Lintang Siltya Utami | Zuyyina Laksita Dewi
Ilustrasi Kegiatan Membaca Buku. (Unsplash.com/Joel Muniz)
Zuyyina Laksita Dewi

Belakangan ini, timeline media sosial saya dipenuhi oleh satu judul yang sama: Broken Strings. Bukan sebuah lagu galau, melainkan sebuah ebook berisi memoar kelam dari aktris Aurelie Moeremans. Lewat tulisan setebal lebih dari 200 halaman tersebut, Aurelie membuka luka lama tentang masa remajanya yang menjadi korban child grooming oleh pria bernama "Bobby".

Kisah ini bukan fiksi. Ini adalah upaya Aurelie agar tidak ada lagi "Aurelie kecil" lain yang terjerumus dalam lubang yang sama. Menariknya, buku ini tidak dijual di toko buku fisik. Aurelie membagikannya secara gratis dalam format PDF melalui tautan di bio Instagram-nya.

Hasilnya? Meledak. Saking tingginya traffic pengunjung, tautan tersebut sempat down karena terlalu banyak orang yang ingin mengunduh. Fenomena ini membuat saya termenung. Di tengah narasi yang menyebutkan minat baca orang Indonesia rendah, kenapa buku setebal 200 halaman ini justru habis "dilalap" netizen dalam sekejap?

Mitos Minat Baca yang "Rendah"

Selama ini, kita sering disuguhi data bahwa literasi Indonesia berada di posisi buncit. Namun, melihat fenomena Broken Strings, asumsi itu rasanya perlu dikoreksi. Netizen kita ternyata sanggup membaca ratusan halaman dalam sekali duduk. Mereka bukan cuma membaca judul, tapi juga mendiskusikan isinya, membagikan ulasannya, hingga membuat kutipan-kutipan menyentuh di media sosial.

Artinya, masalahnya bukan pada kemalasan otak untuk memproses teks. Masalahnya ada pada dua hal: daya tarik konten dan daya beli masyarakat.

Gaya bahasa Aurelie yang personal dan mudah dicerna menjadi kunci. Namun, yang paling krusial adalah aksesibilitasnya yang gratis. Ini menjadi tamparan keras bagi industri perbukuan kita. Apakah selama ini buku-buku di rak toko buku itu "mangkrak" bukan karena orang tidak mau baca, tapi karena harganya yang kian tak terjangkau oleh kantong masyarakat menengah ke bawah?

Antara Konten Viral dan Harga Buku

Kita harus jujur, harga buku fisik saat ini sudah menjadi barang tersier yang mewah. Di saat harga beras dan kebutuhan pokok melonjak, mengeluarkan uang Rp 100.000 hingga Rp 150.000 untuk sebuah buku tentu menjadi pertimbangan berat.

Fenomena Broken Strings membuktikan bahwa ketika ada konten yang relevan, penting (terkait isu sosial seperti grooming), dan mudah diakses secara finansial, masyarakat kita akan menyerbu bacaan tersebut. Minat baca itu ada, tapi daya beli yang sering kali tidak sejalan dengan keinginan membaca.

Selain itu, ada faktor "rasa penasaran" yang dikelola dengan baik. Aurelie menggunakan kekuatannya sebagai public figure untuk menyuarakan isu penting. Ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran dan relevansi isu memegang peranan vital dalam menarik minat baca.

Solusi untuk Penerbit dan Pemerintah

Jika kita ingin literasi bukan sekadar jargon, perlu ada langkah konkret dari berbagai pihak agar buku tidak hanya menjadi pajangan di rak toko yang sepi pengunjung, beberapa di antaranya seperti:

  • Digitalisasi dan Model Langganan

Penerbit harus mulai berani beralih atau setidaknya memperkuat platform digital dengan harga yang lebih murah. Model langganan seperti aplikasi streaming film mungkin bisa menjadi solusi agar masyarakat bisa mengakses ribuan judul dengan harga terjangkau.

  • Subsidi Kertas dan Pajak

Pemerintah perlu hadir di sini. Tingginya harga buku salah satunya dipicu oleh mahalnya harga kertas dan pajak. Jika pemerintah serius ingin mencerdaskan bangsa, berikan insentif bagi industri penerbitan agar harga buku bisa ditekan seminimal mungkin.

  • Distribusi "Buku Murah" ke Akar Rumput

Jangan hanya fokus pada toko buku mentereng di mal. Perbanyak perpustakaan komunitas atau pojok baca di ruang publik yang menyediakan buku-buku populer dan relevan, bukan hanya buku teks pelajaran yang membosankan.

Secara garis besar, viralnya Broken Strings adalah bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia masih punya gairah untuk membaca bacaan panjang, asalkan isinya menyentuh sisi kemanusiaan mereka dan aksesnya tidak membebani dompet.

Jangan lagi menghakimi masyarakat "kurang literasi" jika akses menuju literasi itu sendiri masih tertutup tembok harga yang tinggi. Sudah saatnya industri perbukuan dan pemerintah berkolaborasi: bikin buku jadi keren, tapi bikin harganya jadi masuk akal.

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu salah satu yang ikut mengunduh ebook Aurelie karena gratis, atau memang karena peduli pada isunya?