Lintang Siltya Utami | Irhaz Braga
Ilustrasi karyawan mengejar uang (Pixabay)
Irhaz Braga

Hari raya di Indonesia bukan sekadar momentum spiritual, melainkan juga peristiwa sosial yang sarat makna. Dalam konteks Islam, perayaan Idulfitri dimaknai sebagai hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun di ruang sosial, ia berkembang menjadi tradisi berkumpul, berbagi, dan menunjukkan perhatian kepada keluarga besar.

Di sinilah dimensi ekonomi ikut bekerja. Tunjangan Hari Raya (THR), mudik, pakaian baru, hidangan khas, hingga amplop untuk keponakan menjadi bagian dari ekspektasi kolektif. Secara kultural, praktik ini memperkuat solidaritas. Akan tetapi, bagi kelompok yang dikenal sebagai generasi sandwich, momen ini juga menghadirkan tekanan yang tidak ringan.

Generasi sandwich adalah mereka yang berada di “lapisan tengah”: menanggung kebutuhan orang tua sekaligus membiayai anak-anak. Di Indonesia, fenomena ini semakin terasa karena struktur keluarga besar masih kuat, sementara sistem jaminan sosial belum sepenuhnya menjangkau seluruh lansia. Ketika hari raya tiba, beban yang sebelumnya rutin menjadi berlipat: kebutuhan bulanan tetap berjalan, sementara kebutuhan musiman melonjak.

Dalam situasi tersebut, hari raya yang idealnya menjadi ruang refleksi justru berubah menjadi daftar pengeluaran yang panjang. Tekanan sosial untuk “tampak mampu” sering kali memperkeruh keadaan. Media sosial memperkuat standar perayaan: unggahan mudik nyaman, busana seragam keluarga, hingga hampers premium. Semua itu membentuk lanskap ekspektasi baru yang tak selalu sejalan dengan kapasitas finansial.

Struktur Ekonomi Keluarga dan Realitas Penghasilan

Masalah generasi sandwich bukan semata soal gaya hidup, tetapi berakar pada struktur ekonomi keluarga. Banyak orang tua dari generasi sebelumnya tidak memiliki dana pensiun memadai. Sektor informal yang dominan membuat tabungan hari tua terbatas. Anak-anak yang kini berada pada usia produktif akhirnya menjadi tumpuan.

Di sisi lain, biaya hidup perkotaan terus meningkat. Cicilan rumah, kendaraan, pendidikan anak, serta kebutuhan pokok menyita sebagian besar pendapatan. Ketika hari raya mendekat, tambahan pengeluaran seperti tiket transportasi, bingkisan, dan zakat fitrah menjadi pos baru yang harus dipenuhi.

Sebagian generasi sandwich mengandalkan THR untuk menutup kebutuhan tersebut. Namun THR sering kali tidak cukup, bahkan habis sebelum hari raya tiba. Tak jarang, pilihan terakhir adalah menggunakan kartu kredit, pinjaman daring, atau mengambil cicilan tambahan. Pola ini berisiko menciptakan siklus utang pasca-lebaran.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perayaan keagamaan dan budaya berinteraksi dengan realitas ekonomi modern. Ada ketegangan antara nilai berbagi dan kemampuan membayar. Jika tidak dikelola dengan bijak, momen yang seharusnya mempererat hubungan keluarga justru memicu stres finansial dan konflik domestik.

Penting untuk dicatat, tidak semua generasi sandwich mengalami tekanan yang sama. Tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan literasi keuangan turut menentukan daya tahan finansial. Mereka yang memiliki perencanaan keuangan tahunan cenderung lebih siap menghadapi lonjakan pengeluaran musiman. Namun bagi pekerja dengan penghasilan tetap minimum atau tidak tetap, ruang manuver sangat terbatas.

Mencari Keseimbangan antara Tradisi dan Ketahanan Finansial

Menghadapi realitas tersebut, diperlukan pendekatan yang lebih rasional dan terbuka. Pertama, keluarga perlu membangun komunikasi jujur mengenai kapasitas ekonomi. Budaya sungkan sering membuat generasi sandwich memikul beban sendirian. Padahal transparansi dapat membantu menyesuaikan ekspektasi bersama.

Kedua, perencanaan keuangan berbasis siklus tahunan menjadi kunci. Hari raya bukan peristiwa mendadak; ia hadir pada waktu yang relatif pasti setiap tahun. Menyisihkan dana secara bertahap sejak awal tahun dapat mengurangi ketergantungan pada utang jangka pendek.

Ketiga, redefinisi makna perayaan perlu didorong. Esensi hari raya terletak pada silaturahmi dan empati, bukan pada besarnya konsumsi. Mengurangi standar simbolik tanpa menghilangkan substansi kebersamaan dapat menjadi langkah adaptif di tengah tekanan ekonomi.

Di tingkat yang lebih luas, fenomena generasi sandwich juga menuntut perhatian kebijakan publik. Penguatan sistem pensiun, jaminan sosial lansia, dan edukasi literasi keuangan menjadi bagian dari solusi struktural. Tanpa itu, beban akan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menjelang hari raya, generasi sandwich berdiri di persimpangan antara tradisi dan tanggung jawab ekonomi. Mereka berusaha menjaga martabat keluarga sekaligus mempertahankan stabilitas keuangan. Tantangannya bukan memilih salah satu, melainkan menemukan keseimbangan yang manusiawi.