Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Ilustrasi rupiah dengan dolar (Freepik/8photo)
Fauzah Hs

Hiruk-pikuk mengenai nilai tukar Rupiah yang sempat terperosok hingga nyaris menyentuh level Rp17.900 per Dollar AS belakangan ini sukses menyita perhatian publik. Di berbagai ruang diskusi, fokus kita hampir selalu habis untuk meratapi hal-hal yang langsung terlihat di permukaan, seperti melonjaknya harga beras, mahalnya biaya produksi barang industri, hingga dilema operasional gawai yang kian menjepit dompet.

Ditambah lagi, pernyataan santai dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengaku ikut stres namun tetap memastikan anggaran aman membuat kita cenderung hanya melihat dampak kurs dari kacamata inflasi harian. Padahal, jauh di dalam sistem keuangan negara kita, ada sebuah bom waktu yang sedang berdetak kencang namun jarang dipahami oleh orang awam, yaitu membengkaknya beban utang luar negeri akibat jeratan selisih kurs.

Sobat Yoursay, mari kita kesampingkan sejenak grafik ekonomi yang rumit dan analogikan masalah ini dengan kehidupan sehari-hari agar lebih mudah dicerna. Bayangkan kamu memiliki utang kepada tetangga sebelah rumah sebesar 100 Dollar AS ketika posisi kurs masih berada di level Rp15.000. Saat itu, utang Anda setara dengan Rp1,5 juta. Bulan berikutnya, tanpa kamu menambah utang baru satu sen pun, nilai tukar Rupiah mendadak jeblok hingga menyentuh Rp17.900 per Dollar AS. Secara otomatis, nilai utang yang harus kamu bayarkan kini melonjak menjadi Rp1,79 juta. Situasi pelik inilah yang sedang terjadi pada keuangan negara kita, di mana utang pokok dan bunga luar negeri membumbung tinggi secara fiktif hanya karena mata uang kita sedang kehilangan nilainya.

Dalam literatur ekonomi makro, kondisi ini sering disebut dengan potensi sovereign debt trap atau jebakan utang berdaulat yang membengkak secara diam-diam. Ketika pemerintah atau korporasi dalam negeri menerbitkan surat utang atau meminjam dana dari lembaga internasional dalam denominasi valuta asing, mereka terikat kontrak untuk mencicilnya menggunakan mata uang asing tersebut. Di tengah posisi fundamental ekonomi yang diklaim pemerintah masih cukup baik, hantaman sentimen global yang menyeret Rupiah ke level terendah harian tetap saja memaksa kita mengeluarkan lebih banyak lembaran Rupiah untuk membeli Dollar demi memenuhi kewajiban pembayaran tersebut.

Di sinilah kita harus mulai mengaktifkan kacamata kritis untuk melihat bagaimana pembengkakan utang ini berisiko mengacaukan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Setiap sen tambahan yang terbuang hanya untuk membayar selisih kurs utang luar negeri adalah ruang fiskal yang hilang untuk kesejahteraan rakyat.

Pos anggaran yang membengkak untuk pos pembayaran utang ini berisiko tinggi menguras atau bahkan memotong alokasi dana penting lainnya. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk mempertebal subsidi energi, memperbaiki fasilitas kesehatan di daerah terpencil, meningkatkan kesejahteraan guru hononer, hingga membangun infrastruktur publik yang inklusif, terpaksa dialihkan demi menjaga reputasi keuangan negara di mata kreditor internasional.

Sobat Yoursay, masalah utang negara ini bukanlah urusan elite politik atau para menteri di Jakarta semata yang posisinya jauh dari keseharian kita. Isu ini sangat relatable karena pada akhirnya, seluruh beban utang beserta bunga yang membengkak akibat fluktuasi kurs tersebut akan dipikul oleh satu kelompok utama, yaitu kita sendiri selaku pembayar pajak.

Ketika penerimaan negara terkuras untuk membayar kewajiban luar negeri, pemerintah berpotensi mengambil kebijakan yang kurang populer di masa depan, mulai dari ekstensifikasi objek pajak baru hingga penyesuaian tarif pajak guna menambal defisit anggaran yang melebar.

Oleh karena itu, kita harus tetap mendorong pemerintah untuk menerapkan tata kelola keuangan yang benar-benar berhati-hati dan transparan dalam mengelola portofolio utang. Langkah-langkah mitigasi jangka panjang seperti mengurangi penerbitan utang baru dalam mata uang asing dan mengoptimalkan pembiayaan domestik berbasis Rupiah harus dipercepat secara serius, bukan menjadi rencana sekunder saat situasi sudah telanjur darurat.

Sobat Yoursay, melek terhadap isu utang luar negeri adalah langkah awal kita sebagai masyarakat digital untuk naik kelas dalam memahami tata kelola negara yang sehat. Kita tentu berharap intervensi pemerintah di pasar Surat Berharga Negara (SBN) mampu mengembalikan kepercayaan investor dan membawa Rupiah kembali menguat ke level yang aman. Mari kita terus mengawal jalannya pengelolaan anggaran negara dengan cerdas, dan memastikan bahwa setiap Rupiah yang kita setorkan melalui pajak benar-benar digunakan untuk membangun ketahanan bangsa, bukan habis menguap di tengah pusaran badai mata uang global.