Industri literasi digital saat ini memberikan ruang yang sangat luas bagi siapa saja untuk menjadi penulis. Namun, kemudahan ini sering kali menjadi pedang bermata dua.
Muncul fenomena di mana penulis merasa frustrasi hingga marah ketika naskahnya tidak kunjung terbit di platform yang menggunakan sistem kurasi editor, atau ketika naskahnya sepi peminat di platform self-publishing.
Sayangnya, kemarahan tersebut sering kali salah sasaran. Mulai dari menuduh editor tidak kompeten, menganggap platform melakukan penipuan (scam), hingga merasa iri pada penulis lain yang lebih sukses.
Padahal, sikap menyalahkan pihak eksternal hanya akan menghambat pertumbuhan seorang penulis. Alih-alih terus marah dan menyalahkan, coba lakukan beberapa hal ini.
Hal pertama yang harus dilakukan saat menghadapi penolakan atau kegagalan pasar adalah introspeksi diri. Penulis perlu bertanya secara jujur: "apakah naskah saya sudah memenuhi syarat dan ketentuan platform?" atau "apakah kualitas teknis tulisan saya sudah layak?"
Sering kali, naskah ditolak bukan karena subyektivitas editor semata. Namun karena tidak memenuhi standar dasar yang telah ditetapkan yang ditetapkan platform.
Salah satu jebakan terbesar bagi penulis adalah idealisme yang kaku. Banyak yang 'kekeh' menulis apa yang mereka sukai tanpa memedulikan apakah hal tersebut disukai pasar atau tidak.
Padahal, penting untuk dipahami bahwa pembaca adalah raja. Jadi agar sebuah naskah laku, penulis harus mampu meramu cerita yang relevan dan menarik bagi pembaca. Posisikan diri sebagai pembaca, bukan terus bersikeras pada idealisme yang tidak disukai pembaca.
Selanjutnya, adaptasi terhadap tren karena dunia literasi terus bergerak. Penulis yang enggan peka terhadap tren dan malas beradaptasi akan dengan mudah tertinggal.
Ini bukan berarti menghilangkan jati diri, melainkan cara mengemas pesan agar bisa diterima oleh audiens yang lebih luas.
Terakhir, pentingnya mentalitas "baja". Di atas segalanya, kunci utama bertahan di dunia kepenulisan adalah mental yang kuat.
Penolakan dari editor atau angka penjualan yang rendah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan umpan balik (feedback) untuk perbaikan.
Jika setiap kegagalan disambut dengan amarah dan menyalahkan orang lain, maka energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki naskah justru habis terbuang sia-sia.
Kegagalan sering kali bukan tanda bahwa platform tersebut buruk, melainkan indikasi bahwa naskah kita memang masih perlu dipoles.
Penulis yang sukses adalah mereka yang tidak cepat menyerah saat ditolak, tidak putus asa saat sepi pembaca, dan tidak mencari kambing hitam atas kegagalannya sendiri.
Dengan memiliki sikap yang terbuka terhadap kritik dan kemauan untuk terus belajar, naskah yang tadinya "tidak layak" sangat mungkin bertransformasi menjadi karya best-seller di masa depan. Mari berhenti menggerutu dan mulai kembali ke meja kerja untuk memperbaiki karya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Menulis demi Cinta atau Cuan: Saat Kata-kata Kehilangan Magisnya
-
Siap Rilis Film Baru, Charlie's Angels Gandeng Penulis Crazy Rich Asians
-
Dilema Seorang Penulis: Antara Idealisme Bahasa dan Target Pasar
-
Autentisitas dan Anti-Mainstream sebagai Mata Uang di Ekonomi Platform
-
Bukan Asal Bikin Prompt: Cara Menghasilkan Tulisan AI yang Berjiwa dan Berkualitas
Kolom
-
Ketimbang MBG Selama Ramadan, Mendingan Penuhi Tiga Kebutuhan Urgent Ini?
-
Mengapa PTN Membatasi Tahun Lulusan? Menyoal Keadilan Pendidikan Bagi Pejuang Gap Year
-
Perpustakaan: Berubah atau Jadi Museum Fosil Pengetahuan?
-
Lapor Kekerasan Seksual Malah Dikasih Tasbih: Sejak Kapan UPTD PPA Jadi Majelis Taklim?
-
Subscription Fatigue: Ketika Hidup Menjadi Versi Trial yang Mencekik Saldo