Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Ilustrasi sandal (Pexels/Mauro Bertolini)
Sherly Azizah

Pernahkah Anda merasakan momen "deg-degan" paling puncak saat keluar dari masjid setelah salat Tarawih? Bukan karena baru melihat pengumuman, tapi karena melihat barisan alas kaki di teras masjid sudah acak-acakan, dan sandal kesayangan Anda tidak ada di tempatnya.

Melansir sebuah artikel dari Psychology Today, kehilangan barang milik pribadi, sekecil apa pun, sering kali memicu respons stres karena otak kita menganggap barang tersebut sebagai "perpanjangan dari identitas diri". Jadi, wajar jika saat sandal hilang, rasanya ada bagian dari diri kita yang ikut terenggut.

Kehilangan sandal di masjid itu punya drama tersendiri. Di dalam masjid kita baru saja bersujud, meminta ampun, dan merasa paling suci. Tapi begitu keluar dan melihat sandal raib, tiba-tiba lisan kita ingin "absen" nama-nama penghuni kebun binatang. Di sinilah letak ironinya: Kita baru saja menghadap Sang Pencipta Jagat Raya, tapi langsung "tumbang" hanya karena memperlihatkan alas kaki yang harganya mungkin tidak seberapa.

Secara filosofis, kehilangan sandal di masjid adalah simulasi kecil tentang kematian dan kehilangan. Kita datang ke masjid membawa "atribut" duniawi (sandal, motor, tas), lalu kita masuk ke dalam menghadap Tuhan tanpa membawa apa pun. Saat keluar, Tuhan sengaja mengambil salah satu atribut itu untuk bertanya: "Seberapa lekat hatimu pada benda ini?"

Kita sering kali terjebak dalam rasa kepemilikan yang berlebihan. Kita merasa sandal itu "milik saya", padahal dalam konsep spiritual, kita hanya "sedang dititipkan". Sandal itu hilang mungkin karena sudah habis masa pakainya di tangan kita, atau mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkan (meski caranya salah). Menariknya, banyak dari kita yang justru lebih sedih kehilangan sandal bermerek daripada kehilangan kekhusyukan saat shalat tadi.

Ada sebuah istilah dalam filsafat Stoisisme yang disebut Detasemen atau melepaskan kemelekatan. Intinya adalah kita boleh memiliki barang, tapi jangan biarkan barang itu memiliki kita. Kalau sandal hilang bikin kita marah seharian sampai tidak mau ke masjid lagi, berarti sandal itu sudah berhasil menjajah ketenangan batin kita. Sandal itu sudah "memiliki" kita.

Di bulan Ramadan, ujian sandal hilang ini adalah level advanced dari puasa. Kalau puasa di siang hari melatih kita menahan nafsu makan, maka kehilangan sandal yang melatih kita menahan nafsu "memiliki". Ini adalah ujian sabar yang paling nyata , karena terjadi justru saat kita merasa sudah berbuat baik.

Mari kita coba ubah sudut pandangnya. Mungkin saja, sandal kita yang hilang itu menjadi "kendaraan" bagi seseorang yang jauh lebih butuh untuk pulang ke rumahnya. Atau mungkin, itu cara Tuhan menghapus dosa-dosa kita melalui rasa sabar saat harus pulang bertelanjang kaki. Toh, seindah-indahnya sandal, fungsinya tetap di bawah kaki, tidak perlu sampai kita bawa ke dalam hati, apalagi sampai merusak pahala puasa.

Kejadian sandal hilang adalah pengingat yang sangat tajam: bahwa di dunia ini, tidak ada yang benar-benar kita miliki selamanya. Hari ini sandal, besok mungkin harta yang lebih besar, dan suatu saat nanti adalah nyawa kita sendiri.

Jadi, kalau nanti malam sandal Anda (jangan sampai, ya!) benar-benar hilang, tarik napas dalam-dalam. Tersenyumlah, dan katakan dalam hati, "Mungkin sandal ini sudah waktunya mudik lebih dulu." Pulanglah dengan kaki telanjang, tapi dengan hati yang jauh lebih luas dari sebelumnya.

Sebab, apalah arti yang ditampilkan sandal dibandingkan ketenangan jiwa yang berhasil kita jaga?