Sekar Anindyah Lamase | Yayang Nanda Budiman
Wanita muda bermasalah menggunakan laptop di rumah. (Pexels/Andrea Piacquadio)
Yayang Nanda Budiman

Bagi sebagian besar masyarakat, Lebaran identik dengan hari libur. Kantor tutup, sekolah berhenti sementara, dan keluarga berkumpul merayakan Idul Fitri. Namun bagi banyak pekerja di sektor retail, hari raya justru menjadi salah satu periode kerja paling sibuk.

Pusat perbelanjaan, supermarket, dan toko ritel modern biasanya tetap beroperasi selama masa Lebaran, bahkan pada hari pertama Idul Fitri di beberapa kota besar. Lonjakan pengunjung membuat toko harus tetap membuka layanan. Di balik etalase yang penuh barang dan kasir yang terus bertransaksi, ada pekerja yang menjalankan tugasnya seperti hari biasa.

Realitas ini memperlihatkan sisi lain dari perayaan Lebaran di masyarakat urban. Di satu sisi ada keluarga yang berkumpul merayakan hari raya, tetapi di sisi lain ada pekerja yang justru harus berada di tempat kerja agar aktivitas konsumsi tetap berjalan.

Hari Raya yang Tetap Sibuk

Pekerja retail sering mengalami dinamika kerja yang berbeda menjelang dan selama Lebaran. Beberapa minggu sebelum hari raya biasanya menjadi periode paling padat. Diskon besar, promosi Ramadhan, dan kebutuhan rumah tangga membuat jumlah pengunjung meningkat tajam.

Jam kerja pun sering menjadi lebih panjang. Penataan barang, pelayanan pelanggan, hingga proses transaksi berlangsung hampir tanpa jeda. Banyak pekerja harus menghadapi antrean panjang di kasir atau permintaan pelanggan yang datang silih berganti.

Ketika hari raya tiba, situasinya tidak selalu berubah. Sebagian toko memang mengurangi jam operasional, tetapi aktivitas kerja tetap berjalan. Pekerja retail tetap berdiri di balik meja kasir atau menjaga rak barang ketika sebagian masyarakat sedang bersilaturahmi. Bagi mereka, Lebaran tidak selalu identik dengan hari libur penuh.

Antara Profesionalitas dan Kerinduan

Bekerja pada hari raya tentu bukan hal yang mudah. Banyak pekerja retail harus merayakan Lebaran secara sederhana, sering kali dengan jadwal yang disesuaikan dengan jam kerja. Sebagian dari mereka mungkin hanya sempat melakukan salat Id di pagi hari, lalu segera bersiap menuju tempat kerja. Ada pula yang bahkan harus bekerja sejak pagi sehingga merayakan Lebaran setelah jam kerja selesai.

Di balik profesionalitas tersebut, ada kerinduan yang sering tersembunyi. Berkumpul bersama keluarga, makan bersama, atau mengunjungi kerabat adalah tradisi yang tidak selalu dapat mereka nikmati secara penuh. Namun sebagian pekerja mencoba melihat situasi ini sebagai bagian dari tanggung jawab pekerjaan. Mereka tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, meskipun hari itu adalah hari raya bagi mereka juga.

Mengingat Mereka yang Tetap Bekerja

Kehadiran pekerja retail yang tetap bertugas saat Lebaran sebenarnya menunjukkan bagaimana kehidupan kota modern berjalan. Aktivitas ekonomi tidak sepenuhnya berhenti, bahkan pada momen perayaan besar. Konsumen dapat membeli kebutuhan mendadak, pusat perbelanjaan tetap melayani pengunjung, dan roda ekonomi tetap berputar. Namun semua itu bergantung pada orang-orang yang tetap bekerja di balik sistem tersebut.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk melihat realitas ini dengan lebih empatik. Pekerja retail bukan sekadar bagian dari mesin layanan, melainkan individu yang juga memiliki keluarga dan tradisi Lebaran sendiri.

Mungkin kita tidak selalu dapat mengubah sistem kerja tersebut. Namun sikap sederhana seperti menghargai pelayanan mereka, bersikap sabar saat berbelanja, atau sekadar mengucapkan selamat Lebaran dapat menjadi pengingat bahwa di balik setiap transaksi, ada manusia yang sedang menjalankan perannya di hari raya.