M. Reza Sulaiman | Mutiara Pesona Bil Jannah
ilustrasi gambar euforia bukber ramadan melupakan ibadah salat. (Gemini AI)
Mutiara Pesona Bil Jannah

Ramadan selalu hadir membawa suasana yang khas: waktu senja yang dinanti, suara azan yang memberi ketenangan, dan meja makan yang terasa lebih spesial. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, cara orang merayakan Ramadan di kota-kota besar tampak berbeda. Saat menjelang waktu berbuka puasa, mall dan restoran justru menjadi tempat yang paling ramai. Banyak kursi terisi, antrean panjang, dan lalu lintas yang macet adalah pemandangan yang hampir setiap hari terlihat. Namun, pemandangan Ramadan kali ini justru menghadirkan ironi: ruang-ruang konsumsi penuh sesak, sementara ruang ibadah kerap kehilangan jemaahnya.

Menjelang waktu Magrib, banyak restoran dan kafe bersaing untuk menyajikan paket berbuka puasa. Jalanan menjadi macet, antrean mengular panjang, dan meja-meja penuh bahkan sebelum azan terdengar. Namun, di saat yang sama, banyak masjid di dekat tempat keramaian itu saf salatnya masih tidak penuh. Bulan Ramadan terlihat meriah, tetapi suasana tenang dalam beribadah seolah kalah oleh euforia sosial.

Buka puasa bersama adalah tradisi Ramadan yang positif. Tradisi ini memberikan waktu berkumpul kembali dengan orang-orang lama yang terpisah jarak dan kesibukan. Di dalam masyarakat luas, buka puasa bersama bisa berfungsi sebagai pengikat hubungan.

Namun, masalah muncul ketika bukber tidak lagi dianggap sebagai cara, tetapi menjadi tujuan utama. Jadwal Ramadan dibuat untuk undangan makan, bukan waktu untuk beribadah. Restaurant dipilih lebih dulu, sementara masjid hanya dijadikan opsi jika ada waktu. Saat seperti ini, bukber tidak lagi bersifat netral, akan tetapi telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup.

Ketika Salat Tidak Lagi Prioritas?

ilustrasi saf salat banyak kosong saat euforia bukber (Gemini AI)

Ironi yang paling jelas terlihat adalah salat yang notabene ibadah yang paling utama umat Muslim, mulai kehilangan tempatnya. Salat Magrib dan Tarawih sering kali dipandang bisa ditunda. Azan kini tidak lagi dianggap sebagai panggilan utama, tetapi hanya menjadi suara latar saja. Mengutip dari laman Universitas Muhammadiyah Surakarta, akademisi menegaskan euforia bukber sering kali membuat orang lalai melaksanakan salat tepat waktu. Puasa tanpa salat bisa menghilangkan makna spiritualnya dan terkesan hanya kegiatan fisik semata (Mujazin, 2024).

Di sinilah persoalan krusial menjadi nyata. Kita rela menunggu makanan tiba berjam-jam, sementara tidak sabar menunggu untuk salat. Kita takut makanan menjadi dingin, tetapi tidak merasa khawatir ketika ibadah tertunda. Ramadan yang seharusnya mendidik kita untuk disiplin dalam beribadah, malah berubah menjadi bulan kompromi.

Tidak dapat dimungkiri bahwa bulan Ramadan sekarang juga menjadi ladang bisnis. Terdapat diskon, promo, dan paket buka puasa dibuat dengan cara yang menarik bagi pembeli. Bisnis pasti ingin mendapatkan untung. Namun, jika fokus pada pasar terlalu kuat, makna spiritual Ramadan bisa saja berkurang.

Bulan puasa lebih sering disebut sebagai “waktu makan besar”, bukan waktu untuk refleksi. Iklan makanan jauh lebih banyak daripada ajakan untuk beribadah. Tanpa sadar, kita merayakan Ramadan lebih sebagai acara belanja ketimbang momen untuk memperbaiki diri.

Penting menjadi alarm: bukber bukanlah musuh bagi bulan Ramadan. Masalahnya adalah jika bukber sampai mengabaikan ibadah yang seharusnya menjadi prioritas. Bukber bisa menjadi momentum baik jika disertai kesadaran, seperti salat tepat waktu, memilih tempat bukber yang mendukung ibadah, atau sekadar bukber sederhana di masjid.

Beberapa komunitas sudah menerapkan pola ini: berbuka secukupnya, salat berjemaah, lalu makan bersama. Pola ini menunjukkan bahwa silaturahmi dan beribadah dapat berjalan beriringan tanpa saling mengganggu.

Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk bermuhasabah diri, bukan sekadar menambah aktivitas sosial yang tidak terlalu penting. Rumah makan bisa ramai, undangan bukber mungkin banyak, tetapi tempat untuk salat seharusnya tidak dibiarkan sepi.

Jika bulan Ramadan telah usai dan kita hanya punya dokumentasi bersama serta perut yang kenyang, sementara hubungan kita dengan Tuhan tidak menjadi lebih baik, maka kita perlu mempertanyakan: apakah kita benar-benar menjalankan puasa, atau hanya menunggu untuk makan?

Menghidupkan kembali ruh Ramadan bukan hanya tugas pengurus masjid saja, juga bukan tanggung jawab guru agama atau panitia acara. Tentu dimulai dari panggilan hati pribadi: bergegas saat azan terdengar, meskipun hidangan sudah siap di meja makan; dari keberanian untuk mendahulukan ibadah dibandingkan tekanan sosial.

Karena pada akhirnya, Ramadan itu bukan soal seberapa banyak kita bukber, tetapi seberapa tulus kita dalam memperbaiki keimanan kita setelah berakhirnya bulan suci ini.