M. Reza Sulaiman | Suhendrik Nur
Ilustrasi Kecewa (Pexels/Gerd Altmann)
Suhendrik Nur

Tulisan ini diawali oleh salah satu hal kecil yang diam-diam mengganggu cara saya memandang cinta; bukan karena ia rumit, melainkan justru karena terlalu sederhana.

Semua ini berawal dari pertanyaan ringan yang dilontarkan oleh seorang sahabat, "Bagaimana gen sandwich bisa mencintai seseorang dengan tenang tanpa memikirkan hal-hal yang tidak perlu?"

Pertanyaan itu terdengar sepele, tetapi entah kenapa ia memilih menetap lebih lama dari yang seharusnya. Saya melihat seseorang mencintai dengan tenang, tanpa banyak tanya, tanpa gelisah yang berlebihan, tanpa dorongan untuk memastikan hal-hal yang sejak awal memang tidak pernah bisa dipastikan. Tidak ada overthinking yang berisik, tidak ada kecemasan yang berlarut-larut, tidak ada skenario buruk yang diam-diam kita susun begitu rapi di kepala.

Anehnya, justru ketenangan itu terasa janggal. Sebab selama ini, kita terbiasa percaya bahwa cinta selalu datang bersama kegaduhan; bahwa mencintai berarti siap dihantui kemungkinan kehilangan, siap mencurigai perubahan, siap menahan diri agar tidak jatuh terlalu dalam supaya tidak terlalu sakit ketika semuanya berakhir. Maka, ketika saya melihat cinta yang berjalan tanpa ribut di kepala, saya justru bertanya: ini dia yang terlalu santai, atau kita yang selama ini terlalu takut?

Rasa takut itu berkembang pelan di kepala, seperti suara-suara kecil yang tidak pernah benar-benar diam: "Bagaimana kalau kamu gagal?", "Bagaimana kalau kamu menyakitinya tanpa sadar?", "Bagaimana kalau kamu tidak cukup?" dan berbagai versi "bagaimana kalau" lainnya yang terus berulang tanpa jeda. Kita tidak hanya mencintai, kita juga terus-menerus mengantisipasi kehancuran dari cinta itu sendiri. Seolah-olah dengan membayangkan kemungkinan terburuk, kita bisa sedikit lebih siap ketika hal itu benar-benar terjadi. Padahal yang sering terjadi justru sebaliknya: kita lelah duluan sebelum apa pun sempat terjadi.

Barangkali masalahnya bukan pada cara kita mencintai, melainkan pada cara kita memahami cinta itu sendiri. Kita terlalu sering mengira bahwa intensitas rasa harus sebanding dengan intensitas kecemasan; bahwa makin kita peduli, makin kita berhak untuk merasa khawatir. Kita menganggap wajar ketika mulai mengatur, mengawasi, bahkan diam-diam mengontrol arah hubungan, seolah-olah dengan begitu kita bisa mencegah hal-hal buruk terjadi.

Kita lupa bahwa sebagian besar kegelisahan itu tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa-apa, selain menguras energi dan mengaburkan keindahan dari rasa yang sedang kita jalani. Dalam banyak kasus, kita tidak sedang mencintai seseorang, kita sedang berusaha memastikan bahwa ia tidak akan meninggalkan kita. Di titik itu, cinta perlahan berubah bentuk: dari sesuatu yang mengalir menjadi sesuatu yang terus dijaga dengan ketakutan.

Di sinilah saya teringat pada Stoikisme, sebuah cara pandang yang mungkin terdengar kaku bagi sebagian orang, tetapi justru menawarkan kebebasan yang jarang kita sadari. Para pemikir seperti Epictetus dan Marcus Aurelius sejak awal sudah mengingatkan bahwa hidup akan jauh lebih ringan ketika kita berhenti mencampuri hal-hal yang memang bukan wilayah kendali kita.

Ada batas yang jelas antara apa yang bisa kita atur dan apa yang tidak, antara apa yang bergantung pada kita dan apa yang sepenuhnya berada di luar jangkauan. Namun dalam cinta, batas itu sering kita kaburkan. Kita ingin mengendalikan perasaan orang lain, kita ingin memastikan kesetiaan, kita ingin mengatur masa depan seolah-olah semuanya bisa kita rancang dengan presisi. Padahal jika mau jujur, bahkan perasaan kita sendiri pun sering kali berubah tanpa izin.

Maka mencintai dengan tenang, dalam kacamata Stoik, bukan berarti menjadi dingin atau tidak peduli, melainkan memahami posisi diri dengan lebih jernih. Kita tetap mencintai, tetap hadir, tetap memberi dengan sepenuh hati, tetapi tanpa tuntutan berlebihan terhadap hasil. Kita tidak lagi menjadikan cinta sebagai alat untuk mengamankan masa depan, melainkan sebagai pengalaman yang layak dijalani apa pun akhirnya.

Ini bukan bentuk pasrah yang lemah, melainkan keberanian untuk tetap membuka diri tanpa harus menggenggam segalanya. Dalam posisi ini, kita berhenti bertanya "Bagaimana jika ia berubah?" atau "Bagaimana jika semuanya tidak berjalan sesuai harapan?", karena kita sadar bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar membawa kita ke mana-mana selain ke dalam lingkaran kecemasan yang tidak perlu.

Namun, jika Stoik mengajarkan kita untuk melepaskan kontrol, maka gagasan amor fati yang diperkenalkan oleh Friedrich Nietzsche mendorong kita melangkah lebih jauh: bukan hanya menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan, tetapi mencintainya. Ini adalah titik di mana cinta tidak lagi bergantung pada hasil, tidak lagi bergantung pada keberlangsungan, bahkan tidak lagi bergantung pada kebahagiaan dalam pengertian yang sempit.

Kita tidak hanya siap jika hubungan itu berakhir, tetapi juga mengakui bahwa kemungkinan itu adalah bagian sah dari perjalanan yang sedang kita jalani. Dalam konteks ini, kehilangan bukan lagi sesuatu yang harus ditolak mati-matian, melainkan sesuatu yang mungkin saja datang. Dan jika ia datang, ia tetap memiliki tempat dalam keseluruhan cerita hidup kita.

Di titik ini, cinta mulai kehilangan sifat dramatisnya yang selama ini kita agung-agungkan. Ia tidak lagi penuh tuntutan, tidak lagi dipenuhi kecemasan yang berlebihan, tidak lagi menjadi ajang pembuktian atau penguasaan. Ia menjadi lebih sunyi, tetapi justru lebih jujur. Kita tidak lagi mencintai untuk memiliki, melainkan untuk mengalami. Kita tidak lagi sibuk memastikan apakah ia akan tetap tinggal, melainkan lebih fokus pada bagaimana kita hadir selama ia masih di sini. Anehnya, justru dalam kesederhanaan itu, cinta terasa lebih utuh. Tidak ada yang dipaksakan, tidak ada yang ditahan secara berlebihan, tidak ada yang perlu dijaga dengan ketakutan yang melelahkan.

Namun, harus diakui, posisi ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicapai. Sebab di dalam diri kita, selalu ada dorongan untuk merasa aman, untuk memastikan bahwa apa yang kita jalani tidak akan berakhir sia-sia. Kita ingin diyakinkan bahwa semua ini punya arah, bahwa semua ini tidak akan berujung pada kehilangan yang menyakitkan. Kita ingin kepastian, meskipun kita tahu bahwa hidup tidak pernah benar-benar menyediakan itu. Mungkin di situlah konflik terbesar dalam cinta modern: kita ingin merasakan sesuatu yang tidak bisa dijamin, tetapi kita juga tidak siap menerima ketidakpastian yang menyertainya.

Akhirnya, saya kembali pada pengamatan sederhana pagi itu, tentang seseorang yang bisa mencintai tanpa ribut di kepala. Mungkin ia bukan tidak memikirkan apa-apa. Mungkin ia juga memiliki ketakutan yang sama seperti kita, tetapi ia memilih untuk tidak membiarkan ketakutan itu menguasai cara ia mencintai. Ia tidak sibuk mencurigai masa depan, tidak tergesa-gesa menuntut kepastian, tidak memaksakan arah pada sesuatu yang seharusnya berjalan dengan alami. Ia hanya hadir, merasakan, dan menerima, tanpa kehilangan dirinya sendiri dalam proses itu.

Dari situ, pertanyaan yang tersisa menjadi semakin sederhana, tetapi justru semakin sulit untuk dijawab: apakah kita benar-benar ingin mencintai seseorang, atau kita hanya ingin memastikan bahwa kita tidak akan terluka?

Karena jika yang kita cari adalah jaminan, maka cinta mungkin bukan tempat yang tepat. Namun, jika yang kita cari adalah pengalaman yang utuh (dengan segala kemungkinan yang menyertainya), maka barangkali sudah saatnya kita belajar untuk mencintai tanpa ribut di kepala. Tanpa perlu menguasai apa yang sejak awal memang tidak pernah menjadi milik kita sepenuhnya.