M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Ilustrasi ASN yang sedang menjalankan WFA. (Suara.com/Ari Welianto)
Fathorrozi 🖊️

Satu hal yang sering luput kita sadari pasca Lebaran, bahwa pulang itu tidak pernah sesederhana pergi. Arus balik bukan hanya soal kendaraan dan jalanan yang padat, tetapi juga soal transisi emosional, dari hangatnya keluarga menuju ritme kerja yang kembali kaku.

Sebagaimana dilansir dari laman Suara.com, pada Rabu (25/3/2026), Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menerapkan kebijakan Work from Anywhere (WFA) bagi maksimal 50 persen pegawai setelah masa libur Lebaran usai.

Kebijakan ini merupakan langkah strategis agar Aparatur Sipil Negara (ASN) dapat bekerja lebih luwes tanpa mengesampingkan prioritas pelayanan publik. Aturan tersebut merujuk pada Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 2 Tahun 2026.

Penyesuaian jadwal kerja ini mulai berlaku pada dua hari menjelang hari raya Nyepi, tepatnya tanggal 16 dan 17 Maret 2026. Skema serupa juga diterapkan selama tiga hari setelah cuti bersama Lebaran yakni pada 25 hingga 27 Maret 2026.

Pemberian izin kerja dari mana saja ini dilakukan secara selektif dengan meninjau kebutuhan organisasi serta kondisi masing-masing pegawai.

Di titik inilah kebijakan WFA terasa bukan sekadar teknis birokrasi, melainkan jembatan yang lebih manusiawi antara dua dunia.

Sekilas, aturan ini tampak administratif. Tapi, jika dilihat lebih dalam, ia menyentuh sesuatu yang lebih esensial, yaitu cara kita memaknai kerja dan kehidupan.

Saya melihat WFA sebagai bentuk pengakuan bahwa manusia tidak bisa terus-menerus dipaksa kembali normal secara instan setelah momen besar seperti Lebaran. Namun, ada ruang adaptasi yang dibutuhkan. Ada sisa kehangatan keluarga yang belum sepenuhnya selesai. Dan ada kebutuhan untuk tetap produktif tanpa harus mengorbankan keduanya.

Di sinilah WFA menjadi relevan. Ia memberi waktu tambahan untuk menutup bab Lebaran dengan lebih utuh.

Bayangkan seseorang yang masih berada di kampung halaman, belum siap menghadapi perjalanan panjang arus balik. Dengan WFA, ia tidak perlu tergesa-gesa. Ia bisa tetap bekerja, tetap menghasilkan, sambil perlahan berpamitan dengan suasana rumah yang mungkin hanya ia temui setahun sekali. Dalam konteks ini, WFA bukan sekadar fleksibilitas kerja, melainkan bentuk empati kebijakan.

Namun tentu saja, fleksibilitas selalu datang dengan risiko. Kekhawatiran klasik langsung muncul, apakah WFA akan berubah menjadi “Work From Anywhere tapi tidak bekerja?" Kekhawatiran ini tidak sepenuhnya salah. Karena pada dasarnya, tantangan terbesar dari sistem kerja fleksibel bukan pada teknologinya, melainkan pada kedewasaan penggunanya.

Itulah sebabnya pemerintah tetap menekankan presensi daring dan jam kerja yang terukur. Disiplin tidak dihapus, hanya dipindahkan bentuknya.

Di titik ini, saya justru melihat WFA sebagai ujian, bukan bagi sistem, tetapi bagi individu. Apakah kita mampu tetap bertanggung jawab tanpa diawasi secara fisik? Apakah kita bisa membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan tidak disalahgunakan?

Karena sejatinya, WFA bukan tentang bekerja dari rumah, kafe, atau kampung halaman. Ia tentang bagaimana kita mengelola diri.

Kebijakan ini menurut saya tidak hanya berhenti pada ASN. Pemerintah juga mendorong pola serupa untuk sektor swasta melalui regulasi terpisah, sebagai bagian dari upaya mengurai kepadatan mobilitas selama periode Lebaran. Ini menunjukkan bahwa WFA bukan kebijakan parsial, melainkan bagian dari pendekatan yang lebih luas dalam mengelola ritme sosial-ekonomi masyarakat.

Dari sudut pandang yang lebih personal, saya setuju dengan arah kebijakan ini. WFA memberi peluang untuk melanjutkan silaturahmi tanpa harus merasa bersalah karena belum kembali ke rutinitas kantor. Ia juga membuka ruang untuk tetap produktif di tengah suasana yang lebih santai, sesuatu yang justru bisa meningkatkan kualitas kerja jika dimanfaatkan dengan benar.

Masalahnya bukan pada sistemnya, melainkan pada bagaimana kita mengisinya.

Alih-alih menjadikan WFA sebagai alasan untuk bermalas-malasan, momen ini justru bisa dioptimalkan dengan menyelesaikan pekerjaan dengan suasana yang lebih fleksibel, membaca, merencanakan langkah ke depan, atau bahkan sekadar menata ulang prioritas hidup setelah refleksi panjang selama Ramadan dan Lebaran.

WFA pasca Lebaran bukan hanya soal kebijakan kerja. Ia adalah cerminan perubahan zaman, bahwa produktivitas tidak lagi selalu identik dengan kehadiran fisik, dan bahwa keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi semakin diakui sebagai kebutuhan, bukan kemewahan.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “boleh bekerja dari mana saja?” tetapi “siapkah kita menjadi pribadi yang tetap bertanggung jawab di mana saja?” Karena di era seperti ini, kantor sejati bukan lagi tempat, melainkan sikap.