M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Bukber di Kafe (Gemini AI)
Ukhro Wiyah

Saat ini, kita hidup dalam budaya yang diam-diam menanamkan keyakinan: kalau tidak diposting, terasa belum benar-benar terjadi. Momen terasa lebih resmi ketika sudah terpajang di story atau feed Instagram. Tawa terasa lebih valid ketika sudah terekam di reels. Pertemuan terasa lebih nyata ketika konten tampil di linimasa.

Buka bersama (bukber) pun tak luput dari logika itu. Story Instagram berderet: foto tangan dengan gelas minuman, video slow motion menu yang tersaji di meja panjang, atau potret grup dengan caption “akhirnya kumpul lagi!”. Ada yang menambahkan lagu religi, ada yang menandai lokasi kafe estetik dengan interior minimalis dan lampu temaram.

Dokumentasi sebenarnya bukan hal baru. Sejak dulu, orang mengambil foto untuk kenangan. Album keluarga penuh potret Lebaran dan buka bersama. Namun, hari ini dokumentasi sudah bergerak dari arsip pribadi menjadi konsumsi publik.

Ada perbedaan antara dokumentasi sebagai kenangan dan dokumentasi demi validasi. Ketika tujuan utamanya adalah untuk menyimpan momen bersama, kamera bekerja dalam diam. Namun, ketika tujuan itu bergeser menjadi ajang pembuktian bahwa kita memiliki lingkar pertemanan, aktivitas sosial, dan punya kehidupan yang “terlihat hidup”, kamera bekerja lebih keras.

Kini, silaturahmi pun perlahan mengalami pergeseran makna. Ia bukan lagi sekadar ruang temu, tetapi juga panggung besar. Bukan lagi sekadar menyambung yang putus dan mengenang masa lalu, tetapi juga memperlihatkan sejauh mana hidup kita melaju.

Bukber, Dokumentasi, dan Konstruksi Citra Diri

Tradisi bukber hari ini tak lagi berlangsung di sembarang tempat. Generasi muda sibuk memilih kafe estetik dengan tampilan ruangan minimalis dan Instagramable. Outfit dipilih dengan lebih sadar: warna yang senada, potongan yang rapi, tas yang cocok untuk difoto. Bahkan posisi duduk bisa berubah demi komposisi visual yang lebih seimbang.

Bukber bukan sekadar ajang reuni dan temu kangen, tapi panggung yang membangun narasi. Lewat satu unggahan, kita sedang bercerita: ini lingkar pertemananku, ini caraku menikmati Ramadan, ini standar hidupku. Tidak selalu dengan niat pamer. Sering kali itu terjadi secara halus dan tanpa sadar. Dan kamera membantu kita mengkurasi versi diri yang ingin ditampilkan.

Tak berhenti di sana. Di antara suapan makanan dan tegukan minuman, percakapan mengalir ke topik-topik yang akrab: kerja di mana sekarang? Sudah naik jabatan? Bisnisnya bagaimana? Lanjut S-2? Dapat beasiswa? Rencana menikah kapan?

Berbagi kabar baik bukanlah sesuatu yang salah, justru bisa menjadi bagian dari kebahagiaan bersama. Namun, di balik tanya jawab itu, seolah ada standar tak tertulis: di usia segini, seharusnya sudah jadi apa?

Bukber yang seharusnya menjadi momen bersama yang menyenangkan berubah menjadi semacam ruang pembaruan status kehidupan. Yang kariernya melesat bercerita dengan penuh semangat. Yang baru memulai usaha membagikan progresnya. Yang sedang menyiapkan pernikahan menunjukkan cincin di jari manisnya.

Lantas, bagaimana dengan yang masih mencari arah? Yang pekerjaannya belum stabil? Yang mimpinya belum menemukan bentuk? Mereka tetap tersenyum. Tetap tertawa. Namun, mungkin di dalam hati ada bisik kecil: kenapa hidupku terasa lebih lambat?

Setelah semua itu terjadi… tanpa sadar kita mulai membandingkan. Dulu, mungkin cukup dengan bisa berkumpul dan berbagi cerita. Kini, ada ekspektasi tak kasatmata tentang tempat yang “layak” untuk bukber, outfit yang “pantas”, dan pencapaian yang “seharusnya”. Media sosial memperkuat ilusi itu. Kita tidak hanya membandingkan diri dengan satu meja bukber, tapi dengan puluhan unggahan dari berbagai lingkaran pertemanan.

Hidup orang lain terlihat lebih cepat, lebih mapan, lebih tertata. Padahal yang terlihat hanyalah potongan terbaik dari sebuah perjalanan panjang yang penuh liku. Namun, karena yang tampak selalu rapi, standar kita pun ikut meninggi.

Tekanan, Standar Hidup, dan Makna yang Terlupakan

Di balik euforia yang ada, tidak semua orang duduk dengan perasaan yang sama. Ada yang merasa percaya diri. Ada yang netral. Ada pula yang diam-diam merasa tertinggal. Sering kali, mereka yang belum “sesuai ekspektasi” justru tersenyum paling lebar. Mereka tertawa paling keras, agar kegelisahan di dalam tidak terbaca.

Namun, perasaan tak bisa selamanya disamarkan. Sepulang bukber, tekanan itu muncul perlahan. Dan media sosial semakin memperpanjang tekanan. Story yang tadi diunggah teman-teman terus muncul. Video kebersamaan diputar ulang. Caption tentang “bersyukur atas pencapaian tahun ini” terbaca berkali-kali.

Bukber yang seharusnya menjadi ruang hangat silaturahmi, berubah menjadi cermin besar tempat kita menilai diri dengan standar yang mungkin bukan milik kita sendiri.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan. Apakah silaturahmi masih menjadi inti dalam momen ini, atau ia telah berubah menjadi panggung kecil pembuktian diri? Tempat kita menunjukkan bahwa kita baik-baik saja, bahkan ketika mungkin tidak sepenuhnya demikian.

Bukber seharusnya tentang jeda, bukan perlombaan. Tentang menyambung kembali yang sempat renggang, bukan mengukur siapa yang paling melesat. Tidak semua pencapaian perlu diumumkan. Tidak semua proses perlu ditampilkan. Ada hal-hal yang justru lebih indah ketika disimpan sebagai rahasia antara diri dan Tuhan.

Ramadan mengajarkan tentang cukup dan syukur, bukan kompetisi. Tentang menahan diri, bukan memamerkan diri. Tentang memperbaiki hati, bukan memperindah citra. Kamera tidak salah. Media sosial tidak sepenuhnya keliru. Keduanya hanyalah alat. Namun, seperti semua alat, ia bisa menguatkan atau justru mengalihkan fokus.

Sesekali, kita bisa meletakkan ponsel lebih lama di atas meja. Mengambil foto seperlunya, lalu benar-benar menyimpan kamera. Menatap wajah teman yang sudah lama tak ditemui, mendengar ceritanya tanpa tergesa, serta mengakui kegagalan tanpa takut dinilai.

Karena pada akhirnya, bukber bukan tentang seberapa estetik unggahan kita, atau seberapa mengesankan pencapaian kita. Ia tentang hati yang saling menyapa, tentang tawa yang tidak dibuat-buat, dan tentang pulang dengan perasaan ringan, bukan dengan beban perbandingan yang semakin berat dan standar hidup yang kian meningkat.