Ada hal yang tak pernah saya duga ketika pertama kali menjalankan puasa Ramadan di Yogyakarta. Ia bukan persoalan terawih yang panjang atau pendek, bukan pula tentang perbedaan rakaat yang kerap menjadi bahan perdebatan panjang setiap tahunnya. Bukan itu yang menarik perhatian saya saat ini, yang menarik perhatian saya justru sesuatu yang sering terdengar remeh, sebuah kata yang selama ini terasa begitu saja: tak’jil. Kata yang sudah saya kenal cukup lama, yang maknannya sudah saya anggap selesai, ternyata di kota ini seperti menemukan kehidupan baru.
Sejak kecil, kata takjil dalam pemahaman saya merupakan makanan ringan pembuka puasa. Ia identik dengan kurma yang manis legit, kolak pisang yang legit dan dan nikmat, es buah yang berembun dan menyegarkan, kolak yang gurih dan manis, atau bahkan gorengan yang hangat disantap sebelum kumandang azan belum benar-benar selesai terdengar. Takjil merupakan sebuah jeda, ia bukan makan malam, ia sekadar pengantar sebelum menu utama. Bahkan secara tidak sadarpun, saya selalu membedakan dengan tegas antara ”tak’jil” dan ”makan besar”, dimana saru merupakan makanan ringan dan simbolik, dan yang lainya berat dan tentunya mengenyangkan.
Akan tetapi, di Yogyakarta ini saya menemukan hal yang berbeda, seolah-olah garis besar yang selama ini saya pahami perlahan dihapus. Setiap sore menjelang magrib, lantai masjid digelar dengan plastik panjang, kertas nasi yang disambung-sambung, bahkan hanya beralaskan karpet sejadah panjang saja. Jamaah duduk berderet, bahu hampir saling bersentuhan. Di depan para jamaah biasanya sudah tersedia satu paket: air mineral, kurma, makanan ringan, dan tak lama kemudian datang kotak nasi lengkap dengan lauk-pauk yang menggugah selera makan. Tidak ada jeda untuk pulang, tak ada babak kedua bernama makan besar di rumah. Semua selesai di situ, dalam satu tarikan kebersamaan, dan semua itu tetap disebut dengan satu kata yakni ”Tak’jil”.
Saya duduk di antara orang-orang yang tak saya kenal. Seorang bapak tua dengan sarung lusuh. Mahasiswa yang masih mengenakan jaket almamater. Pekerja yang mungkin belum sempat pulang. Azan maghrib berkumandang, kami berbuka dengan kurma dan air. Beberapa menit setelah itu, kotak nasi dibuka. Tidak ada perubahan istilah. Tidak ada yang merasa perlu menyebutnya “makan malam bersama.” Semua mengalir saja dalam satu kata yang sama.
Di situ saya mulai merasa bahwa yang saya saksikan bukan sekadar praktik berbuka, melainkan pergeseran makna yang halus tetapi dalam. Secara asal-usul, takjil berasal dari ta‘jl (menyegerakan). Yang dianjurkan adalah menyegerakan berbuka ketika waktunya tiba. Artinya, sejak awal takjil bukan tentang jenis makanan, melainkan tentang sikap terhadap waktu dan nikmat. Tetapi dalam perjalanan budaya kita, ia menyempit menjadi makanan ringan pembuka. Dan di masjid-masjid Yogyakarta, ia justru melebar kembali, menjadi seluruh rangkaian berbuka itu sendiri.
Masjid di bulan Ramadan memang selalu memiliki wajah yang berbeda. Ia bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat berbagi. Di sana, batas antara kaya dan sederhana menjadi samar. Semua duduk di lantai yang sama. Semua menunggu azan yang sama. Semua membuka kotak nasi dengan gerakan yang hampir serempak. Tak ada daftar tamu. Tak ada pertanyaan tentang latar belakang. Tak ada rasa sungkan karena semua merasa diundang oleh waktu yang sama: maghrib.
Saya menyadari, mungkin di sinilah wajah Ramadan yang paling jujur—ia mengubah fungsi ruang ibadah menjadi ruang sosial tanpa kehilangan kesakralannya. Takjil di masjid bukan hanya tentang mengganjal perut sebelum tarawih. Ia adalah pernyataan diam-diam bahwa tidak seorang pun seharusnya berbuka sendirian. Bahwa bahkan dalam ibadah yang sangat personal seperti puasa, ada dimensi komunal yang tak bisa diabaikan.
Kata takjil di sini menjadi simbol yang lebih luas daripada definisi kamus mana pun. Ia bukan lagi soal ringan atau beratnya makanan. Ia bukan lagi soal pembuka atau utama. Ia adalah segala yang disegerakan agar kebersamaan tetap terjaga. Ia adalah nasi hangat yang dibagikan tanpa banyak tanya. Ia adalah air mineral yang diletakkan rapi oleh tangan-tangan yang mungkin tak pernah disebut namanya.
Maka barangkali, dari lantai-lantai masjid itulah saya belajar sesuatu yang tak saya temukan dalam perdebatan teoretis tentang ibadah: bahwa makna sering kali lahir dari praktik, bukan dari definisi. Bahwa bahasa bisa berubah, tetapi nilai yang dikandungnya tetap mencari jalan untuk hidup. Jika Ramadan memiliki wajah di sekitar saya tahun ini, maka wajah itu adalah wajah jamaah yang duduk melingkar di masjid, membuka kotak nasi yang tetap mereka sebut takjil. Sebuah kata yang berubah makna, tetapi justru semakin mendekatkan orang-orang yang mengucapkannya.
Baca Juga
-
Sepiring Sambal Ati di Ujung Takbir
-
CERPEN: Basa-basi di Balik Mesin Kopi, Saat Rindu Tidak Tahu Diri
-
Haus Itu Minum, Bukan Mencari Validasi: Refleksi Kebutuhan Diri di Era Pamer
-
Sekolah Membunuh Rasa, Lalu Apa Kabar Kreativitas Kita?
-
Membaca Ulang Kepada Uang: Puisi tentang Sederhana yang Tak Pernah Sederhana
Artikel Terkait
Kolom
-
Dilematika Sahur on The Road, Solidaritas dan Budaya Euforia Perkotaan
-
Tuntutan Hukuman Mati untuk ABK Fandi: Ketegasan Hukum yang Keliru?
-
Filosofi Gorengan: Mengapa Ia Tak Tergantikan Jadi Takjil Buka Puasa 2026?
-
Ketika Helm Baja Menjadi Senjata: Saatnya Memulangkan Brimob ke Posnya
-
Di Balik Amplop Lucu Lebaran, Ada Dompet yang Menjerit Pelan
Terkini
-
5 Rekomendasi Film Baru di Bioskop Pekan Ini, Ada Marty Supreme
-
Riwayatnya Lenyap Dalam Dekapan Rajah, dan dalam Hunusan Peluru
-
Selamat! Rose BLACKPINK jadi Artis K-pop Pertama Raih Trofi BRIT Awards
-
Gak Usah Sok Paling Tangguh, Setiap Generasi Punya Masalahnya Sendiri!
-
Lika-Liku Hidup Santri di Buku Setegar Batu Karang, Seindah Senja Sore