Di tahun ketujuh merantau, Malik akhirnya berhenti menganggap bahwa rindu merupakan sesuatu yang sementara; sesuatu yang bisa disiasati dengan kesibukan atau ditenangkan dengan alasan-alasan sok dewasa yang terdengar masuk akal ketika diucapkan dengan nada-nada yang cukup yakin dan meyakinkan. Sebagai anak ketiga dan terakhir dari keluarga sederhana, ia terbiasa merasa lebih ringan dibandingkan dengan kedua abangnya yang memikul beban ekspektasi lebih besar. Sudah menjadi kebiasaan ketika ia dianggap paling santai, paling bisa menyesuaikan diri, dan mungkin juga karena hal itu semua orang (termasuk dirinya) sempat percaya bahwa ia akan menjadi yang paling cepat betah untuk tinggal di luar rumah, paling jarang mengeluh akan keadaan, dan mungkin paling jarang pula keinginan untuk pulang datang.
Ternyata, tidak ada yang benar-benar kebal atas jarak dan kerinduan. Malik pun pada akhirnya kalah atas semua itu. Di kamar kos yang sudah tujuh tahun ia huni, di mana catnya telah mengelupas, meja kayu yang sudah lapuk dimakan usia, dan kipas angin yang lebih nyaring suaranya ketimbang rasa sejuk yang diberikan, Malik duduk memandangi sepiring nasi bungkus yang ia beli di angkringan depan kosnya. Nasi kucing yang sudah dingin, serta lauk seadanya, dan tentunya rasa yang tidak memiliki identitas lain selain hanya untuk mengenyangkan diri. Dari luar kamarnya terdengar suara kendaraan yang lalu-lalang seperti malam-alam biasanya, tidak ada yang istimewa. Yang berbeda hanya kali ini ia tengah berada di bulan Ramadan yang terasa seperti agenda tahunan biasa, ketimbang suasana yang benar-benar hidup.
Ia menatap cukup lama dan dalam jam di layar ponsel usangnya; sudah hampir waktu untuk berbuka. Pesan dari Kapolda (nama yang sengaja ia berikan untuk kontak ibunya) masuk dengan ritme yang lebih hangat daripada biasanya: foto ibu di dapur, ayah yang tengah membantu membuat kolak, serta satu foto yang membuat dadanya terasa ditarik secara perlahan, yaitu sepiring sambal ati dengan potongan kentang dan hati sapi yang ditumis bersama cabai merah. Hidangan itu mengilap oleh minyak, sederhana namun tampak seperti sebuah perayaan kecil yang diracik oleh ingatan dan kasih sayang.
"Tahun ini sambalnya pedas, ya," tulis ibu melengkapi foto itu.
Malik hanya membalasnya dengan emoji tertawa dan kalimat pendek: "Simpan untuk Malik dan abang-abang yang lain ya, Bu."
Ia tahu tidak ada yang bisa benar-benar disimpan selain kenangan. Di tanah rantau, suara azan magrib mulai terdengar samar, diawali dengan suara sirene yang merupakan adat istiadat yang masih dipertahankan. Ia membuka sebungkus nasi kucing yang dibeli dari angkringan depan kamar kosnya, mencicipi lauk yang terasa biasa saja, dan untuk sesaat mencoba membujuk lidahnya agar bersyukur tanpa membandingkan. Tetapi perbandingan selalu saja datang tanpa pernah diminta: ia teringat meja makan di rumah yang tak pernah benar-benar mewah, namun selalu cukup untuk membuat orang duduk bersama, menunggu waktu berbuka dengan cerita-cerita yang berloncatan tanpa aturan, tanpa adanya narator yang menjaga ritme obrolan. Di sana, sambal ati bukan hanya sekadar lauk, melainkan tanda bahwa esok adalah hari raya, bahwa malam akan dipenuhi gemuruh takbir dari setiap sudut desa, dan bahwa rumah akan terasa lebih penuh daripada biasanya, bahkan ketika ruangnya masih tetap sama.
Malik teringat pada tahun pertama ia merantau. Betapa beraninya ia waktu itu, betapa yakinnya ia bahwa dunia luar akan lebih mudah untuk dihadapi ketimbang bayang-bayang ekspektasi yang entah datang dari mana selalu menghantui jika berdiam di rumah. Ia pergi dengan kepala tegak, tanpa isak tangis, dan penuh janji yang terdengar begitu mewah dan gagah: akan cepat berhasil, akan segera membanggakan orang tua, akan pulang dengan cerita-cerita yang tak kalah megah dari doa-doa ibu dan bapak selepas sembahyang. Tujuh tahun kemudian, janji-janji itu tidak sepenuhnya gugur, tetapi juga masih belum menjelma sebagaimana yang ia bayangkan. Ia hidup cukup; cukup belajar, cukup bekerja, dan sesekali merasa cukup. Namun, ada satu ruang kecil dalam dirinya yang akan tetap kosong, ruang yang tidak bisa diisi oleh nilai-nilai yang memuaskan, gaji bulanan, atau bahkan pujian atasan.
Menjelang malam takbiran, kota menjadi lebih riuh dari biasanya. Anak-anak kecil mulai berlarian membawa obor atau sekadar mengikuti arak-arakan kecil yang tidak lagi sebesar dulu. Suara takbir dari surau menggema dari setiap sudut kota, saling sahut-menyahut seperti sebuah gema yang tidak ingin kalah satu sama lain. Malik mematikan lampu kamar kosnya yang remang-remang, membiarkan dirinya duduk dalam temaram, hanya ditemani oleh cahaya layar ponsel yang sesekali menyala oleh notifikasi. Video call dari Kapolda masuk tanpa ia duga; di layar ada wajah ibu dengan latar dapur yang sudah bersih, sementara suara takbir dari musala dekat rumah (yang ia tahu pasti dikumandangkan bapaknya) terdengar lebih jelas daripada apa pun yang ada di kota tempat ia berdiri sekarang.
"Kapan pulang, Nak?" tanya Ibu, bukan sebagai tuntutan, melainkan sebagai sebuah kebiasaan yang selalu diulang dengan nada yang sama.
"Doakan saja secepatnya ya, Bu," jawabnya, sambil menahan sesuatu yang bergerak dari tenggorokannya, berusaha agar suaranya tidak pecah.
Takbir terus berkumandang, kalimat-kalimat pujian yang melambung ke langit, mengingatkan manusia bahwa ada yang lebih besar daripada rindu dan kecewa, lebih luas daripada jarak dan kegagalan. Malik memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia mengizinkan dirinya untuk merasa kecil tanpa harus malu. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu keras pada dirinya sendiri, seolah-olah pulang sebelum berhasil adalah bentuk kekalahan, seolah-olah rindu adalah kelemahan yang harus ditaklukkan, bukan dipeluk. Malam itu, setelah panggilan berakhir, ia keluar dari kamar kos dan berjalan tanpa tujuan yang jelas. Di ujung gang, seorang ibu penjual makanan masih membuka lapaknya. Tanpa berpikir panjang, Malik bertanya apakah ada sambal ati. Perempuan itu mengangguk, lalu menyendokkan sedikit ke dalam wadah plastik kecil.
"Sisa, Mas. Besok sudah ganti menu," katanya.
Malik membawa pulang sambal ati itu seperti membawa sesuatu yang rapuh. Di kamar, ia menyendok sedikit, mencampurnya dengan nasi yang tadi tersisa, dan saat rasa pedas itu menyentuh lidahnya, ia tidak bisa lagi menahan apa yang sejak tadi ditahannya. Bukan karena rasanya persis seperti buatan ibunya, tetapi karena ingatan yang ikut terangkat bersama aroma cabai dan hati ayam yang ditumis bersama bawang. Ia menangis pelan, tanpa suara, seperti seseorang yang akhirnya mengakui bahwa ia lelah berpura-pura kuat. Malik duduk bersandar pada dinding yang mengelupas itu, menyuapkan nasi bercampur sambal ati sedikit demi sedikit, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, ia tidak merasa sendirian sepenuhnya. Ia mengerti bahwa rumah bukan hanya tentang bangunan yang ia tinggalkan, melainkan ruang di mana ia boleh menjadi rapuh tanpa takut dihakimi.
Malam itu, di ujung takbir yang terus melambung ke langit, Malik membuat keputusan yang tidak pernah benar-benar ia izinkan sebelumnya: ia akan pulang, bukan sebagai bentuk menyerah, melainkan sebagai cara untuk menyusun ulang dirinya yang tercecer oleh ambisi dan gengsi. Ia akan pulang bukan untuk membuktikan apa-apa, tetapi untuk mengakui bahwa rindu bukan musuh yang harus ditaklukkan, melainkan pesan yang harus didengarkan. Sepiring sambal ati di tangannya telah menjadi jembatan kecil antara anak bungsu yang dulu berani pergi dan lelaki yang kini belajar untuk jujur pada dirinya sendiri. Malik akhirnya memahami bahwa pulang bukan berarti gagal; kadang, pulang adalah bentuk paling dewasa dari sebuah keberanian.
Baca Juga
-
CERPEN: Basa-basi di Balik Mesin Kopi, Saat Rindu Tidak Tahu Diri
-
Haus Itu Minum, Bukan Mencari Validasi: Refleksi Kebutuhan Diri di Era Pamer
-
Sekolah Membunuh Rasa, Lalu Apa Kabar Kreativitas Kita?
-
Membaca Ulang Kepada Uang: Puisi tentang Sederhana yang Tak Pernah Sederhana
-
Kecemasan: Luka Batin Kolektif di Zaman Scroll Tanpa Henti
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Stres Karena Potongan Lagu Terus Berputar di Kepala? Ini Penjelasannya!
-
Sisi Tergelap Surga: Menggugat Batas Benar dan Salah di Tengah Miskin
-
5 Lipstik Anti-Luntur, Tetap Cantik saat Makan dan Minum di Bukber
-
Sinopsis GOAT, Tekad Besar Si Kambing Kecil di Arena Roarball
-
5 Night Cream untuk Kulit Kusam, Bikin Wajah Auto Cerah di Pagi Hari!