Bimo Aria Fundrika | Vicka Rumanti
Ilustrasi berburu takjil (Freepik/freepik)
Vicka Rumanti

Di tengah kemudahan layanan pesan antar dan budaya serba instan, generasi muda justru memilih berdesakan di pinggir jalan menjelang waktu berbuka puasa. Fenomena berburu takjil yang ramai di berbagai kota setiap Ramadan ternyata bukan sekadar tren media sosial, melainkan memiliki makna yang lebih dalam.

Hasil riset Populix menunjukkan bahwa bagi Gen Z dan milenial, berburu takjil telah menjadi tradisi khas Ramadan yang terasa sakral. Sebanyak 41 persen responden anak muda menyatakan aktivitas tersebut bukan hanya bentuk self-reward setelah berpuasa, tetapi ritual yang tidak tergantikan.

Research Director Populix, Susan Adi Putra, menjelaskan bahwa aktivitas ini memiliki dimensi emosional dan sosial yang kuat. “Anak muda melihat berburu takjil sebagai bagian dari pengalaman Ramadan yang utuh. Ada unsur tradisi dan kebersamaan yang tidak bisa digantikan oleh layanan digital,” ujarnya.

Survei bertajuk “Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial” dilakukan pada 18–19 Februari 2025 melalui platform PopSurvey terhadap 1.000 responden. Komposisi responden seimbang antara laki-laki dan perempuan, dengan 93 persen beragama Islam serta mayoritas berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas.

Data menunjukkan lebih dari separuh responden membeli takjil hampir setiap hari selama Ramadan. Angka tersebut menandakan bahwa aktivitas ini bukan sekadar transaksi konsumsi, melainkan bagian dari pola sosial yang berulang dan membentuk kebiasaan kolektif.

Secara etimologis, istilah “takjil” berasal dari bahasa Arab ‘ajila’ yang berarti menyegerakan berbuka. Dalam praktik di Indonesia, maknanya bergeser menjadi ragam makanan dan minuman ringan untuk membatalkan puasa, mulai dari gorengan, kolak, hingga aneka minuman manis.

Namun, bagi generasi muda, pengalaman berburu takjil melampaui urusan makanan. Aktivitas ini menghadirkan interaksi langsung di ruang publik—sesuatu yang semakin jarang terjadi di tengah dominasi layar gawai. Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan, antrean panjang, hingga suasana riuh menjelang magrib menjadi pengalaman sensorik yang tidak bisa ditiru oleh aplikasi.

Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep Joy of Missing Out (JOMO), yakni perasaan bahagia saat memilih meninggalkan aktivitas digital demi pengalaman nyata. Dalam konteks Ramadan, war takjil menjadi bentuk digital detox yang alami dan kolektif.

Di tengah modernisasi dan kemudahan teknologi, kebutuhan akan interaksi fisik dan pengalaman bersama tetap bertahan. Ramadan bukan hanya momen ibadah personal, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan beragam lapisan masyarakat di titik yang sama: trotoar dan lapak takjil.

Dengan demikian, berburu takjil bagi Gen Z bukan sekadar soal membeli makanan untuk berbuka. Aktivitas tersebut telah menjelma menjadi ritual sosial yang memperkuat rasa kebersamaan dan menghadirkan makna tersendiri dalam perayaan Ramadan.