Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para pengusaha APINDO di Hambalang kembali menegaskan komitmen pemerintah terhadap penciptaan lapangan kerja sebagai prioritas nasional. Narasi ini terus diulang sebagai fondasi pembangunan ekonomi Indonesia ke depan.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan besar: sejauh mana agenda ini benar-benar menjawab persoalan struktural yang dihadapi generasi muda, khususnya Gen Z, dalam memasuki dunia kerja.
Pemerintah dalam berbagai dokumen kebijakan nasional menempatkan generasi muda sebagai kelompok strategis pembangunan sumber daya manusia. Program seperti penguatan pendidikan vokasi, link and match industri–pendidikan, digitalisasi UMKM, serta pengembangan ekonomi kreatif dan industri hijau menjadi pilar utama kebijakan ketenagakerjaan menuju 2026.
Dalam kerangka perencanaan pembangunan nasional, arah kebijakan pemerintah menekankan penciptaan lapangan kerja berbasis produktivitas, keterampilan, dan transformasi ekonomi. Artinya, pekerjaan yang diciptakan tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga diarahkan pada sektor bernilai tambah seperti ekonomi digital, industri kreatif, teknologi, dan ekonomi berkelanjutan.
Namun realitas sosial menunjukkan bahwa transisi Gen Z ke dunia kerja masih menghadapi hambatan besar. Kesenjangan keterampilan, ketidaksesuaian pendidikan dengan kebutuhan industri, serta dominasi pekerjaan informal dan kontraktual membuat banyak anak muda sulit memperoleh pekerjaan yang stabil dan berkelanjutan.
Di titik inilah janji penciptaan lapangan kerja perlu dibaca secara lebih kritis. Membuka peluang kerja saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kualitas kerja yang layak, perlindungan sosial, dan peluang pengembangan karier jangka panjang.
Bagi Gen Z, pekerjaan bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga tentang makna, stabilitas, dan masa depan. Generasi ini tumbuh dalam ekosistem digital yang cepat berubah, sehingga membutuhkan sistem ketenagakerjaan yang adaptif, fleksibel, dan adil.
Jika kebijakan pemerintah menuju 2026 hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi makro tanpa memperhatikan kualitas penyerapan tenaga kerja muda, maka krisis ketenagakerjaan akan berubah bentuk, bukan hilang.
Pertemuan elite negara dan pengusaha bisa menjadi titik awal perubahan arah kebijakan. Tetapi masa depan Gen Z tidak ditentukan oleh forum pertemuan, melainkan oleh keberanian negara membangun sistem kerja yang manusiawi, berkelanjutan, dan berpihak pada generasi muda.
Baca Juga
-
Tim Cadillac Resmi Masuk Grid Formula 1 2026, Era Baru Dunia Balap
-
Dr. Tirta Luruskan Isu Asam Lambung Picu Mati Mendadak yang Ramai di Medsos
-
Grindboys dan Rico Lubis : Bunyi-bunyian yang Jadi Bahasa Tongkrongan
-
Marapthon: The Last Tale, Babak Terakhir yang Tetap Berjalan di Tengah Duka
-
Arti di Balik Kata Mens Rea dalam Special Show Pandji Pragiwaksono
Artikel Terkait
-
Daftar Saham Milik Pengusaha Elite yang Temui Presiden Prabowo Pekan Ini
-
Membersihkan 'Telur-telur Busuk', Hashim Tegaskan Akan Ada Pejabat yang Dicopot Prabowo
-
ICW Bongkar Pengaruh Pemerintah Prabowo-Gibran ke Merosotnya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia
-
Prabowo Bakal Copot Lagi Pejabat 'Telur Busuk', Hashim Djojohadikusumo: Semua Opsi di Atas Meja
-
Prabowo Terima Audiensi 5 Pengusaha di Hambalang, Anthony Salim hingga Sugianto Kusuma Hadir
Kolom
-
Viral Kasus Pelecehan Seksual di X, Mengapa Harus Berpihak pada Korban?
-
Pergeseran Budaya Mengaji: Dari Karpet Masjid ke Ballroom Hotel yang Estetik
-
Problematika Oversharing dan Krisis Privasi Digital
-
Paradoks Negara Agraria dan Maritim: Kaya Alam, Miskin Akses, Pangan Mahal
-
Solusi Lokal untuk Krisis Plastik di Sungai Kecil: Apa yang Bisa Dilakukan?
Terkini
-
Pukul 17.30
-
Acha Septriasa Bicara soal Perselingkuhan dan Rasa Kesepian dalam Hubungan
-
Pilih Gabung ke Liga Indonesia, Cyrus Margono Bisa Segera Debut di Timnas?
-
Bagikan Trailer Teaser, Dua Pengisi Suara Anime Monster Eater Diumumkan
-
Shin Hae Sun dan Na In Woo Akan Bertemu Kembali di Drama Baru, Love O'Clock