Kalau dulu Dilan adalah sosok yang selalu punya cara ajaib buat bikin pembaca dan penonton jatuh hati, entah lewat gombalan absurd atau sikap nyelenehnya yang nggak ketebak, kali ini dalam Film Dilan ITB 1997 yang rilis 30 April 2026, ada sesuatu yang berbeda. Kali ini terasa lebih sunyi dan pelan. Dan entah kenapa, lebih dekat ke kenyataan yang sering kita hindari: tumbuh dewasa itu nggak selalu indah.
Film yang disutradarai Fajar Bustomi bersama Pidi Baiq ini seperti mencoba membongkar ulang Dilan yang selama ini kita kenal. Diproduksi Falcon Pictures, film ini jelas nggak sebatas kelanjutan cerita, tapi juga merujuk pada fase baru, atau bahkan, fase paling utuh dari karakter Dilan itu sendiri.
Sekilas Kisah Film Dilan ITB 1997
Berlatar tahun 1997, Sobat Yoursay akan diajak masuk ke kehidupan Dilan sebagai mahasiswa FSRD di Institut Teknologi Bandung. Ini bukan lagi dunia SMA dengan romansa ringan dan konflik yang terasa manis. Ini dunia yang lebih kompleks. Dilan pulang dari Kuba, membawa pengalaman, mungkin juga luka yang nggak terlalu dijelaskan.
Di tengah itu semua, dia mencoba menjalani hidup sebagai seniman, mahasiswa, dan seseorang yang perlahan belajar memahami dirinya sendiri juga memahami ke mana hatinya berlabuh. Terasa banget kisahnya lebih dewasa dari yang sudah-sudah, kan?
Yup, Dilan Bulan Lagi Remaja Impulsif
Aku nggak merasa lagi nonton kehidupan seseorang ya, tapi lebih ke mengintip. Hari-hari Dilan berjalan begitu saja. Ngampus, diskusi, berkarya, nongkrong, dan sesekali terjebak dalam percakapan yang terasa sangat personal. Nggak ada konflik besar yang tiba-tiba meledak. Nggak ada momen dramatis yang dibuat berlebihan. Semuanya mengalir bahkan cenderung lambat.
Buat sebagian orang, ini mungkin jadi masalah. Karena jujur saja, ada beberapa bagian yang terasa datar. Kayak kita nunggu sesuatu terjadi, tapi ternyata, ya nggak terjadi apa-apa.
Pemilihan Ariel Noah sebagai Dilan awalnya sempat bikin aku ragu. Sosoknya terlalu berbeda dari Dilan yang selama ini kita kenal. Eh, semakin lama aku nonton, semakin terasa kalau ini bukan soal ‘mirip atau nggak’, tapi soal interpretasi.
Dilan versi Ariel bukan lagi remaja impulsif yang hidup dari spontanitas. Dia lebih diam (sunyi), lebih banyak mikir, dan kadang terasa lelahnya. Ada beban yang nggak diucapkan, tapi terasa. Dan menurutku, itu masuk akal. Karena manusia memang berubah. Dan perubahan itu nggak selalu terasa menyenangkan.
Yang menarik, sisi nyeleneh Dilan nggak hilang sepenuhnya. Tapi sekarang muncul dalam bentuk yang lebih halus. Bukan lagi gombalan keras yang bikin senyum, tapi lebih ke sikap kecil yang diam-diam menunjukkan siapa dia sebenarnya. Ini bukan kehilangan karakter lho, tapi evolusi.
Lalu masuk ke hubungan Dilan dengan Ancika yang diperankan Niken Anjani. Di sini, cinta setelah dewasa itu beda. Nggak lagi soal deg-degan tiap ketemu, atau kalimat manis yang diulang-ulang. Namun soal bertahan, saling ngerti, juga paham realita.
Ancika hadir sebagai sosok yang tegas, realistis, dan cukup kuat untuk ‘menahan’ Dilan yang kadang masih terjebak masa lalu. Yup, Ancika bukan Milea (Raline Shah) mantan kekasih Dilan yang sudah jadi pasangan pria lain. Dan film ini nggak mencoba menjadikan Ancika sebagai Milea versi lain.
Sayangnya, aku merasa hubungan mereka kurang digali lebih dalam. Ada beberapa momen emosional yang seharusnya bisa lebih kuat, tapi lewat begitu saja. Kayak film ini takut terlalu dalam, padahal potensi terbesarnya ada di situ.
Ngomongin soal masa lalu, bayang-bayang Milea tetap terasa. Nggak harus selalu hadir secara fisik, tapi cukup untuk bikin kita sadar ada cerita yang belum selesai. Dan ini jadi salah satu konflik paling menarik, meski disampaikan dengan cara yang sangat halus.
Dari sisi atmosfer, film ini berhasil banget. Bandung tahun 90-an terasa hidup. Bukan cuma dari visual, tapi juga dari rasa. Musiknya, suasana kampusnya, bahkan cara orang-orang berbicara.
Nuansa menjelang reformasi juga ada, tapi nggak pernah jadi fokus utama. Sebatas latar yang terus ada, mengingatkan dunia Dilan di luar sana sedang berubah. Dan perubahan itu, secara nggak langsung, ikut memengaruhi Dilan.
Buatku, ini pendekatan yang menarik. Namun, di sisi lain terasa sedikit tanggung. Karena isu sebesar itu hanya disentuh di permukaan. Padahal kalau digali lebih dalam, bisa menambah lapisan yang jauh lebih kuat.
Film Dilan ITB 1997 worth it nggak? Kalau kamu datang dengan ekspektasi ingin melihat Dilan yang sama seperti dulu mungkin kamu akan kecewa. Film ini jauh lebih pelan, reflektif, dan kadang terasa sepi dan sunyi. Kalau kamu siap melihat Dilan sebagai manusia yang sedang belajar kehilangan, menerima, dan melangkah, film ini punya sesuatu yang bisa kamu rasakan.
Buatku pribadi, Dilan ITB 1997 bukan film yang ingin terlihat besar. Ini juga bukan cerita tentang cinta yang sempurna. Maka dari itu, bila Sobat Yoursay ingin tahu banyak dan ingin merasakan konflik batin Dilan terbaru, tontonlah sebelum turun layar. Selamat nonton ya.
Baca Juga
-
Spoiler Alert! Tujuh Seni Kematian yang Dipentaskan Film Ghost in the Cell
-
Mendobrak Eksplorasi Provokatif lewat Benturan Humor Gelap Film The Drama
-
Sinisme Ghost in the Cell, Saat Kematian Disulap Jadi Karya Seni
-
Mengulik Petrova Line, Garis Ancaman Kiamat dalam Film Project Hail Mary
-
Hitung Mundur Mimpi Buruk dalam Something Very Bad is Going to Happen
Artikel Terkait
-
Dokumenter 'Dilan ITB 1997' Bongkar Momen Autentik Ariel NOAH yang Jarang Tersorot
-
Jelang Konser, Raisa Umumkan Kolaborasi Tak Terduga dengan Ariel NOAH
-
Bertabur Bintang! Raisa Gandeng Anggun hingga Ariel NOAH di Konser 'Love & Let Go'
-
Dipimpin Ariel NOAH, Film Dilan ITB 1997 Gelar Touring Motor Jakarta - Bandung
-
Dialog Terima Kasih Soeharto di Film Dilan ITB 1997 Picu Kontroversi
Ulasan
-
Bertahan di Tempat yang Menyakitkan: Kisah Lela dan Anak-Anak Terlupakan
-
Review Film Salmokji: Whispering Water, Ketika Air Menjadi Pintu Kematian!
-
Ulasan Lagu Lomba Sihir!: MV Nyeleneh yang Ajak Kita Kalahkan Dunia
-
Ulasan Film My Father's Shadow: Narasi Surealis Tentang Identitas Bangsa
-
Saat Crush Mengetahui Rahasia Terbesarmu dalam Web Series To Two
Terkini
-
4 Clay Mask Centella untuk Pori Bersih Tanpa Bikin Kulit Kering
-
Hardiknas dan Jurang UMR: Mengapa Tidak Semua Anak Berani Bermimpi?
-
Ketika Anak Menjadi Korban Daycare, Ibu Sudah Cukup Hancur Tanpa Perlu Dihakimi
-
Wild Eyes Diadaptasi Jadi Drama Pendek, Angkat Romansa dan Konflik Istana
-
Sinopsis Born with Luck, Drama Kriminal Terbaru Lawrence Wang di iQIYI