Pernah nggak sih kita kepikiran, kenapa ya orang yang rajin sedekah hidupnya kelihatan asyik-asyik saja? Padahal kalau dihitung pakai kalkulator, uang mereka harusnya berkurang.
Lucunya, riset dari Greater Good Science Center di UC Berkeley justru bilang kalau orang yang suka memberi itu malah lebih bahagia dan sehat karena otaknya memproduksi hormon "senang". Jadi, secara ilmiah pun, berbagi itu sebenarnya "hadiah" buat diri kita sendiri, bukan cuma buat yang menerima.
Tapi jujur saja, logika kita sering kali nggak nyambung sama teori itu. Di kepala kita, rumusnya gampang: kalau punya uang 100 ribu terus disedekahkan 50 ribu, ya sisanya tinggal 50 ribu.
Takut kurang, takut besok nggak bisa jajan, atau takut tabungan nggak cukup buat beli baju Lebaran adalah hal yang manusiawi banget. Kita sering terjebak dalam "logika pelit" karena merasa harta itu hasil capek kita sendiri.
Nah, di bulan Ramadan ini, kita sebenarnya lagi diajak buat "pindah jalur" ke logika yang berbeda. Sebut saja Matematika Langit. Ini adalah logika yang nggak bakal diajarkan di sekolah mana pun, tapi efeknya nyata banget di kehidupan sehari-hari.
Bayangkan sedekah itu seperti kita lagi memotong dahan pohon. Kalau dilihat sekilas, pohonnya jadi kelihatan botak dan kasihan. Tapi buat orang yang ngerti tanaman, pemangkasan itu justru perlu supaya nutrisinya nggak terbuang ke dahan yang kering. Dengan dipotong, pohon itu justru punya ruang buat tumbuh tunas baru yang lebih segar dan buah yang lebih lebat. Sedekah itu cara kita "memotong" rasa egois supaya rezeki yang lebih berkah bisa masuk.
Tapi ingat ya, "kaya" gara-gara sedekah itu nggak selalu berarti besok pagi saldo ATM kita mendadak nambah nolnya. Kalau kita sedekah 10 ribu terus berharap besok dapat 100 ribu, itu namanya bukan berbagi, tapi lagi berharap "jackpot".
Kekayaan hasil sedekah itu seringnya muncul dalam bentuk "biaya yang nggak jadi keluar". Pernah ngerasa nggak, ada bulan-bulan di mana uang kita habis nggak jelas? Entah motor rusak, HP jatuh, atau mendadak sakit yang biaya berobatnya mahal banget. Nah, sedekah itu fungsinya kayak asuransi gaib. Kita mungkin merasa uang berkurang di dompet, tapi Tuhan menjauhkan kita dari pengeluaran-pengeluaran yang bikin pusing itu. Ujung-ujungnya, kita tetap merasa cukup, kan?
Selain itu, sedekah punya efek "ajaib" buat mental kita. Saat kita memberi, otak kita diam-diam berbisik: "Eh, ternyata aku orang yang punya ya, makanya bisa ngasih." Perasaan "punya" inilah yang bikin kita merasa kaya beneran. Orang yang merasa cukup nggak bakal pernah merasa miskin, mau berapa pun saldo di rekeningnya.
Di zaman sekarang, kita sering diajari buat terus-terusan "ngambil" dan "pamer". Sedekah hadir sebagai cara paling keren buat melawan sifat serakah itu. Kita jadi pembuktian hidup bahwa kita yang mengatur uang, bukan uang yang mengatur (dan menakut-nakuti) kita.
Jadi, mumpung masih bulan baik, coba deh sekali-kali kita lawan ketakutan diri sendiri. Kasih sesuatu buat orang lain, terutama saat kita sendiri lagi merasa pas-pasan. Rasakan sendiri gimana rasanya hati jadi lebih plong dan enteng. Karena pada akhirnya, harta yang beneran jadi milik kita bukanlah yang kita simpan rapat-rapat sampai karatan, tapi yang kita titipkan lewat tangan orang lain.
Matematika manusia itu terbatas, tapi kebaikan Tuhan itu nggak ada batasnya. Jadi, hari ini mau hitung-hitungan pakai kalkulator yang mana?
Baca Juga
-
Retorika Pidato Presiden di Nganjuk, Menenangkan atau Menidurkan Logika?
-
Tentang Dolar dan Orang Desa: Meluruskan Logika Pidato Presiden di Nganjuk
-
Menanam Cahaya di Negeri Kelelawar
-
Sambo S2 di Lapas Pakai Beasiswa, Logika Kita yang Rusak atau Dia yang Sakti?
-
Nadiem, 18 Tahun Bui, dan Matinya Nyali Para Profesional Masuk Birokrasi
Artikel Terkait
Kolom
-
Menggugat Integritas di Balik Tanding Ulang LCC Empat Pilar MPR RI
-
In This Economy, Apakah Nongkrong di Kafe Estetik Masih Worth It?
-
Kenapa Baca Banyak Buku Tidak Otomatis Membuat Seseorang Pandai Menulis?
-
Dilema Finansial Perempuan: Gaji Tak Seberapa, Ekspektasi Setinggi Langit
-
Budaya Belanja Generasi Sekarang: Antara Self-Reward dan Self-Destruction
Terkini
-
Perebutan Takhta Kruger-Brent dan Ambisi Membunuh di Mistress of the Game
-
4 Skin Tint SPF 40 Lindungi Kulit dari Sinar Matahari agar Cegah Flek Hitam
-
Sinopsis The Crash, Film Dokumenter tentang Kecelakaan Maut yang Gegerkan Amerika Serikat
-
Taeyong NCT Luapkan Insting, Ambisi, dan Kebebasan Artistik di Lagu WYLD
-
Pecinan Kota Malang dan Luka Panjang Etnis Tionghoa Pasca G30S