Ada satu fenomena psikologi yang menjelaskan banyak keanehan di sekitar kita. Mulai dari debat kusir di media sosial sampai “pakar dadakan” di tongkrongan. Namanya Dunning-Kruger Effect. Fenomena ini menjawab satu pertanyaan sederhana tapi mengganggu.
Kenapa orang yang paling nggak kompeten justru merasa paling jago, sementara orang yang paling ahli malah sering ragu?
Fenomena ini pertama kali diteliti oleh dua psikolog, David Dunning dan Justin Kruger. Mereka mengajukan satu pertanyaan yang kelihatannya simpel. Kenapa orang yang nggak capable justru merasa paling capable?
Dari pertanyaan itu lahirlah salah satu makalah psikologi paling sering dikutip sepanjang sejarah. Eksperimennya terbilang sederhana, tapi hasilnya membuat siapapun akan berpikir ulang soal kepercayaan diri. Dunning dan Kruger menguji mahasiswa dalam tiga bidang: logika, tata bahasa, dan humor. Setelah tes, para peserta diminta menilai performa mereka sendiri. Di sinilah keanehan muncul.
Mahasiswa yang nilainya berada di 25% terbawah justru merasa dirinya ada di 40% teratas. Mereka yakin performanya jauh di atas rata-rata. Sebaliknya, mahasiswa yang masuk 25% teratas justru meremehkan kemampuan diri mereka sendiri. Mereka merasa tidak sebaik yang sebenarnya.
Kalau fenomena ini digambarkan dalam grafik confidence vs competence, hasilnya seperti perjalanan emosional yang khas. Di awal ada “Mount Stupid”, puncak kepercayaan diri ketika seseorang baru tahu sedikit, tapi merasa sudah tahu segalanya. Setelah itu, kepercayaan diri anjlok tajam ke “Valley of Despair”.
Saat seseorang mulai sadar betapa banyak hal yang belum ia pahami. Dari situ, perlahan naik ke “Slope of Enlightenment”, fase belajar dengan rendah hati. Dan akhirnya, orang-orang yang benar-benar ahli berada di “Plateau of Sustainability” yaitu percaya diri yang stabil, realistis, dan sadar batas kemampuan diri.
Masalahnya, kebanyakan orang terjebak di Mount Stupid tanpa sadar.
Kita semua pasti pernah menemui contohnya. Orang yang baru belajar saham satu minggu tapi sudah memberi nasihat seolah Warren Buffett. Baca satu artikel kesehatan, lalu mendiagnosis penyakit orang lain. Nonton dua video coding, langsung bilang coding itu gampang. Atau baru gabung MLM tiga hari, tapi sudah merasa paham dunia bisnis.
Sementara para ahli sungguhan justru sering berkata, “Semakin gue belajar, semakin gue sadar betapa sedikit yang gue tahu". Kenapa ini bisa terjadi? Akar masalahnya disebut metacognitive failure atau kegagalan menilai kemampuan diri sendiri.
Orang yang tidak kompeten kekurangan dua hal sekaligus: pengetahuan tentang bidang tersebut, dan kesadaran bahwa mereka kekurangan pengetahuan. Ini semacam kutukan ganda. Mereka tidak tahu, dan mereka juga tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Karena itu, mereka tidak punya alat mental untuk mengevaluasi diri sendiri secara akurat.
Yang bikin Dunning-Kruger Effect berbahaya adalah dampaknya, baik secara personal maupun sosial. Di level pribadi, overconfidence bisa memicu keputusan buruk, menutup pintu belajar, dan membuat seseorang kebal terhadap kritik. Merasa “udah paling bener” adalah racun bagi pertumbuhan diri.
Di level masyarakat, efeknya lebih serius. Informasi keliru menyebar lebih cepat karena orang yang paling percaya diri biasanya paling vokal. Pemimpin yang tidak kompeten bisa terlihat meyakinkan karena publik sering menyamakan kepercayaan diri dengan kemampuan. Sementara itu, para ahli justru sering diabaikan karena mereka berbicara dengan nuansa, kehati-hatian, dan keraguan sehat.
Dunning-Kruger Effect mengajarkan satu pelajaran penting keraguan bukan selalu tanda kelemahan, kadang itu justru bukti kedewasaan berpikir. Di dunia yang penuh opini dan kepercayaan diri palsu, mungkin sikap paling cerdas adalah satu hal sederhana: terus belajar, mau mendengar, dan berani mengakui bahwa kita belum tahu segalanya.
Baca Juga
-
Seni Menyeimbangkan Diri agar Tak Hancur di Buku Six Basic Energy
-
Novel Logika Asa: Tak Apa untuk Mencintai Kelemahan Diri
-
Paradoks Negara Agraria dan Maritim: Kaya Alam, Miskin Akses, Pangan Mahal
-
Novel Beauty and The Best: Siapa Bilang Cewek Cantik Itu Bodoh?
-
Kiprah B.J. Habibie dalam Sejarah Kebebasan Pers Indonesia
Artikel Terkait
Kolom
-
Prabowo Tekankan Lapangan Kerja Bareng APINDO, Akankah Gen Z Diuntungkan?
-
Viral Kasus Pelecehan Seksual di X, Mengapa Harus Berpihak pada Korban?
-
Pergeseran Budaya Mengaji: Dari Karpet Masjid ke Ballroom Hotel yang Estetik
-
Problematika Oversharing dan Krisis Privasi Digital
-
Paradoks Negara Agraria dan Maritim: Kaya Alam, Miskin Akses, Pangan Mahal