Ngomongin film anak, ada satu hal yang sering luput saat orang dewasa mencoba membuat film untuk anak-anak. Mereka ibarat lupa mengingat bagaimana rasanya menjadi anak-anak. Nggak cuma lupa umur, tapi lupa cara melihat dunia anak. Lupa bagaimana rasa penasaran bisa datang tanpa dicari. Lupa menjadi anak-anak bukan berarti menjadi ‘menggampangkan’ bikin film anak, lho.
Di titik itu, Film Pelangi di Mars yang disutradarai Upie Guava terasa kayak film yang ‘sebenarnya’ nggak kekurangan ambisi, tapi kehilangan arah dalam memahami siapa yang sedang mereka ajak bicara.
Film ini rilis dengan premis yang sebenarnya menjanjikan. Masa depan yang dilanda krisis air, perusahaan rakus yang memonopoli sumber daya, dan sebuah perjalanan menuju Mars untuk mencari harapan baru. Di tengah itu semua, ada Pelangi, anak yang lahir dan tumbuh di Planet Merah. Sebuah ide yang, kalau digali dengan sungguh-sungguh, seharusnya bisa melahirkan sudut pandang yang segar, liar, dan akan ada banyak ‘kemungkinan’.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pelangi nggak pernah benar-benar terasa hidup sebagai anak. Dia ada, bergerak dari satu adegan ke adegan lain, tapi seringkali tanpa dorongan yang jelas. Dalam beberapa momen, dia hanya diam ketika situasi menuntutnya untuk bereaksi. Dalam momen lain, dia mengambil keputusan yang terasa janggal. Dan film ini kayak enggan mempertanyakan itu lebih jauh. Semua seolah-olah bisa disapu bersih dengan satu pembenaran sederhana: Namanya juga anak-anak.
Kalimat yang terdengar ringan itu sebenarnya masalah terbesar. Karena di baliknya, ada anggapan, anak-anak nggak perlu dipahami secara utuh. Bahwa ketidakkonsistenan bisa dimaafkan, bahwa logika bisa dilonggarkan, bahwa rasa ingin tahu nggak perlu dijawab. Padahal, di usia anak, ‘manusia’ mulai belajar memahami sebab dan akibat. Mulai bertanya ‘kenapa’ dan ‘bagaimana’ dengan cara yang kadang lebih jujur ketimbang orang dewasa.
Ironinya, di dunia nyata, anak-anak hari ini tumbuh dalam arus informasi yang begitu deras. Mereka terbiasa melihat, meniru, dan menganalisis. Mereka bisa menemukan pola, menyadari kejanggalan, bahkan mempertanyakan sesuatu yang bagi orang dewasa terasa biasa saja. Sayangnya, di Film Pelangi di Mars, kecerdasan itu seperti dihapus perlahan.
Salah satu contoh yang paling terasa adalah ketika Pelangi mampu merakit ulang Batik (robot yang awalnya hanya berupa potongan) menjadi sosok utuh. Ini seharusnya menjadi momen penting. Momen yang bisa menunjukkan kecerdasan, ketekunan, atau bahkan kesepian yang mendorongnya untuk menciptakan teman. Sayangnya lagi, film ini melewatinya begitu saja, tanpa proses, tanpa penjelasan. Alih-alih terasa mengagumkan, momen itu terasa jadi jalan pintas.
Di sisi lain, dunia yang dibangun film ini terasa ramai, tapi kosong. Kehadiran berbagai robot dari latar budaya berbeda seharusnya membuka ruang interaksi yang menarik. Namun, yang tersisa sebatas kebisingan. Mereka berbicara tanpa arah, bercanda tanpa tujuan, dan seringkali malahan kayak gangguan ketimbang pendamping perjalanan. Kepribadian mereka tipis, hampir nggak ngasih warna selain repetisi dan stereotip.
Ada momen ketika mereka menari di tengah lanskap Mars. Sayangnya, kesenangan itu terasa instan banget, nggak tumbuh dari cerita, nggak mengarah ke mana pun. Dan di situlah jarak antara film dan penontonnya mulai terasa. Karena anak-anak nggak hanya butuh sesuatu yang ramai. Mereka butuh sesuatu yang berarti.
Humor yang dihadirkan pun terasa kayak usaha yang terlalu keras buat jadi relevan. Referensi budaya dari K-pop hingga lelucon yang bahkan nggak sepenuhnya dekat dengan dunia anak-anak. Semua terasa sehambar itu.
Sobat Yoursay paham, kan? Membuat film anak bukan berarti menyederhanakan dunia. Bukan berarti menurunkan standar logika, atau mengisi kekosongan dengan kebisingan. Malah sebaliknya, itu tentang bagaimana menyampaikan sesuatu yang kompleks dengan cara yang jujur dan sederhana. Tentang bagaimana menghargai rasa ingin tahu yang belum selesai tumbuh.
Anak-anak bukan penonton yang harus dihibur tanpa berpikir, lho. Mereka adalah manusia yang sedang belajar memahami dunia, sedikit demi sedikit. Dan mereka layak mendapatkan cerita yang memperlakukan mereka dengan serius.Mungkin, yang paling dibutuhkan bukan teknologi yang lebih canggih, atau skala cerita yang lebih besar. []
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Diet Berita: Tutorial Tetap Waras di Zaman yang Terlalu Ramai
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Dear Pemudik, Jika Lelah Jangan Paksakan Diri Berkendara
-
Keadilan yang Harus Dipaksa: Catatan di Balik Gugatan UU Pensiun 1980
-
Ketika Maaf Hanya Sejauh Broadcast WhatsApp, Ada yang Salah?
Terkini
-
Pria Punya Hak untuk Menangis: Belajar Mengolah Duka dari Mencuci Piring
-
RM BTS Sampaikan Terima Kasih dan Permintaan Maaf usai Konser ARIRANG
-
Novel Orang-Orang Proyek: Menguak Sisi Gelap Pembangunan Jembatan
-
Panduan Lengkap: Dari Keringkan Sampai Jadi Bubuk, Cara Mengolah Bunga Telang di Rumah
-
Bibir Kering dan Pecah-Pecah? Ini 4 Lip Serum Vitamin E yang Layak Dicoba