Dunia saat ini terasa begitu cepat, begitu instan, dan entah kenapa terasa kosong. Setiap hari kita pergi bekerja ke kantor, terjebak macet dan drama lalu lintas yang nyaris menyedot sebagian nyawa.
Belum lagi maraknya berita nasional yang penuh kontradiksi dan hiperbola, atau berita internasional tentang geopolitik dunia yang memanas.
Stress. Sakit jiwa. Mau healing ke mall, atau nonton konser pun, sebagian kaum introvert pasti bakalan mundur langsung macam saya.
Mungkin disitulah, akhirnya kehadiran ruang hijau yang diisi oleh penduduk Plantae mencoba memberi solusi. Bukan hanya mencoba mengisi ruang kosong di hati, melainkan menanamkan empati.
Pentingnya Pohon untuk Ekosistem Bumi
Barangkali, pelajaran tentang oksigen yang dihasilkan lewat fotosintesis tumbuhan sudah diajarkan sejak SD. Sehingga tanpa basa-basi, akan saya tuliskan bahwa pepohonan turut menyumbang kehidupan di bumi atas oksigen yang dihasilkan.
Beberapa jenisnya juga berguna menahan air tanah, seperti beringin. Jenis-jenis lain juga berguna sebagai obat-obatan, makanan pokok, dan tentu saja paru-paru bumi guna menolak global warming.
Intinya, pepohonan juga berhak hidup sebagaimana manusia. Bukannya dianggap sebagai halangan saat ada proyek pembangunan negara ya.
Ruang Hijau Penting Untuk Kesehatan Mental
Melansir laman Ecomatcher, penelitian menyatakan bahwa individu yang tinggal di dekat kawasan pepohonan menunjukkan lebih sedikit tanda depresi, kecemasan, dan stress dibandingkan individu yang hidup jauh dari kawasan pepohonan.
Keberadaan ruang hijau tentunya bukan hanya soal rekreasi semata. Melainkan kepedulian kepada masyarakat. Sebab, pepohonan cenderung memberikan efek menenangkan karena kadar hormon kortisol penyebab stress menurun. Paparan ruang hijau juga mampu meningkatkan dopamin juga neurotransmiter sebagai penyebab rasa senang.
Kehadiran pepohonan dan lingkup ruang hijau juga berhasil mendorong terjadinya sosialisasi masyarakat seperti kehadiran komunitas.
Pepohonan Bukan Halangan yang Harus Disingkirkan
Kawan-kawan mungkin sudah mendengar berita tentang perombakan hutan menjadi kebun sawit, atau penebangan masif guna menjual kayu jenis tertentu yang sangat mahal kan? Pasti sudah pernah deh…
Sebagai rakyat sipil, tentu saja itu adalah berita yang bikin drop. Ketakutan terbesar adalah hilangnya pemasok oksigen alami, dan berkurangnya efek menenangkan dalam diri manusia sebagai bagian ekosistem bumi.
Mau diingkari seperti apapun, kehadiran pohon jauh lebih penting dalam kehidupan dibandingkan keberadaan sawit. Yah, meski saya juga pengguna minyak sawit sih. Namun, kendati kebun sawit disinyalir sebagai penambah penghasilan negara, kok harganya masih melambung?!
Masyarakat dan Ruang Terbuka Hijau dalam Kehidupan Nyata
Pada kehidupan dunia nyata, seringkali konflik manusia dan alam berbaur seperti setitik dua titik hingga ribuan titik dalam susu di belanga. Jumlah populasi penduduk yang membludak, kepentingan pemerintah yang hiperbola atau malah kontradiksi, hingga kebutuhan akan papan alias tempat tinggal seringkali menggerus keberadaan ruang hijau.
Pola pembangunan, desain bangunan yang menawan, hingga keinginan untuk tidak mau kalah dalam bidang tempat tinggal kerap kali mengorbankan kepentingan hidup alam. Alhasil, bukan hanya pepohonan saja yang dikorbankan, melainkan entitas Animalia yang harus menyingkir. Tidak jarang, konflik hewan seperti gajah dengan manusia adalah berita harian baik di surat kabar hingga media sosial.
Mau diakui atau tidak, ruang hijau dan alam adalah entitas mutlak yang harus dipertahankan. Tentunya bukan demi pujian dan nama yang dielu-elukan. Melainkan demi kemaslahatan generasi seterusnya. Agar mereka tetap menikmati oksigen alami, dan masih memiliki kesempatan untuk meredakan stress dan depresi lewat pelukan alam dalam nama ekoterapi.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Tag
Baca Juga
-
Sepasang Tangan dan Kaki dalam Shift Malam di Pabrik Roti
-
Lelaki yang Membawaku Naik Kapal dan Kabur ke Singapura
-
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Teror Kepala Babi hingga Air Keras: Harga Mahal yang Dibayar Jurnalis Demi Kebenaran
Artikel Terkait
Kolom
-
Mental Inlander dan Luka Panjang Kolonialisme dalam Buku Max Havelaar
-
Tentang Dolar dan Orang Desa: Meluruskan Logika Pidato Presiden di Nganjuk
-
Masih Nongkrong di Kafe Saat Rupiah Anjlok? Pikirkan Lagi, Ini Risikonya buat Anak Kos
-
Dapur, Sumur, dan Kasur: Benarkah Peran Perempuan Hanya Sebatas Itu?
-
Membeli karena Butuh atau FOMO? Refleksi Gaya Hidup Gen Z di Era Konsumtif
Terkini
-
5 Pilihan Toner Badan untuk Eksfoliasi Supaya Kulit Makin Cerah dan Sehat
-
Buat Kaget! Barbara Palvin dan Dylan Sprouse Pamer 'Baby Bump' di Cannes
-
Dari Floral hingga Gourmand, Ini 5 Parfum Wanita yang Cocok untuk Kencan
-
Jadwal Rilis Mini Seri Baru Fairy Tail Resmi Dimajukan
-
Ulasan The WONDERfools: Serial Komedi Aksi dengan Twist Y2K yang Inovatif!