Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi media sosial TikTok (Pixabay)
Yayang Nanda Budiman

Sabtu pagi di salah satu pusat kawasan di Jakarta, bukan lagi sekadar ruang lengang sebelum jam kerja. Ia berubah menjadi panggung gaya hidup. Ratusan orang mengenakan sepatu lari berteknologi karbon, smartwatch terbaru, dan jersey komunitas berlogo minimalis.

Di sudut lain kota, lapangan padel penuh sejak pukul enam pagi. Olahraga bukan lagi aktivitas menjaga kebugaran semata. Ia menjadi penanda identitas, bahkan status sosial.

Tren ini tidak lahir tiba-tiba. Sejak pandemi meredam aktivitas sosial beberapa tahun lalu, masyarakat urban mencari medium baru untuk berinteraksi.

Lari dan padel menawarkan dua hal sekaligus: kesehatan dan jejaring sosial. Pada 2026, keduanya menjelma simbol kelas menengah perkotaan yang sadar tubuh, sadar citra, dan sadar komunitas.

Lari dan Estetika Performa

Lari adalah olahraga yang relatif murah dan inklusif. Namun dalam praktik urban, ia mengalami transformasi. Ajang seperti Jakarta Marathon dan Bali Marathon tak sekadar kompetisi, melainkan ruang representasi diri. Unggahan medali finisher dan catatan pace menjadi konten yang dirayakan.

Perangkat pendukung  atau jam pintar menambah dimensi konsumsi dalam olahraga. Harga sepatu lari premium yang mencapai jutaan rupiah tidak lagi dianggap berlebihan, melainkan investasi performa. Di titik ini, batas antara kebutuhan dan simbol status menjadi kabur.

Komunitas lari juga berkembang menjadi ekosistem sosial. Banyak klub menetapkan kurasi anggota, jadwal latihan rutin, hingga kolaborasi dengan merek gaya hidup. Bergabung dengan komunitas tertentu dapat meningkatkan modal sosial. Relasi profesional terjalin di sela long run, peluang bisnis dibicarakan selepas latihan interval.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana olahraga menjadi arena akumulasi kapital sosial dan kultural. Bukan hanya soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang terhubung dengan siapa. Dalam masyarakat urban yang kompetitif, jejaring sering kali sama pentingnya dengan kompetensi.

Padel dan Simbol Eksklusivitas Baru

Jika lari relatif egaliter, padel menawarkan aura eksklusivitas. Olahraga raket yang populer di Eropa ini merambah kota-kota besar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Klub-klub padel tumbuh di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, dengan sistem keanggotaan dan tarif sewa lapangan yang tidak murah.

Popularitas padel meningkat setelah figur publik yang diketahui menggeluti olahraga ini. Di Indonesia, lapangan padel sering kali berdampingan dengan kafe estetik dan ruang komunal modern. Ia bukan hanya tempat bermain, tetapi ruang tampil.

Berbeda dari tenis yang membutuhkan teknik tinggi sejak awal, padel relatif mudah dipelajari. Hal ini membuatnya cepat menyebar di kalangan profesional muda. Namun aksesnya tetap terbatas oleh biaya. Sewa lapangan, pelatih, hingga perlengkapan khusus menciptakan filter ekonomi yang tak kasatmata.

Padel kemudian berfungsi sebagai simbol kelas. Mengunggah momen bermain padel memberi pesan implisit tentang gaya hidup aktif sekaligus mapan. Ia menjadi bagian dari kurasi citra digital. Dalam konteks ini, olahraga berkelindan dengan logika media sosial yang menekankan visual dan diferensiasi diri.

Komunitas Urban dan Pencarian Makna

Di balik dimensi status, ada kebutuhan yang lebih mendasar. Generasi muda perkotaan menghadapi tekanan kerja, biaya hidup tinggi, dan ritme kota yang melelahkan. Komunitas olahraga menawarkan ruang aman untuk bernafas.

Lari bersama pada pukul lima pagi atau sesi padel selepas jam kantor menciptakan rutinitas yang terstruktur. Ia memberi rasa memiliki. Dalam masyarakat yang semakin individualistik, rasa kebersamaan ini bernilai tinggi.

Namun, romantisasi komunitas juga perlu dibaca kritis. Tidak semua orang merasa nyaman dengan kultur performatif yang menyertainya. Standar pace tertentu, outfit yang harus selaras, atau ekspektasi unggahan media sosial dapat menciptakan tekanan baru. Alih-alih menjadi ruang pembebasan, olahraga bisa berubah menjadi ajang kompetisi simbolik.

Di sisi lain, industri merespons tren ini dengan agresif. Merek apparel, minuman isotonik, hingga aplikasi kebugaran berlomba mengemas narasi self improvement. Tubuh menjadi proyek yang terus ditingkatkan. Kesehatan dipromosikan, tetapi konsumsi ikut digerakkan.

Pertanyaannya, apakah olahraga masih tentang kebugaran atau telah bergeser menjadi bahasa sosial. Jawabannya mungkin keduanya. Di kota besar, aktivitas fisik tidak pernah sepenuhnya netral. Ia terhubung dengan kelas, akses, dan representasi.

Pada 2026, lari dan padel memperlihatkan bagaimana gaya hidup sehat dapat bertransformasi menjadi simbol posisi sosial. Namun reduksi olahraga semata sebagai status juga menyederhanakan realitas. Banyak individu bergabung bukan untuk pamer, melainkan untuk bertahan secara mental di tengah tekanan urban.

Akhirnya, makna olahraga ditentukan oleh motivasi personal. Sepatu mahal atau lapangan eksklusif tidak otomatis mengurangi nilai aktivitasnya. Yang menjadi soal adalah ketika validasi eksternal lebih dominan daripada kebutuhan internal.

Di tengah kota yang terus bergerak cepat, mungkin yang paling dicari bukan sekadar garis finis atau kemenangan set. Melainkan ruang untuk merasa cukup, terhubung, dan hidup lebih seimbang. Jika status sosial ikut menempel, itu mungkin konsekuensi dari masyarakat yang gemar memberi label pada hampir setiap pilihan gaya hidup.