Perkembangan era digital semakin masif, tak hanya merubah pola hidup kita namun juga merubah cara manusia untuk berkomunikasi dan menyebarkan gagasan mereka. Saat ini, menulis tidak lagi terbatas pada platform media formal maupun ruang akademik, tetapi menulis telah menjadi kegiatan yang dapat dilakukan oleh siapa saja dengan berbagai platform media digital yang ada. Menulis bukan lagi sekedar ekspresi pribadi, melainkan menjadi kegiatan yang memiliki dampak sosial yang nyata. Oleh karena itu, menakar pentingnya menulis dengan tanggung jawab terasa mendesak, terutama dalam upaya meningkatkan literasi digital masyarakat dan membentuk opini publik yang objektif dan sehat.
Tulisan bukan hanya sekadar kata yang tersusun rapi menjadi kalimat, tetapi tulisan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi cara berpikir pembaca dan cara orang memahami realitas. Banyak orang memperoleh wawasan, membentuk cara pandang dan menentukan sikap berdasarkan apa yang mereka baca.
Dengan demikian, tulisan memiliki fungsi sebagai jembatan antara fakta dan kesadaran publik. Saat tulisan disusun dengan tanggung jawab, maka ia akan membantu publik untuk mendapatkan kejelasan dan pemahaman yang objektif. Namun apabila tulisan disusun tanpa dasar data yang kuat, tanpa sumber yang kredibel dan tanpa tanggung jawab, maka ia akan menciptakan distorsi yang dapat merusak pemahaman masyarakat.
Era digital telah mempercepat tersebarnya sebuah informasi hanya dalam hitungan detik, tanpa melalui proses verifikasi yang memadai. Kondisi tersebut menciptakan tantangan tersendiri, khususnya untuk literasi digital masyarakat. Dengan jutaan tulisan yang beredar di dunia digital tidak selalu memiliki kualitas dan kurasi yang sebanding. Tulisan yang tidak didasari dengan tanggung jawab bukan hanya akan memperburuk kualitas literasi masyarakat, namun juga akan memperburuk kualitas opini publik dengan menghadirkan informasi yang tidak utuh, bias atau bahkan bermuatan informasi yang keliru.
Literasi bukan hanya kemampuan untuk membaca, tetapi juga kemampuan untuk menganalisa, memahami, dan mengevaluasi informasi secara kritis sebelum menentukan sikap terhadap suatu peristiwa. Dalam hal ini, tulisan yang didasari tanggung jawab dan objektif dapat menjadi pondasi awal untuk membangun kesadaran intelektual masyarakat. Tulisan yang disusun secara objekti, rasional serta sumber data yang kuat dapat membantu masyarakat memahami suatu peristiwa secara jernih dan tanpa bias. Sebaliknya, tulisan tanpa tanpa tanggung jawab hanya akan menciptakan kegaduhan dan kebisingan informasi tanpa memiliki makna yang jelas.
Selain itu, menulis juga merupakan tanggung jawab moral, setiap kalimat yang disusun memiliki potensi untuk membentuk cara pandang orang. Penulis tidak hanya bertanggung jawab terhadap apa yang ia ungkapkan melalui tulisannya, tetapi juga bertanggung jawab terhadap dampak yang mungkin akan ditimbulkan dari tulisan yang ia susun.
Pada akhirnya, tanggung jawab merupakan modal awal untuk seorang penulis demi menjaga literasi masyarakat serta membentuk opini publik yang sehat dan objektif. Di era kecepatan informasi saat ini, masyarakat tidak lagi membutuhkan seberapa banyak tulisan yang beredar hanya sekadar untuk menambah volume dan kebisingan informasi, tetapi masyarakat membutuhkan informasi yang berisikan kebenaran, pemahaman, objekti serta kejelasan. Dengan demikian, menulis saat ini bukan hanya untuk menyampaikan sebuah gagasan, tetapi juga menjadi alat untuk berkontribusi dalam meningkatkan literasi masyarakat yang objekti, kritis dan bertanggung jawab.
Baca Juga
-
Amanda Manopo Buka-bukaan Alasan Ia Putuskan Hengkang dari Ikatan Cinta: Sudah Cukup
-
4 Potret Evelyn Nada Anjani Mantan Istri Aming, Ternyata Sempat Jadi LC di Jepang
-
Terkenal Indah, Ini 6 Fakta Menarik Negara Swiss yang Perlu Kalian Ketahui!
-
Catat! 6 Cara Mencegah Pemanasan Global yang Dapat Kamu Lakukan
-
Hujan Bukan Iklim! Inilah 4 Jenis Iklim di Dunia
Artikel Terkait
Kolom
-
Hidup dari Standar Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kebahagiaan
-
Digital Detox dan Ilusi Putus Koneksi di Dunia Kerja Modern
-
Buku Jelek itu Ada dan Justru Penting untuk Ada!
-
Ekoterapi: Pentingnya Ruang Hijau Bagi Kesehatan Mental Masyarakat
-
Fenomena "Buku Jelek": Mengapa Kita Terobsesi Jadi Polisi Literasi?
Terkini
-
Jadi Ibu Tunggal, Asri Welas Tak Batasi Komunikasi Anak dan Mantan Suami
-
Valentine Tanpa Pasangan? Ini 5 Cara Seru Menikmatinya
-
Novel Melukis Langit Dermaga: Pemulihan Diri di Kota Pelabuhan Kecil Jerman
-
Bunga Matahari yang Gigih
-
Rilis 5 Maret 2026, Sinopsis Setan Alas: Teror Psikologis dan Kesunyian