajang balapan ranking antarnegara. Angka-angka skor kita yang masih di kepala tiga itu tidak boleh disapu begitu saja ke bawah karpet. Apalagi di era AI sekarang ini, anak muda kita sangat butuh kemampuan berpikir mandiri saat gadget mereka mendadak kehabisan baterai atau eror. 

Kalau kita memang serius ingin menyiapkan generasi masa depan yang tangguh, tugas sekolah adalah melatih mereka memahami masalah secara utuh, menyaring mana informasi yang benar, lalu menemukan jawaban terbaik menggunakan kepala mereka sendiri.