M. Reza Sulaiman | Daffa Binapraja
Aparatur sipil negara (ASN) Saat WFH. [Suara.com/Alfian Winanto]
Daffa Binapraja

Belakangan ini, media-media berita Indonesia sedang memiliki satu topik yang banyak dibahas: Perang Iran dengan Israel. Salah satu dampak dari perang ini adalah ditutupnya Selat Hormuz. Dikutip dari Kompas, 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Dengan ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran, perdagangan minyak terganggu.

Dari terganggunya perdagangan minyak seperti ini, beberapa negara memiliki beragam kebijakan untuk menanganinya. Dikutip dari Channel News Asia dan CNN Indonesia, Sri Lanka mengumumkan kerja selama empat hari demi menghemat BBM dalam negeri. Dikutip dari Kompas, Tiongkok sempat memiliki lonjakan harga BBM sebesar 20 persen sebelum akhirnya berencana menurunkan harga BBM.

Lalu, apa yang Indonesia lakukan dalam menangani disrupsi atau gangguan perdagangan minyak yang bisa saja berpengaruh pada BBM dalam negeri? Menteri Koordinator Airlangga Hartanto menyatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan kebijakan work from home (WFH) atau kerja di rumah bagi pekerja swasta dan aparatur sipil negara. Berdasarkan laporan dari KompasTV pada 27 Maret 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa WFH yang dilakukan secara cermat dapat menghemat BBM.

Bisa dibilang, jawaban Indonesia untuk keadaan ini adalah WFH. Namun, sebagai warga Jakarta yang pernah berhadapan dengan ‘kuliah di rumah’ karena COVID-19, izinkan saya menyebutkan pengalaman WFH serta beberapa pertimbangan lanjutan mengenai kebijakan tersebut dari sudut pandang warga.

Perlu diingat, pertimbangan yang saya kemukakan ini mungkin tidak akan bisa mewakili seluruh warga Indonesia karena keadaan setiap masyarakat yang berbeda. Namun, saya berharap tulisan ini bisa digunakan untuk mengamati berbagai sudut pandang dalam melaksanakan kebijakan WFH.

Sekilas WFH di Tahun 2019-2023

Kartu Vaksinasi COVID-19, Salah Satu Peninggalan Zaman COVID-19 Selain PSBB (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)

Sekitar akhir 2019 hingga awal 2020, luar negeri tengah gempar dengan COVID-19. Lalu, Indonesia baru mulai mengumumkan kebijakan ‘tetap di rumah’ untuk mencegah penyebaran COVID-19 pada awal 2020 hingga sekitar tahun 2023.

Selama itu, kami sekeluarga menetap di rumah dan hanya pergi keluar jika kami harus berbelanja kebutuhan pasar. Itu pun kami harus membawa dua masker (Satunya dipakai, satunya di dalam tas sebagai cadangan) dan tidak bisa pergi keluar kota.

Di satu sisi, di awal munculnya COVID-19 di Indonesia dan awal dari kebijakan tetap di rumah, orang-orang segera membeli banyak sekali masker dan pembersih tangan serta sembako untuk distok di rumah. Ada pula yang membeli berkaleng-kaleng susu merek tertentu yang dipercaya (sebagian masyarakat) dapat mencegah diri dari terkena virusnya.

Panic buying alias ‘beli borongan’ bukan satu-satunya masalah negara kala itu, ada juga ‘urusan kesehatan mental’ karena jarang bertemu orang dan perubahan mendadak dari keadaan hidup masyarakat serta ‘beragam protes dari beragam kalangan’ gegara kebijakan ‘tetap di rumah demi mengurangi penyebaran virus’. Orang antivaksin dan anti-pemerintah menyatakan bahwa kebijakan yang bernama resmi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ini hanyalah cara negara untuk ‘mematikan pedagang kecil’, ‘mengendalikan massa’, dan ‘membunuh perlahan, bersamaan dengan vaksinasi COVID-19’. Pokoknya, ada saja protesnya.

Namun, di sisi lain, ada banyak perkembangan yang terjadi gegara PSBB alias ‘tetap di rumah’ ini. Ojek daring jadi berkembang pesat karena banyaknya orang mengandalkan para ojek untuk antar makanan atau belanjaan, kualitas udara Jakarta membaik karena berkurangnya kegiatan masyarakat yang berpengaruh pada berkurangnya jumlah kendaraan bermotor di jalan, dan beragam cara berinteraksi dengan digital pun muncul.

Bagaimana dengan keluarga saya sendiri? Ya, kami jadi lebih sering memakai aplikasi seperti Zoom untuk kuliah dan kerja, sempat memelihara ikan dan menyemprot tanaman sebagai pengisi waktu luang, dan frekuensi berpergian kami berkurang karena mengandalkan televisi dan layanan streaming (kala itu, Netflix dan Vidio sedang jaya-jayanya).

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari PSBB COVID-19 Indonesia? Bagaimana cara kita bertahan di WFH demi hemat BBM saat ini?

Ketika PSBB Lebih Berat dari 'WFH Demi BBM' (dan Cara Adaptasinya)

Kegiatan hobi, seperti membaca dan melipat kertas origami, dapat membantu beradaptasi dengan WFH (Dok. Pribadi / Febriansyah Daffa Binapraja)

Sebelum PSBB, masyarakat sempat mengalami ‘beli borongan’. Lalu, seiring berjalannya waktu, masyarakat beradaptasi dengan beragam cara seperti memakai Zoom untuk kerja dan sekolah serta memanfaatkan ojek daring untuk membeli makanan.

Singkatnya, adaptasi diri dan keluarga, persiapan fisik dan mental, serta ketersediaan dan konsumsi informasi faktual adalah tiga hal penting dalam WFH nanti.

Jika seandainya WFH yang lebih ringan dari PSBB benar-benar dilaksanakan, ada baiknya kita dan keluarga untuk percaya kemungkinan positif dari media-media resmi pemerintah untuk mengurangi kepanikan diri. Adanya WFH nanti, bila terpaksa harus dilaksanakan seumur hidup, akan menuntut kita beradaptasi dengan standar hidup yang baru.

Walaupun COVID-19 dan PSBB tidak memaksa kita memakai masker seumur hidup, kita jadi belajar hidup dengan keberadaan ojek daring, pentingnya kesehatan mental, dan cara komunikasi daring baru sebagai bagian dari "New Normal" pasca-COVID.

Begitu juga dengan “WFH demi BBM” ini. Sangat mungkin warga Indonesia akan dituntut keadaan untuk mencari cara mencukupi diri dari rumah, mulai dari mengatur MBG yang didapat anak, menghibur diri dan keluarga tanpa terlalu bergantung pada media sosial mengingat anak di bawah 16 tahun tak dapat memakai medsos lagi, hingga memilah informasi faktual di antara lautan hoaks bermuatan DFK (Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian).

Lalu, bagaimana caranya agar kita cepat beradaptasi dengan WFH jika kita memang harus melakukannya seumur hidup? Tenang saja, kata kuncinya satu: Hobi. Adanya kegemaran bisa membantu kita bertahan, sama seperti sebagian warga Indonesia bertahan di tengah PSBB dengan menanam tanaman dan memelihara ikan. Bisa jadi, WFH kali ini akan jadi awal dari kembalinya ‘membaca buku cetak’ dan ‘bermain kertas origami dengan anak’.