Hayuning Ratri Hapsari | Zuyyina Laksita Dewi
Ilustrasi fenomena berburu takjil (unsplash.com/Umar Ben)
Zuyyina Laksita Dewi

War, war apa yang mempersatukan? Tentu saja jawabannya adalah war takjil

Sudah masuk minggu kedua Ramadan, dan linimasa kita masih saja gaduh dengan istilah war takjil. Fenomena yang sudah ada sejak tiga tahun lalu dan ramai di media sosial, ternyata eksis hingga Ramadan 2026 ini. Narasi yang dibangun biasanya seragam, membahas betapa lucunya saudara-saudara kita yang non-muslim sudah "curi start" berburu kolak di jam tiga sore, sementara kita yang berpuasa masih lemas menahan lapar. Kita menyebutnya sebagai puncak toleransi yang dibalut komedi.

Tapi, pernah tidak kita melihat fenomena ini dari sudut pandang yang lebih "dalam" daripada sekadar konten TikTok?

Bagi saya, war takjil adalah fenomena ekonomi paling romantis sekaligus bukti bahwa rakyat Indonesia punya cara sendiri untuk saling menghidupi tanpa perlu instruksi birokrasi yang berbelit.

Diplomasi Gorengan dan Runtuhnya Sekat Sosial

Selama ini, kita sering terjebak dalam sekat-sekat eksklusivitas. Yang kaya makan di mal, yang menengah di kafe, dan yang bawah di warteg. Tapi saat war takjil tiba, semua sekat itu runtuh di depan gerobak gorengan yang sama.

Di sana, ada mbak-mbak kantoran dengan lanyard mentereng yang rela antre bareng pengemudi ojek online demi satu porsi tahu isi. Di sana juga, perbedaan keyakinan bukan lagi jadi pembatas, melainkan jadi kompetisi sehat: siapa cepat, dia dapat bakwan hangat. Inilah diplomasi makanan yang paling jujur. Kita tidak butuh seminar moderasi beragama kalau di pinggir jalan saja kita sudah bisa tertawa bareng sambil memperebutkan plastik terakhir es pisang ijo.

Subsidi Silang Tanpa Proposal

Hal yang jarang dibahas adalah bagaimana war takjil ini menjadi mesin penggerak ekonomi mikro yang luar biasa masif. Para pedagang dadakan—yang mungkin di hari biasa adalah ibu rumah tangga atau korban PHK—mendapatkan "suntikan" dana segar langsung dari kantong masyarakat lintas kelas dan lintas agama.

Bayangkan, uang dari mereka yang tidak berpuasa (non-muslim atau yang sedang berhalangan) mengalir deras ke kantong-kantong pedagang kecil yang sedang menjemput rezeki Lebaran. Ini adalah bentuk subsidi silang yang sangat organik. Tanpa sadar, fenomena "war" ini telah memastikan bahwa perputaran uang tidak hanya mandek di mal atau swalayan besar, tapi tumpah ruah ke aspal jalanan, ke tangan-tangan ibu kantin, dan ke dapur-dapur warga lokal.

Melawan Budaya Konsumerisme Korporat

Di tengah gempuran paket hampers mewah dari brand besar yang harganya selangit, war takjil mengingatkan kita pada esensi berbagi yang paling dasar: membeli dari tetangga sendiri. Fenomena ini secara tidak langsung mengajarkan kita untuk kembali ke pasar tradisional dan UMKM.

Kenapa kita begitu antusias "perang" takjil? Karena ada rasa thrill atau sensasi yang tidak didapatkan saat memesan makanan lewat aplikasi ojek online. Ada interaksi manusiawi, ada tawar-menawar, ada sapaan "makasih ya, Bu" yang jauh lebih hangat daripada sekadar notifikasi "pesanan selesai".

War yang Mempersatukan

Jadi, biarlah war takjil ini tetap riuh. Jangan anggap ini sebagai persaingan yang tidak sehat, tapi lihatlah sebagai cara alam semesta mendistribusikan kebahagiaan dan rezeki secara merata. Melalui seplastik kolak, kita belajar bahwa keberagaman itu tidak perlu selalu dibahas dengan bahasa langit yang rumit. Cukup dirayakan dengan saling berebut gorengan di sore hari yang gerah.

Pada akhirnya, di hadapan penjual takjil, kita semua sama: hamba Tuhan yang sama-sama haus dan sama-sama suka makan. Dan, keseruan ini adalah sesuatu unik yang tidak dapat dibeli hingga ramadhan tahun depan lagi. 

Kalau kamu, sudah memenangkan "war" apa sore ini? Atau malah jadi bagian dari tim yang menyumbang omzet untuk pedagang takjil meskipun nggak ikut puasa?