Lintang Siltya Utami
Ilustrasi gerbang tol Jatingaleh. [Gemini AI]

Telapak tanganku masih perih ketika gerimis pagi itu memaksakan diri jadi soundtrack episode balik mudik yang belum juga dimulai. Di halaman rumah kerabat istri di Pati, tanah basah membalas salam terakhirku dengan cara yang kejam—terpeleset, tubuh terjatuh, dan naluri berkata: selamatkan anak dan istri yang ada di sisi. Maka tangan kanankulah yang menjadi korban. Pecahan genting lancip menyambut telapak tanganku seperti pisau yang sudah lama menunggu. Darah mengalir deras, membasahi lantai, membasahi pagi yang sedianya akan kukenang sebagai momen perpisahan yang hangat.

Perban membungkus luka, tapi perihnya tak sebanding dengan firasat yang mulai merayap di dada.

Sore itu kami memutuskan tetap berjalan. Tol Trans-Jawa membentang di depan, menjanjikan garis lurus menuju Bandung. Tapi baru saja mobil memasuki gerbang tol Jatingaleh (Semarang), langit seperti murka. Hujan turun dengan amarah yang buta. Derasnya bukan lagi hujan—ini air terjun yang jatuh dari langit, menyemprot kaca depanku menjadi abstraksi cahaya rem mobil di depan yang tak lagi jelas bentuknya. Lampu hazard berkedap-kedip tanpa rima dan irama. Jarak pandang habis ditelan air.

Lalu muncul kemacetan, disusul kecelakaan, hingga akhirnya antrean rest area yang panjang menjadi mozaik barisan manusia yang kehilangan arah. Mobil-mobil di depanku menyalakan lampu hazard, kali ini mulai serempak nan kompak, seperti ritual keselamatan kolektif di tengah jalan yang seolah tenggelam.

Aku memutuskan keluar di exit tol Batang. Istriku hanya diam, anakku tertidur lelap di kursi belakang. Pekalongan menjadi persinggahan yang waktunya tak sesuai rencana, rumah Ibuku menjadi tempat kami menggantung lelah di malam dingin yang masih terus menangis.

Pagi harinya hujan belum reda. Seperti langit yang tak ingin melepas kepergianku, air terus jatuh membasuh bumi Jawa, seolah enggan memberi jalan bagi jawara kecilnya ini bergeser ke tatar Sunda. Aku pun menunggu. Menunggu sampai siang, sampai gerimis menjadi bosan, sampai akhirnya langit sedikit mengalah. Kami memutuskan berangkat lagi.

Di tol, untuk beberapa saat, semuanya terasa biasa. Angin menyapu air di aspal, mobil-mobil mulai berani melaju. Tapi kebahagiaan itu rapuh. Kemacetan luar biasa menanti sebelum Cirebon. Lagi-lagi kecelakaan. Lagi-lagi jalanan berhenti.

Aku keluar di Pejagalan, meminta Google Maps menunjukkan jalan lain. Dan aku pun tergiring masuk ke jalan kampung yang bukan lagi jalan, tapi parit panjang yang kebanjiran. Mobilku berenang puluhan meter. Di dalam, kami bertiga diam. Hanya suara air yang memukul bodi mobil, dan doa yang kupanjatkan tanpa suara.

Di Kecamatan Ciledug, yang stasiunnya hanya disinggahi satu-dua kereta per hari, aku mencoba kembali ke jalur tol. Tapi kemacetan di Ciperna memaksaku keluar lagi. Daripada stres, aku memilih memacu mobil mencari alternatif menuju gerbang tol Kertajati. Aku ingin pulang. Hanya itu.

Tapi jalan tak pernah berpihak.

Di Kecamatan Sumber, di tengah kemacetan ringan, mobilku berhenti hanya beberapa detik. Lalu benturan dari belakang mengagetkan seluruh tubuhku. Aku turun. Seorang anak muda kurus berkacamata berdiri di samping motornya. Tak pakai helm. Hanya bilang maaf. Tidak lebih. Bodi belakang mobilku ambles, logam penahannya bengkok, dan aku harus menekan-nekan sendiri pelat itu dengan tangan yang masih luka—agar tak menggesek ban, agar kami masih bisa berjalan.

Luka di telapak tanganku terbuka lagi. Darah membasahi perban yang kuganti sendiri di pinggir jalan.

Aku harus mengalah. Sisa perjalanan aku jalani perlahan. Setiap polisi tidur, setiap lubang di aspal, aku mendengar gesekan besi dan ban—suara yang mengingatkanku bahwa kami hanya berjarak satu benturan lagi dari berhenti total. Tapi aku terus melaju. Karena di belakang, anakku tertidur. Karena di samping, istriku masih percaya.

Sebelum sampai Kertajati, Google Maps kembali membawaku ke jalan-jalan kampung, gang sempit, pinggir sungai, hanya untuk kemudian mengembalikanku ke jalan raya yang tadi kulewati. Aku hampir tertawa. Atau menangis. Entahlah. Tapi untung, tak pernah ada mobil lain yang bersimpangan denganku di jalan sempit itu. Seolah ada yang menjaga.

Masuk pintu tol Kertajati, aku melaju hati-hati. Setiap goncangan terasa seperti pukulan. Kopiko kubuka satu per satu untuk melawan kantuk yang berat seperti karung basah. Lampu-lampu tol berpendar redup, dan aku hanya ingin satu: sampai.

Jam setengah dua belas malam, mobilku keluar di Pasteur. Bandung. Kota yang kutuju sejak dua hari lalu, akhirnya menyambut dengan udara dingin dan lampu-lampu yang tak padam.

Tapi anakku bangun. Lapar, katanya.

Kami mampir ke McD Surya Sumantri. Aku memesan paket lengkap nasi ayam korea dan double cheese burger, lelahku puncak, tapi masih kusisakan sabar. Namun ketika pesanan datang, nasi tak ada. Teh dan gula pun tak ada. Hanya air putih hangat dalam cup. Karyawannya mungkin mengantuk, mungkin baru diterima kerja malam itu. Aku protes, sedikit marah, karena di titik ini, aku ingin setidaknya satu hal berjalan benar.

Sampai rumah, capeknya luar biasa. Tubuhku jatuh di kasur, tapi aku tak bisa merebahkan punggung. Luka di tangan, pegal di sekujur tubuh, dan rasa yang campur aduk di dada membuatku tidur mbangkong. Seperti siap bangun kapan saja. Seperti masih tak percaya bahwa perjalanan ini benar-benar usai.

Hujan, luka, kemacetan, banjir, kecelakaan, dan jalan kampung yang berliku—semuanya kujalani dalam dua hari yang terasa seperti dua musim. Tapi di tengah semua itu, istriku tetap diam menemani, anakku tetap tertidur nyenyak di kursi belakang, dan aku tetap memegang kemudi dengan tangan yang berdarah-darah.

Mungkin inilah arti pulang: bukan tentang sampai, tapi tentang terus berjalan meski langit dan jalan seolah bersekongkol menguji.

Bandung, akhirnya kusapa lagi. Bukan dengan senyum, tapi dengan napas lega yang panjang, dan luka di telapak tangan yang perlahan mengering, menyimpan cerita yang tak mudah kulupakan.

Pati–Bandung, musim mudik tahun 2026.

AK Supriyanto, pengelana paruh waktu