Pernahkah Anda merasakan momen "deg-degan" paling puncak saat keluar dari masjid setelah salat Tarawih? Bukan karena baru melihat pengumuman, tapi karena melihat barisan alas kaki di teras masjid sudah acak-acakan, dan sandal kesayangan Anda tidak ada di tempatnya.
Melansir sebuah artikel dari Psychology Today, kehilangan barang milik pribadi, sekecil apa pun, sering kali memicu respons stres karena otak kita menganggap barang tersebut sebagai "perpanjangan dari identitas diri". Jadi, wajar jika saat sandal hilang, rasanya ada bagian dari diri kita yang ikut terenggut.
Kehilangan sandal di masjid itu punya drama tersendiri. Di dalam masjid kita baru saja bersujud, meminta ampun, dan merasa paling suci. Tapi begitu keluar dan melihat sandal raib, tiba-tiba lisan kita ingin "absen" nama-nama penghuni kebun binatang. Di sinilah letak ironinya: Kita baru saja menghadap Sang Pencipta Jagat Raya, tapi langsung "tumbang" hanya karena memperlihatkan alas kaki yang harganya mungkin tidak seberapa.
Secara filosofis, kehilangan sandal di masjid adalah simulasi kecil tentang kematian dan kehilangan. Kita datang ke masjid membawa "atribut" duniawi (sandal, motor, tas), lalu kita masuk ke dalam menghadap Tuhan tanpa membawa apa pun. Saat keluar, Tuhan sengaja mengambil salah satu atribut itu untuk bertanya: "Seberapa lekat hatimu pada benda ini?"
Kita sering kali terjebak dalam rasa kepemilikan yang berlebihan. Kita merasa sandal itu "milik saya", padahal dalam konsep spiritual, kita hanya "sedang dititipkan". Sandal itu hilang mungkin karena sudah habis masa pakainya di tangan kita, atau mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan (meski caranya salah). Menariknya, banyak dari kita yang justru lebih sedih kehilangan sandal bermerek daripada kehilangan kekhusyukan saat shalat tadi.
Ada sebuah istilah dalam filsafat Stoisisme yang disebut Detasemen atau melepaskan kemelekatan. Intinya adalah kita boleh memiliki barang, tapi jangan biarkan barang itu memiliki kita. Kalau sandal hilang bikin kita marah seharian sampai tidak mau ke masjid lagi, berarti sandal itu sudah berhasil menjajah ketenangan batin kita. Sandal itu sudah "memiliki" kita.
Di bulan Ramadan, ujian sandal hilang ini adalah level advanced dari puasa. Kalau puasa di siang hari melatih kita menahan nafsu makan, maka kehilangan sandal yang melatih kita menahan nafsu "memiliki". Ini adalah ujian sabar yang paling nyata , karena terjadi justru saat kita merasa sudah berbuat baik.
Mari kita coba ubah sudut pandangnya. Mungkin saja, sandal kita yang hilang itu menjadi "kendaraan" bagi seseorang yang jauh lebih butuh untuk pulang ke rumahnya. Atau mungkin, itu cara Tuhan menghapus dosa-dosa kita melalui rasa sabar saat harus pulang bertelanjang kaki. Toh, seindah-indahnya sandal, fungsinya tetap di bawah kaki, tidak perlu sampai kita bawa ke dalam hati, apalagi sampai merusak pahala puasa.
Kejadian sandal hilang adalah pengingat yang sangat tajam: bahwa di dunia ini, tidak ada yang benar-benar kita miliki selamanya. Hari ini sandal, besok mungkin harta yang lebih besar, dan suatu saat nanti adalah nyawa kita sendiri.
Jadi, kalau nanti malam sandal Anda (jangan sampai, ya!) benar-benar hilang, tarik napas dalam-dalam. Tersenyumlah, dan katakan dalam hati, "Mungkin sandal ini sudah waktunya mudik lebih dulu." Pulanglah dengan kaki telanjang, tapi dengan hati yang jauh lebih luas dari sebelumnya.
Sebab, apalah arti yang ditampilkan sandal dibandingkan ketenangan jiwa yang berhasil kita jaga?
Baca Juga
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Singa di Media Sosial, Anak Kucing di Ruang Kuliah: Mengapa Kita Gagap Menulis Ilmiah?
-
Sisi Gelap Label Introvert yang Bikin Generasi Sekarang Makin Egois
Artikel Terkait
-
Overthinking saat Ramadan, Tanda Refleksi atau Kurang Aktivitas?
-
Senja yang Sama di Meja yang Tak Sama
-
Lebaran 2026 Makin Praktis Pakai THR Digital Bank Indonesia, Begini Cara Mainnya
-
Kuota Mudik Gratis 2026 PT INKA Masih Tersedia: Cek Rute, Syarat dan Klik Link Daftarnya di Sini!
-
20 Link Kartu Ucapan Lebaran Kreatif untuk Semua Kalangan, Gratis dan Siap Pakai
Kolom
-
Ancaman 'Inflasi Kepintaran' di Era AI: Masihkah Kita Belajar untuk Berpikir?
-
Desain Banner AI UMKM: Anggaran Terbatas atau Matinya Kreativitas?
-
Pajak Buku dan Masa Depan Literasi: Sudah Waktunya Pembebasan PPN Diperluas?
-
Aksi Les Grow hingga Juara ADWI: Sinergi Warga Desa Les Rawat Bumi & Tradisi
-
Tolak Tekanan Sosial: Mengapa Perempuan Tak Perlu Malu Memakai Outfit yang Sama
Terkini
-
Final Piala Dunia 2026 dan Lionel Messi: Akhir yang Penuh Nestapa bagi sang Legenda
-
Piala Dunia 2026 Usai, Bagaimana Nasib Bola dan Jersey yang Sudah Dipakai?
-
Di Balik Siluk Sisik Emas: Kisah Johnny Chandra Merawat Arwana yang Kian Langka
-
Solidaritas di Balik Peron: Cerita Unik dan Sisi Humanis Menjadi Anak Kereta
-
Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?