Hikmawan Firdaus | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Uang (freepik/8photo)
Ukhro Wiyah

Inflasi menjadi istilah yang semakin akrab di telinga masyarakat akhir-akhir ini. Namun bagi banyak orang, inflasi bukan lagi sekadar istilah ekonomi yang muncul di berita atau pembahasan para ahli. Melemahnya nilai rupiah hingga menyentuh Rp17.500 per dollar AS turut memunculkan kecemasan baru, terutama bagi generasi muda yang sedang berusaha membangun masa depannya.

Harga kebutuhan perlahan meningkat. Uang terasa lebih cepat habis bahkan ketika hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Banyak pemuda mulai hidup dengan kebiasaan baru: menghitung pengeluaran lebih hati-hati, menekan keinginan pribadi, dan terus mencemaskan kondisi ekonomi di masa depan. Pada titik ini, inflasi tidak hanya memengaruhi pasar dan perekonomian negara, tetapi juga memengaruhi cara generasi muda memandang hidupnya sendiri.

Di tengah kondisi ekonomi yang semakin tidak pasti, banyak pemuda mulai kehilangan gairah untuk bermimpi. Pekerjaan yang stabil semakin sulit diperoleh, sementara persaingan kerja terus meningkat. Di sisi lain, biaya hidup terus naik dan membuat gaji terasa tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masa depan pun menjadi sesuatu yang terasa sulit diprediksi.

Akibatnya, banyak pemuda akhirnya lebih fokus bertahan hidup daripada membangun harapan. Impian yang dulu terasa sederhana—melanjutkan pendidikan, membangun usaha, memiliki rumah, atau sekadar menikmati hobi—perlahan berubah menjadi sesuatu yang terasa mahal. Bukan karena mereka tidak memiliki ambisi, melainkan karena keadaan membuat mereka harus terus bersikap realistis.

Generasi muda hari ini hidup dalam bayang-bayang kecemasan finansial yang nyata. Mereka terus memikirkan pengeluaran, pekerjaan, dan masa depan. Ketakutan akan kegagalan secara finansial pun perlahan membawa dampak yang serius. Seseorang menjadi lebih mudah lelah secara mental, kehilangan motivasi, merasa hidup berjalan monoton, hingga kesulitan menikmati hidupnya sendiri. Banyak orang tetap berusaha menjalani hidup seperti biasa, padahal sebenarnya mereka sedang berupaya keras agar hidup yang telah dibangun tidak runtuh begitu saja.

Di saat realitas hidup terasa semakin berat, media sosial justru dipenuhi berbagai pertunjukan pencapaian. Orang-orang terlihat sukses, produktif, bahagia, dan seolah memiliki hidup yang berjalan baik-baik saja. Bagi mereka yang sedang berada dalam tekanan ekonomi, melihat semua itu setiap hari dapat menimbulkan perasaan tertinggal dan kehilangan semangat terhadap hidupnya sendiri.

Padahal, perbandingan-perbandingan yang muncul di media sosial sering kali tidak sepenuhnya ideal. Apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya. Namun tetap saja, paparan pencapaian orang lain yang terus-menerus dapat membuat banyak pemuda merasa gagal, terutama ketika mereka sendiri masih sibuk bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Mungkin pemuda hari ini tidak benar-benar kehilangan mimpi. Mereka masih mempunyai banyak harapan untuk masa depan. Hanya saja, mereka masih memiliki ketakutan yang lain. Takut untuk berharap terlalu tinggi, juga takut jika ekspektasi yang mereka ciptakan akhirnya menjatuhkan mereka dengan kejam. Di tengah inflasi dan ketidakpastian ekonomi, banyak pemuda akhirnya belajar satu hal yang menyakitkan: bahwa bertahan hidup sering kali terasa lebih mendesak daripada bermimpi.

Dalam kondisi seperti ini, kehilangan gairah untuk bermimpi bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Semua terjadi perlahan. Dimulai dari rasa lelah menghadapi realitas hidup, ketakutan terhadap kondisi ekonomi, hingga kebiasaan untuk terus menekan keinginan diri sendiri demi bertahan hidup. Akibatnya, banyak pemuda mulai menjalani hidup hanya untuk melewati hari demi hari, bukan lagi untuk mengejar sesuatu yang benar-benar mereka inginkan.