M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Coboy Junior (instagram/@coboyjuniorr)
Sherly Azizah

Awalnya saya mengira tren yang berseliweran di lini masa belakangan ini hanyalah bentuk candaan musiman anak muda yang kekurangan hiburan. Ekspektasi awal saya saat melihat video-video pendek menggunakan latar lagu "EA" milik Coboy Junior adalah sebuah kepasrahan pada rasa geli dan nostalgia masa-masa sekolah dasar.

Namun, kesan pertama itu runtuh seketika saat algoritma memaksa saya mendengarkan kembali lagu tersebut secara utuh. Bukan rasa geli yang dominan, melainkan sebuah respons emosional berupa senyum lebar dan kesadaran bahwa kita pernah berada di era di mana menyatakan cinta bisa seberani dan sefrontal itu. Menarik sekali melihat bagaimana sebuah lagu yang dahulu sering dicap sebagai konsumsi "bocah ingusan" kini justru naik kelas menjadi sebuah mahakarya pop yang dirayakan kembali dengan penuh sukacita di media sosial.

Lagu ini pada dasarnya mengusung genre teen-pop yang ceria dengan ketukan yang adiktif, mengangkat tema utama tentang kasmaran masa remaja dan keberanian menyatakan cinta pertama. Jika dikaitkan dengan konteks situasi saat ini, ketika dinamika asmara anak muda modern dipenuhi dengan istilah talking stage yang melelahkan, penuh gengsi, dan penuh ketidakpastian, lagu ini hadir sebagai antitesis yang segar.

Isu yang diangkat sebenarnya sangat sederhana, yaitu kejujuran dalam menyukai seseorang. Relevansinya dengan audiens hari ini justru terletak pada rasa rindu akan hubungan yang lugas, tanpa kode-kode rumit, dan tanpa ketakutan akan penolakan yang berlebihan.

Secara garis besar, cerita yang dibangun dalam narasi lagu ini berpusat pada konflik internal seorang remaja laki-laki yang sedang mengumpulkan keberanian untuk mendekati perempuan pujaannya. Tanpa harus membeberkan keseluruhan isi lagu, narasi ini menguraikan fase-fase pendekatan yang penuh dengan letupan energi positif.

Konflik utamanya bukan tentang kesedihan atau patah hati, melainkan perjuangan melawan rasa gugup demi meyakinkan sang pujaan hati bahwa perasaan yang ditawarkan adalah sebuah ketulusan yang murni, sebuah potret cinta monyet yang berjalan dengan kecepatan penuh tanpa rem.

Mari kita selami bagian paling krusial yang mendadak viral dan memicu perdebatan estetika di media sosial, yaitu bagian rap yang dibawakan oleh Bastian Steel. Penggalan lirik yang berbunyi, "Andai kamu jadi gula aku pasti semutnya, kan ku sebrangi lautan samudra.. baru kali ini aku jadi galau gini, cepat terima aku cinta pertamaku ..." adalah sebuah ledakan magis yang sangat genius.

Secara personal, respons emosional saya saat mendengarnya adalah perpaduan antara gemas dan takjub. Penulis lirik dengan berani menabrakkan metafora klasik yang hampir klise (gula dan semut, menyeberangi samudra) dengan pernyataan hiperbolis khas remaja yang sedang meledak-ledak.

Respons saya menangkap bahwa kekuatan bagian rap ini terletak pada ritme penyampaian Bastian yang ekspresif dan penuh percaya diri. Ada semacam keberanian yang murni di sana; sebuah desakan emosional yang menuntut kepastian ("cepat terima aku") namun dibungkus dengan kepolosan yang membuatnya tidak terkesan memaksa, melainkan justru menggemaskan.

Kelebihan utama dari karya ini berada pada kemampuannya menjaga suasana hati pendengar agar tetap berada di level tertinggi. Aransemennya yang dinamis dan pembagian vokal yang rapi membuat lagu ini tidak membosankan meski diputar berulang kali.

Lagu ini berhasil menangkap esensi sejati dari musik pop, yaitu menghibur tanpa beban. Namun, jika harus menilai kekurangannya secara proporsional, penggunaan metafora dalam liriknya memang terasa sangat kekanak-kanakan jika dinilai dengan standar sastra yang berat. Beberapa transisi menuju bagian rap juga terdengar sedikit dipaksakan bagi telinga yang terbiasa dengan struktur lagu modern yang lebih halus.

Lagu "EA" ini tampaknya sangat cocok dinikmati oleh siapa saja yang sedang membutuhkan suntikan energi positif, mereka yang merindukan masa-masa sekolah yang kasual, atau siapa pun yang sedang lelah dengan kerumitan hubungan orang dewasa. Kesan akhir yang tertinggal setelah lagu ini selesai berputar adalah sebuah kehangatan yang menyenangkan.

Coboy Junior, melalui bagian rap Bastian yang ikonik, berhasil membuktikan bahwa cinta pertama tidak selamanya harus berakhir dengan tangisan, terkadang ia hanya perlu dirayakan dengan sedikit keberanian, metafora yang agak berlebihan, dan rasa percaya diri yang ugal-ugalan.

Identitas Karya

  • Judul: #Eeeaa
  • Penyanyi: Coboy Junior
  • Tahun rilis: 2013
  • Genre: Pop
  • Durasi: 04.19 menit di Spotify