M. Reza Sulaiman | NK. Saputra
Ngabuburit menunggu bedug Magrib tiba di bulan ramadan (dok. pribadi)
NK. Saputra

Ada yang berbeda pada sore hari di bulan Ramadan. Langit yang mulai meredup terasa lebih puitis, aroma gorengan dan kolak menyapa dari kejauhan, dan orang-orang berjalan dengan langkah yang seolah lebih sabar. Di Indonesia, momen itu punya satu nama yang begitu akrab: ngabuburit.

Kata ini bukan sekadar istilah populer musiman. Ia lahir dari akar budaya yang kuat. Secara etimologis, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda. Kata burit berarti sore hari atau waktu menjelang petang. Dengan imbuhan nga-, kata tersebut bermakna melakukan aktivitas di waktu sore. Awalnya, istilah ini digunakan masyarakat Sunda untuk menyebut kegiatan santai menjelang malam tanpa kaitan khusus dengan ibadah puasa.

Namun, Ramadan memberi makna baru pada kata itu. Sore hari berubah menjadi ruang penantian. Dari wilayah Jawa Barat, terutama kota seperti Bandung, istilah ini menyebar luas hingga akhirnya menjadi bagian dari kosakata nasional. Kini, hampir di seluruh Indonesia, ngabuburit menjadi simbol tak tertulis dari tradisi menunggu berbuka.

Di sinilah letak keunikannya. Tidak semua negara muslim memiliki istilah khas untuk menggambarkan momen menanti azan magrib. Indonesia, dengan kekayaan bahasanya, mampu merangkum suasana, aktivitas, dan rasa dalam satu kata. Ngabuburit bukan hanya tentang waktu, melainkan tentang pengalaman kolektif.

Dahulu, ngabuburit identik dengan kesederhanaan. Anak-anak bermain di lapangan kampung sambil sesekali menengok jam. Remaja duduk berderet di pinggir jalan, berbagi cerita ringan. Orang tua mengikuti pengajian atau berbincang santai di teras rumah. Tidak ada kemewahan, tetapi ada kehangatan yang terasa nyata.

Kini, wajahnya lebih beragam. Ada yang berburu takjil di pusat kuliner, ada yang mengikuti kajian Ramadan, berolahraga ringan, atau sekadar menikmati senja bersama keluarga. Media sosial pun ikut meramaikan, menjadikan ngabuburit sebagai momen yang dibagikan dan dirayakan bersama. Tradisi ini tidak hilang oleh zaman, justru tumbuh dan beradaptasi.

Menurut saya, daya tarik terbesar ngabuburit bukan pada aktivitasnya, melainkan pada makna menunggu itu sendiri. Di tengah budaya serba cepat, Ramadan mengajarkan kita untuk melambat. Ngabuburit menjadi latihan kecil tentang kesabaran dan pengendalian diri. Kita belajar bahwa tidak semua hal harus instan. Ada nilai dalam proses, ada makna dalam penantian.

Ketika azan magrib akhirnya berkumandang, rasa syukur terasa lebih dalam. Bukan hanya karena dahaga terlepaskan, melainkan karena kita telah melewati waktu dengan kesadaran. Sore yang tadinya terasa panjang berubah menjadi pengalaman yang membekas.

Ngabuburit juga menyatukan generasi. Ia menjadi cerita yang diwariskan tentang jajanan sederhana, tawa teman sebaya, dan suara azan yang ditunggu bersama. Dalam kesederhanaannya, ia membangun memori kolektif yang sulit tergantikan.

Pada akhirnya, ngabuburit adalah bukti bahwa kearifan lokal mampu tumbuh menjadi identitas nasional. Dari satu kata dalam bahasa Sunda, lahir tradisi yang memperkaya wajah Ramadan Indonesia. Ia sederhana, tetapi kuat. Ia ringan, tetapi bermakna.

Selama senja Ramadan masih menghadirkan rasa sabar dan harap, selama itu pula ngabuburit akan tetap hidup bukan sekadar istilah, melainkan napas budaya yang menghangatkan.