M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Dewasa yang sedih memikirkan masalah di ruang tamu. (Foto Oleh Andrea Piacquadio/www.pexels.com)
Yayang Nanda Budiman

Gagasan digital detox kerap dipromosikan sebagai solusi bagi kelelahan mental di era konektivitas tanpa jeda. Mematikan notifikasi, menjauh dari media sosial, hingga mengambil jeda dari layar gawai dianggap sebagai langkah pemulihan yang menyehatkan. Namun, dalam dunia profesional yang semakin bertumpu pada jaringan digital, digital detox tidak sesederhana memutus sambungan internet.

Bagi banyak pekerja, terutama di sektor kreatif, akademik, dan industri berbasis pengetahuan, kehadiran digital bukan lagi pilihan tambahan, melainkan syarat eksistensi. Informasi lowongan kerja, peluang kolaborasi, diskusi profesional, hingga reputasi personal kerap dibangun melalui platform digital. Dalam konteks ini, digital detox justru memunculkan dilema: bagaimana menjaga kesehatan mental tanpa terputus dari ekosistem profesional yang menuntut kehadiran daring secara terus-menerus?

Budaya kerja modern juga memperkuat ilusi bahwa respons cepat identik dengan profesionalisme. Pesan yang tidak segera dibalas, unggahan yang terhenti, atau absensi digital dapat dimaknai sebagai kurangnya komitmen. Di sinilah digital detox menghadapi tantangan struktural, bukan sekadar persoalan disiplin personal.

Jejaring Profesional dalam Ekonomi Perhatian

Jejaring profesional hari ini beroperasi dalam logika ekonomi perhatian. Platform seperti LinkedIn, grup kerja WhatsApp, dan berbagai media sosial profesional tidak hanya menjadi alat komunikasi, melainkan juga arena kompetisi simbolik. Kehadiran yang konsisten, opini yang relevan, dan interaksi yang terlihat menjadi penanda nilai seseorang dalam jaringan tersebut.

Digital detox, jika dilakukan secara total, berpotensi menggerus visibilitas profesional. Ketidakhadiran dalam diskusi daring dapat membuat individu kehilangan momentum, terutama dalam lingkungan kerja yang cair dan berbasis proyek. Bagi pekerja lepas, akademisi muda, atau profesional awal karier, visibilitas digital sering kali menjadi modal utama untuk bertahan dan berkembang.

Masalahnya, ekonomi perhatian ini menuntut keterlibatan emosional yang tinggi. Individu tidak hanya diminta hadir, tetapi juga aktif, responsif, dan relevan. Akibatnya, batas antara waktu kerja dan waktu personal semakin kabur. Digital detox lalu muncul sebagai bentuk perlawanan personal terhadap tuntutan tersebut, meski sering kali berbenturan dengan realitas profesional.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa tantangan digital detox tidak bisa dilepaskan dari struktur kerja digital itu sendiri. Selama jejaring profesional masih mengandalkan platform yang mendorong keterhubungan konstan, digital detox akan selalu berada dalam posisi ambigu: diinginkan secara psikologis, tetapi berisiko secara profesional.

Mencari Jalan Tengah antara Kesehatan Mental dan Konektivitas

Alih-alih memaknai digital detox sebagai pemutusan total, pendekatan yang lebih realistis adalah redefinisi konektivitas. Digital detox perlu dipahami sebagai pengelolaan relasi dengan teknologi, bukan penghindaran mutlak. Dalam konteks profesional, hal ini berarti membangun batas yang jelas antara kehadiran fungsional dan keterlibatan berlebihan.

Beberapa profesional mulai menerapkan detoks selektif, misalnya dengan memisahkan platform kerja dan nonkerja, menetapkan jam respons yang wajar, atau membatasi konsumsi konten pasif yang tidak relevan secara profesional. Pendekatan ini memungkinkan individu tetap terhubung dengan jaringan penting tanpa tenggelam dalam arus notifikasi yang melelahkan.

Namun, solusi individual tidak cukup jika tidak diimbangi perubahan budaya organisasi. Normalisasi waktu jeda, penghargaan terhadap kerja berbasis hasil alih-alih kehadiran daring, serta kebijakan komunikasi yang manusiawi menjadi kunci. Tanpa itu, digital detox akan selalu dipersepsikan sebagai kemewahan personal yang hanya bisa diakses segelintir orang.

Dalam konteks yang lebih luas, tantangan digital detox mencerminkan krisis keseimbangan dalam dunia kerja digital. Teknologi yang awalnya menjanjikan efisiensi justru melahirkan tuntutan kehadiran tanpa henti. Di titik ini, digital detox bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal perlunya penataan ulang relasi antara manusia, kerja, dan teknologi.

Ke depan, keberhasilan digital detox tidak ditentukan oleh sejauh mana seseorang mampu offline, melainkan oleh kemampuannya bernegosiasi dengan sistem kerja digital yang ada. Menjaga kesehatan mental dan jejaring profesional bukanlah dua tujuan yang saling meniadakan, melainkan dua kepentingan yang menuntut keseimbangan baru dalam budaya kerja modern.