Ada satu tipe pekerja yang makin sering kita temui belakangan ini. Mereka datang kerja tepat waktu, pulang sesuai jam, tugas beres, laporan rapi. Tapi kalau ditanya soal ambisi, jawabannya sering bikin HRD mengernyit: “Saya sih cukup di posisi ini.” Bukan karena mereka tidak mampu, apalagi tidak kompeten. Mereka hanya tidak tertarik mengejar jabatan.
Di era LinkedIn penuh jargon “growth mindset” dan “career journey”, sikap semacam ini kerap dianggap anomali. Dunia kerja seolah sepakat bahwa hidup ideal adalah naik jabatan bertahap, gaji menanjak, lalu pensiun dengan titel mentereng. Masalahnya, di dunia nyata—terutama di Indonesia—cerita sukses versi korporat itu sering tidak sinkron dengan kenyataan dompet dan kesehatan mental.
Banyak orang hari ini bekerja bukan untuk membangun karier, tapi sekadar menjaga hidup tetap berjalan. Mereka berangkat pagi naik motor tua, pulang sore dengan tenaga tersisa seperempat, lalu nongkrong sebentar sambil ngopi dan membicarakan kerjaan besok. Tidak ada diskusi soal mimpi besar atau target lima tahun. Yang penting, bulan ini bisa bayar listrik, dapur tetap ngebul, dan kepala tidak terlalu penuh.
Fenomena ini belakangan disebut sebagai bekerja tanpa karier. Artinya sederhana: kerja untuk stabilitas, bukan untuk jabatan. Pekerjaan tidak lagi dijadikan identitas utama, apalagi simbol kesuksesan. Fokusnya bergeser—dari promosi ke waktu luang, dari titel ke ketenangan.
Ini bukan soal malas atau “soft quitting” yang sering disalahpahami. Banyak justru datang dari pengalaman hidup yang cukup keras. Biaya hidup naik pelan tapi pasti, sementara upah bergerak seperti kura-kura capek. Promosi jabatan sering datang dengan bonus tanggung jawab, bukan bonus kesejahteraan. Gaji naik sedikit, jam kerja bertambah banyak, stres melonjak drastis. Rasanya seperti menang lomba, tapi hadiahnya malah beban.
Belum lagi soal generasi sandwich. Di satu sisi harus menopang orang tua, di sisi lain mulai memikirkan masa depan anak. Dalam kondisi seperti ini, ambisi karier sering kali kalah oleh kebutuhan paling dasar: bertahan hidup dengan waras. Maka jangan heran kalau ada ASN muda yang menolak jabatan struktural, guru yang hanya ingin mengajar tanpa embel-embel administrasi, atau tenaga kesehatan yang cukup merawat pasien tanpa ingin naik ke kursi manajerial.
Namun, bekerja tanpa karier tidak selalu lahir dari pilihan bebas. Ada juga yang terjebak. Sistem kerja yang tidak transparan, jalur promosi yang kabur, kontrak yang diperpanjang setahun sekali, membuat karier terasa seperti mitos. Dalam situasi semacam itu, bermimpi naik jabatan terasa terlalu mahal. Bertahan saja sudah menguras energi. Maka “cukup sampai di sini” menjadi bentuk adaptasi paling masuk akal.
Tentu saja, pilihan ini tidak bebas risiko. Pendapatan cenderung stagnan, posisi rawan digeser, dan masa depan sering terasa kabur. Tapi ada juga keuntungan yang jarang dibicarakan: waktu yang lebih fleksibel, ruang untuk hidup di luar pekerjaan, dan kesempatan bertumbuh dengan cara lain. Tidak semua pertumbuhan harus lewat struktur organisasi.
Sayangnya, masyarakat kita masih gemar memuja jabatan. Naik pangkat dianggap bukti sukses, sementara bertahan di posisi yang sama dicap kurang ambisi. Padahal, bisa jadi orang yang “tidak naik-naik” itu justru sedang menjaga hidupnya tetap utuh—tidak tercerai oleh jam kerja, target absurd, dan tekanan yang tak pernah ada ujungnya.
Mungkin persoalannya bukan pada mereka yang berhenti mengejar karier, tapi pada sistem kerja yang gagal memberi alasan untuk berharap. Dalam dunia yang semakin tidak pasti, bekerja tanpa karier bisa jadi bukan tanda menyerah, melainkan cara paling rasional untuk tetap hidup—dan tetap manusia.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
Kolom
-
Fenomena 'Ghosting' Rekrutmen: Ketika Perusahaan Menuntut Profesionalisme tapi Lupa Etika Dasar
-
Kepala BGN Bantah MBG Habiskan APBN: Strawman Fallacy dalam Membaca Kritik
-
Punya Karier, Urus Keluarga, dan Tetap Waras? Mitos "Harus Bisa Semuanya" yang Menghantui Perempuan
-
Pergeseran Orientasi Karier: Tidak Semua Orang Ingin Naik Jabatan
-
Pariwisata Kuatkan Ekonomi, Pendidikan Menjaga Jiwa Budaya Suku Osing
Terkini
-
4 Inspirasi Daily OOTD ala Minnie i-dle, Youthful dan Modis!
-
5 Rekomendasi Drama China Tayang Agustus 2026: Dari Romansa Modern hingga Costume Drama
-
Rilis PV Perdana, Millennium Family Diadaptasi Jadi Anime
-
Baitul Arqam PWM Papua Barat Tuntas Digelar, Cetak Kader Kokoh Berlandaskan Islam Berkemajuan
-
Dibalik Sangar dan Brutalnya Aksi Agent Kim Reactivated, Ada Kisah Ayah dan Anak yang Menguras Emosi