Belakangan ini, timeline media sosial saya dipenuhi oleh satu judul yang sama: Broken Strings. Bukan sebuah lagu galau, melainkan sebuah ebook berisi memoar kelam dari aktris Aurelie Moeremans. Lewat tulisan setebal lebih dari 200 halaman tersebut, Aurelie membuka luka lama tentang masa remajanya yang menjadi korban child grooming oleh pria bernama "Bobby".
Kisah ini bukan fiksi. Ini adalah upaya Aurelie agar tidak ada lagi "Aurelie kecil" lain yang terjerumus dalam lubang yang sama. Menariknya, buku ini tidak dijual di toko buku fisik. Aurelie membagikannya secara gratis dalam format PDF melalui tautan di bio Instagram-nya.
Hasilnya? Meledak. Saking tingginya traffic pengunjung, tautan tersebut sempat down karena terlalu banyak orang yang ingin mengunduh. Fenomena ini membuat saya termenung. Di tengah narasi yang menyebutkan minat baca orang Indonesia rendah, kenapa buku setebal 200 halaman ini justru habis "dilalap" netizen dalam sekejap?
Mitos Minat Baca yang "Rendah"
Selama ini, kita sering disuguhi data bahwa literasi Indonesia berada di posisi buncit. Namun, melihat fenomena Broken Strings, asumsi itu rasanya perlu dikoreksi. Netizen kita ternyata sanggup membaca ratusan halaman dalam sekali duduk. Mereka bukan cuma membaca judul, tapi juga mendiskusikan isinya, membagikan ulasannya, hingga membuat kutipan-kutipan menyentuh di media sosial.
Artinya, masalahnya bukan pada kemalasan otak untuk memproses teks. Masalahnya ada pada dua hal: daya tarik konten dan daya beli masyarakat.
Gaya bahasa Aurelie yang personal dan mudah dicerna menjadi kunci. Namun, yang paling krusial adalah aksesibilitasnya yang gratis. Ini menjadi tamparan keras bagi industri perbukuan kita. Apakah selama ini buku-buku di rak toko buku itu "mangkrak" bukan karena orang tidak mau baca, tapi karena harganya yang kian tak terjangkau oleh kantong masyarakat menengah ke bawah?
Antara Konten Viral dan Harga Buku
Kita harus jujur, harga buku fisik saat ini sudah menjadi barang tersier yang mewah. Di saat harga beras dan kebutuhan pokok melonjak, mengeluarkan uang Rp 100.000 hingga Rp 150.000 untuk sebuah buku tentu menjadi pertimbangan berat.
Fenomena Broken Strings membuktikan bahwa ketika ada konten yang relevan, penting (terkait isu sosial seperti grooming), dan mudah diakses secara finansial, masyarakat kita akan menyerbu bacaan tersebut. Minat baca itu ada, tapi daya beli yang sering kali tidak sejalan dengan keinginan membaca.
Selain itu, ada faktor "rasa penasaran" yang dikelola dengan baik. Aurelie menggunakan kekuatannya sebagai public figure untuk menyuarakan isu penting. Ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran dan relevansi isu memegang peranan vital dalam menarik minat baca.
Solusi untuk Penerbit dan Pemerintah
Jika kita ingin literasi bukan sekadar jargon, perlu ada langkah konkret dari berbagai pihak agar buku tidak hanya menjadi pajangan di rak toko yang sepi pengunjung, beberapa di antaranya seperti:
- Digitalisasi dan Model Langganan
Penerbit harus mulai berani beralih atau setidaknya memperkuat platform digital dengan harga yang lebih murah. Model langganan seperti aplikasi streaming film mungkin bisa menjadi solusi agar masyarakat bisa mengakses ribuan judul dengan harga terjangkau.
- Subsidi Kertas dan Pajak
Pemerintah perlu hadir di sini. Tingginya harga buku salah satunya dipicu oleh mahalnya harga kertas dan pajak. Jika pemerintah serius ingin mencerdaskan bangsa, berikan insentif bagi industri penerbitan agar harga buku bisa ditekan seminimal mungkin.
- Distribusi "Buku Murah" ke Akar Rumput
Jangan hanya fokus pada toko buku mentereng di mal. Perbanyak perpustakaan komunitas atau pojok baca di ruang publik yang menyediakan buku-buku populer dan relevan, bukan hanya buku teks pelajaran yang membosankan.
Secara garis besar, viralnya Broken Strings adalah bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia masih punya gairah untuk membaca bacaan panjang, asalkan isinya menyentuh sisi kemanusiaan mereka dan aksesnya tidak membebani dompet.
Jangan lagi menghakimi masyarakat "kurang literasi" jika akses menuju literasi itu sendiri masih tertutup tembok harga yang tinggi. Sudah saatnya industri perbukuan dan pemerintah berkolaborasi: bikin buku jadi keren, tapi bikin harganya jadi masuk akal.
Bagaimana menurutmu? Apakah kamu salah satu yang ikut mengunduh ebook Aurelie karena gratis, atau memang karena peduli pada isunya?
Baca Juga
-
Stop Jadi Polisi Bacaan: Buku Fiksi dan Non-Fiksi Sama-Sama Bikin Kamu Lebih Manusia
-
Di Balik War Takjil: Ada Mesin Ekonomi Rakyat yang Bergerak Tanpa Henti
-
Perang Gender di TikTok: Saat Algoritma Memperuncing Polarisasi Relasi Laki-laki dan Perempuan
-
Antara Ibu dan Istri: Mengurai Rivalitas Perempuan yang Tak Pernah Diakui
-
Bedah Lirik Kuharap Duka Ini Selamanya dari Raisa: Kadang Kita Tidak Perlu 'Sembuh' dari Duka
Artikel Terkait
Kolom
-
Potret Generasi Sandwich dan Tekanan Finansial Menjelang Hari Raya
-
Di Balik Retorika Perang Narkoba: Ketimpangan Hukum dan Celah Struktural
-
Ramadan dan Kesempatan Kedua: Momentum Reset Diri yang Sering Terlupakan
-
iPusnas Error Berminggu-minggu: Bukti Literasi Masih Jadi Anak Tiri?
-
Serba-serbi Ramadan: Ikhlas Bersedekah atau Butuh Validasi Manusia?
Terkini
-
Membaca Gadis Minimarket: Satire Tajam Tentang Standar Ganda Masyarakat
-
4 Milky Toner Mengandung Ceramide yang Ampuh Perkuat Skin Barrier
-
Potret Pengungsi Perang Suriah dalam As Long as the Lemon Trees Grow
-
Menanti Tuhan yang Diam: Pergulatan Iman dalam Silence Karya Shusaku Endo
-
4 Sunscreen Glycerin untuk Kulit Kering saat Puasa, Tetap Lembap Seharian!