Bimo Aria Fundrika | Zuyyina Laksita Dewi
ilustrasi Perang Gender di TikTok (freepik)
Zuyyina Laksita Dewi

Belakangan ini, kalau kamu buka TikTok, hampir mustahil untuk tidak menemukan konten yang isinya saling menyindir antar-gender. Ada semacam tren "adu nasib" dan "adu kriteria" yang semakin hari semakin kehilangan arah. Mulanya mungkin hanya sekadar konten lucu-lucuan atau POV, tapi lama-lama berubah menjadi medan perang verbal yang melelahkan.

Para perempuan sibuk mengunggah konten dengan narasi, "Jangan mau sama pria yang nggak punya finansial stabil," atau "Jangan mau diajak hidup susah dari nol." Seolah-olah, standar ekonomi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Tak mau kalah, kaum pria membalas dengan amunisi yang berbeda: fisik dan status sosial. Muncul konten balasan seperti, "Jangan mau sama perempuan gemuk," atau yang lebih ekstrem, membahas soal standar keperawanan dan kecantikan fisik.

Lucunya—atau mungkin mirisnya—ketika perempuan menyindir dompet, pria membalas dengan menyindir fisik. Saat perempuan bilang ogah menemani dari nol, pria membalas dengan, "Kalau nggak mau susah bareng, berarti kalau nanti aku sukses, sah-sah saja dong aku cari yang lain yang sesuai seleraku?"

Perdebatan ini pun berakhir di kolom komentar dengan ribuan dialog yang saling membela kaumnya masing-masing. Pertanyaannya: sejauh mana tren ini akan terus bergulir, dan benarkah ini tanda bahwa relasi gender kita sedang tidak baik-baik saja?

Lingkaran Setan "Aksi-Reaksi"

Apa yang kita lihat di TikTok saat ini sebenarnya adalah fenomena Echo Chamber atau ruang gema. Orang-orang hanya ingin mendengar suara yang setuju dengan mereka. Ketika satu konten "menyerang" gender tertentu muncul, algoritma akan membawa konten tersebut kepada mereka yang merasa tersinggung, lalu lahirlah konten balasan.

Secara psikologis, ini disebut sebagai In-group favoritism dan Out-group hostility. Kita merasa harus membela kelompok kita (gender kita) dan menyerang kelompok lain agar merasa "menang". Masalahnya, standar yang dilempar sering kali tidak sebanding (apple-to-apple). Ekonomi sering kali bersifat fluktuatif dan bisa diusahakan, sementara serangan terhadap fisik atau masa lalu perempuan sering kali dianggap sebagai serangan personal yang tidak etis dan menjatuhkan martabat.

Namun, di mata para kreator pria, mereka merasa ini adalah "balas dendam" yang adil. "Kalau kalian boleh realistis soal uang, kami boleh dong realistis soal selera mata?" Begitu narasi yang sering muncul. Padahal, jika logika ini terus dipakai, hubungan tidak lagi dibangun atas dasar rasa hormat, melainkan transaksi semata.

Dampak Psikologis: Hilangnya Empati

Tren ini menurut saya sangat tidak sehat. Pernikahan atau hubungan asmara yang seharusnya menjadi ruang aman, kini malah dipandang seperti sebuah kontrak bisnis atau kompetisi.

Dalam teori psikologi sosial, hubungan yang sehat dibangun di atas reciprocity (timbal balik) yang positif, bukan negatif. Jika yang dipertukarkan adalah sindiran, maka yang tumbuh adalah rasa tidak percaya (distrust). Para perempuan jadi takut bertemu pria karena dianggap hanya melihat fisik, sementara para pria jadi sinis terhadap perempuan karena dianggap hanya "matre".

Padahal, sejatinya pria dan wanita diciptakan sebagai dua sisi keping koin yang berbeda namun saling melengkapi. Laki-laki dengan tanggung jawabnya sebagai pelindung dan pencari nafkah, dan wanita dengan peran-peran emosional dan dukungannya yang tak ternilai. Mengadu domba kedua peran ini hanya akan menciptakan generasi yang sinis terhadap komitmen.

Berhenti Menjadikan Gender sebagai Kompetisi

Kita perlu sadar bahwa konten TikTok yang kita konsumsi adalah generalisasi yang berbahaya. Tidak semua pria tidak punya modal, dan tidak semua perempuan hanya mau uangnya saja. Hubungan itu jauh lebih kompleks daripada sekadar teks di video berdurasi 15 detik.

Jika kita terus-menerus memelihara rivalitas gender ini, kita sebenarna sedang membangun tembok penghalang untuk kebahagiaan kita sendiri. Bagaimana kita bisa jatuh cinta dengan tulus jika di dalam kepala kita penuh dengan "senjata" untuk menyerang pasangan?

Sudah saatnya kita berhenti saling menyindir di kolom komentar. Hubungan itu tentang kolaborasi, bukan kompetisi. Ekonomi bisa dibangun bersama, fisik bisa berubah seiring waktu, tapi rasa hormat yang sudah hilang karena kata-kata yang tidak etis—seperti soal keperawanan atau fisik—sering kali sulit untuk disembuhkan.

Mari kembali ke esensi dasar: menjadi manusia yang saling memanusiakan. Laki-laki bukan sekadar "ATM berjalan", dan perempuan bukan sekadar "pajangan fisik". Kita adalah partner, bukan rival.