Hayuning Ratri Hapsari | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi AI (Pexels.com/Abet LIancer)
Yayang Nanda Budiman

Pada awal 2026, percakapan tentang kecerdasan buatan tak lagi berhenti di ruang seminar teknologi atau forum startup. Ia telah masuk ke ruang kerja harian, laptop mahasiswa, hingga ponsel pekerja lepas. Sejak kemunculan model generatif seperti ChatGPT, hingga Google Gemini, batas antara manusia dan mesin dalam memproduksi teks, gambar, kode, hingga analisis data kian menipis. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan memengaruhi pekerjaan, melainkan seberapa dalam dan siapa yang paling terdampak.

Bagi generasi muda yang baru memasuki pasar kerja, otomatisasi menghadirkan dua wajah. Di satu sisi, ia menjanjikan efisiensi dan peluang karier baru. Di sisi lain, ia memunculkan kecemasan akan hilangnya pekerjaan level pemula yang selama ini menjadi pintu masuk pengalaman profesional.

Disrupsi Pekerjaan Level Pemula

Banyak pekerjaan entry level bertumpu pada tugas repetitif dan administratif: merangkum dokumen, membuat laporan awal, menyusun konten dasar, atau mengolah data mentah. Jenis pekerjaan ini paling mudah diotomatisasi. Perusahaan yang dulu membutuhkan tiga staf junior untuk memproses laporan kini cukup mempekerjakan satu orang dengan bantuan AI.

Fenomena ini menciptakan paradoks. Anak muda dituntut memiliki pengalaman, sementara jalur untuk memperoleh pengalaman kian menyempit. Dalam sejumlah sektor seperti pemasaran digital, jurnalisme, dan teknologi informasi, AI mampu menghasilkan draft awal dengan cepat. Peran manusia bergeser dari produsen konten mentah menjadi editor, kurator, dan pengarah strategi.

Namun, otomatisasi tidak selalu berarti penghapusan total pekerjaan. Ia lebih sering mengubah komposisi tugas. Seorang analis data muda, misalnya, tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan dataset secara manual. Ia justru dituntut memahami konteks bisnis, merumuskan pertanyaan yang tepat, dan memvalidasi keluaran sistem. Artinya, nilai tambah manusia berpindah ke kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan.

Kecemasan tetap ada, terutama di kalangan pekerja kreatif. Jika ilustrasi dapat dibuat dalam hitungan detik, apakah desainer masih relevan. Jika artikel dapat disusun otomatis, apakah penulis kehilangan peran. Pertanyaan ini sah. Tetapi sejarah revolusi industri menunjukkan bahwa teknologi jarang benar-benar menggantikan manusia secara menyeluruh. Ia lebih sering menuntut penyesuaian kompetensi.

Skill yang Berubah, Bukan Hilang

Di tengah perubahan ini, diskursus tentang reskilling dan upskilling menjadi semakin sentral. Anak muda tidak cukup hanya menguasai satu keterampilan teknis. Mereka perlu memahami cara bekerja bersama AI.

Pertama, literasi digital tingkat lanjut menjadi kebutuhan dasar. Bukan sekadar mampu menggunakan aplikasi, tetapi memahami cara kerja algoritma, bias data, dan keterbatasan sistem. Tanpa pemahaman ini, pengguna rentan menerima hasil AI sebagai kebenaran mutlak.

Kedua, kemampuan prompt engineering atau merumuskan instruksi yang efektif menjadi keterampilan baru. Dalam praktiknya, kualitas keluaran AI sangat bergantung pada kualitas perintah. Anak muda yang mampu mengartikulasikan kebutuhan secara presisi akan memperoleh hasil yang lebih relevan dan bernilai.

Ketiga, soft skills justru semakin krusial. Empati, komunikasi interpersonal, negosiasi, dan kepemimpinan tidak mudah diotomatisasi. Dunia kerja 2026 menempatkan kolaborasi lintas disiplin sebagai norma. AI dapat membantu menyusun strategi, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan manusia yang memahami konteks sosial dan etika.

Keterampilan adaptif juga menjadi pembeda. Mereka yang cepat belajar teknologi baru cenderung lebih resilien. Dalam ekosistem kerja yang dinamis, kemampuan belajar ulang lebih penting daripada sekadar menguasai satu perangkat lunak tertentu.

Kolaborasi atau Kompetisi

Alih-alih memposisikan AI sebagai musuh, sebagian anak muda mulai melihatnya sebagai mitra. Seorang content creator, misalnya, memanfaatkan AI untuk riset awal dan penyusunan kerangka, lalu mengembangkan narasi dengan perspektif personal. Seorang programmer menggunakan asisten kode untuk mempercepat debugging, tetapi tetap bertanggung jawab atas arsitektur sistem.

Model kolaborasi ini menggeser fokus dari produktivitas semata ke kualitas dan kreativitas. AI mengerjakan bagian mekanis, manusia mengerjakan bagian reflektif dan strategis. Dalam skema ini, ancaman muncul bukan dari teknologinya, melainkan dari ketidakmauan beradaptasi.

Meski demikian, tanggung jawab tidak sepenuhnya berada pada individu. Institusi pendidikan dan perusahaan perlu menyesuaikan kurikulum dan pelatihan. Jika kampus masih mengajarkan metode lama tanpa integrasi teknologi terkini, lulusan berisiko tertinggal. Begitu pula perusahaan yang hanya mengejar efisiensi tanpa investasi pada pengembangan karyawan akan menciptakan ketimpangan baru.

Pada akhirnya, pertanyaan AI sebagai rekan kerja atau ancaman bergantung pada posisi dan kesiapan masing-masing. Bagi mereka yang pasif, otomatisasi bisa terasa seperti gelombang yang menenggelamkan. Bagi yang proaktif, ia menjadi alat untuk memperluas kapasitas.

Anak muda 2026 berada di persimpangan penting. Mereka tumbuh dalam era digital, tetapi kini harus menegosiasikan ulang makna kompetensi dan profesionalisme. Jika revolusi industri sebelumnya menuntut tenaga fisik dan kemudian kecakapan teknis, revolusi AI menuntut kombinasi literasi teknologi, nalar kritis, dan sensitivitas etis.