M. Reza Sulaiman | Davina Aulia
Ilustrasi Generasi Z yang sedang bekerja (Unsplash.com/Campaign Creators)
Davina Aulia

Baru-baru ini, masyarakat kembali dihadapkan pada isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. PT Pertamina melakukan penyesuaian harga Pertamax yang meroket dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, atau meningkat lebih dari 30 persen.

Kenaikan ini memicu kekhawatiran baru di tengah kondisi ekonomi yang sebelumnya telah dibayangi oleh melambungnya berbagai kebutuhan hidup. Meskipun pemerintah menilai dampaknya terhadap inflasi akan terbatas karena tidak menyasar BBM bersubsidi, banyak masyarakat tetap melihat kebijakan ini sebagai sinyal bahwa biaya hidup berpotensi makin meningkat dalam waktu dekat.

Sangat ironis. Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga stabilitas fiskal dan keberlanjutan anggaran negara. Namun, di sisi lain, berbagai kebijakan yang berkaitan dengan penyesuaian harga justru berdampak langsung pada kelompok masyarakat yang sebenarnya sudah menghadapi tekanan ekonomi dari berbagai arah. Ketika harga kebutuhan meningkat, kemampuan daya beli masyarakat pun ikut tergerus, sementara pendapatan tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama.

Efek Berantai pada Kehidupan Sehari-hari

Bagi sebagian orang, kenaikan harga mungkin hanya terlihat sebagai angka dalam laporan ekonomi atau berita harian. Namun, bagi masyarakat yang hidup dari gaji bulanan, perubahan harga sekecil apa pun dapat memengaruhi pola pengeluaran secara drastis. Harga makanan, biaya transportasi, tarif layanan, hingga kebutuhan rumah tangga yang meningkat secara bertahap membuat masyarakat harus ekstra hati-hati dalam mengatur keuangan.

Fenomena ini makin terasa karena kenaikan harga tidak terjadi pada satu sektor saja. Ketika biaya transportasi meningkat, harga barang kebutuhan pokok juga berpotensi ikut naik karena ongkos distribusi menjadi lebih mahal. Akibatnya, masyarakat menghadapi efek berantai (domino effect) yang memperbesar tekanan ekonomi. Dalam situasi seperti ini, kelas pekerja menjadi kelompok yang paling rentan karena sebagian besar pendapatannya dialokasikan murni untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Ketika Stabilitas Fiskal Dibayar oleh Masyarakat

Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan fiskal negara. Defisit anggaran yang terlalu besar dapat menimbulkan berbagai risiko ekonomi jangka panjang. Namun, muncul persoalan ketika upaya menjaga stabilitas fiskal lebih banyak diwujudkan melalui kebijakan yang secara langsung meningkatkan beban pengeluaran rakyat. Kondisi ini memunculkan kesan bahwa masyarakat sedang melakukan "subsidi silang" terhadap berbagai kebutuhan pendanaan negara.

Ironisnya, kelompok yang paling merasakan dampak kebijakan tersebut justru mereka yang memiliki ruang finansial paling terbatas. Kelas pekerja harus menghadapi kenaikan biaya hidup tanpa memiliki banyak pilihan untuk mengurangi pengeluaran. Sementara itu, kelompok dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan adaptasi yang lebih besar terhadap gejolak ekonomi. Akibatnya, tekanan ekonomi yang seharusnya terbagi secara proporsional justru jauh lebih berat dirasakan oleh kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah.

Kekhawatiran Baru bagi Anak Rantau

Sebagai anak rantau, fenomena kenaikan harga juga menghadirkan kekhawatiran tersendiri bagi saya. Hidup jauh dari keluarga berarti seluruh kebutuhan sehari-hari harus ditanggung secara mandiri. Pos-pos pengeluaran wajib ini meliputi:

  • Biaya tempat tinggal (indekos/kontrakan).
  • Ongkos transportasi dan mobilitas harian.
  • Konsumsi dan kebutuhan pokok.
  • Dana darurat untuk situasi yang tidak dapat diprediksi.

Ketika harga-harga melambung, ruang untuk menabung atau mempersiapkan kebutuhan masa depan menjadi makin sempit.

Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh saya, tetapi juga jutaan pekerja muda yang sedang membangun karier di kota lain. Kita dipaksa untuk terus menyusun ulang prioritas pengeluaran agar tetap dapat bertahan di tengah biaya hidup yang terus mencekik. Situasi tersebut menciptakan rasa ketidakpastian mengenai kemampuan untuk mencapai stabilitas finansial dalam jangka panjang. Bagi anak rantau, kenaikan harga bukan sekadar isu makroekonomi nasional, melainkan persoalan yang berdampak langsung pada kelangsungan hidup dan rasa aman sehari-hari.

Kesejahteraan Warga Harus Tetap Jadi Prioritas

Menjaga kesehatan fiskal negara memang merupakan hal yang krusial. Namun, kebijakan ekonomi yang diambil juga perlu menimbang dampaknya terhadap masyarakat, terutama kelompok kelas pekerja dan generasi muda yang sedang berjuang membangun masa depan. Kenaikan harga yang terus terjadi dapat mengurangi daya beli, mempersempit ruang finansial, dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi di tingkat rumah tangga.

Ironi subsidi silang ini menjadi pengingat keras bahwa keberhasilan pengelolaan fiskal tidak hanya diukur dari neraca keseimbangan anggaran negara, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya untuk hidup dengan layak dan sejahtera.
Ketika beban penyesuaian ekonomi terlalu banyak dipikul oleh masyarakat—khususnya mereka yang berada di lapisan pekerja dan perantau—maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya bagaimana negara menghemat anggaran, melainkan juga bagaimana negara memastikan bahwa kesejahteraan warganya tetap menjadi prioritas utama.