Sekitar sebulan lalu, saya sempat mendengar sebuah isu di media sosial. Mungkin Anda bertanya, “Isu apa?”. Jawabannya adalah “seorang ibu pegiat kehidupan alami membahas mengenai bagaimana tuberkulosis bisa disembuhkan dengan obat herbal”.
Tentu saja dunia media sosial langsung gempar. Ada yang secara blak-blakan mendukung si ibu pegiat kehidupan alami, ada pula yang marah karena tidak sesuainya pernyataan ibu ini dengan kenyataan medis di mana tuberkulosis tidak bisa sembuh hanya dengan herbal. Namun, warganet lebih sebal lagi tatkala si ibu herbal ini menyatakan bahwa dokter dan nakes yang mengobati TBC hanyalah akal-akalan dunia medis dan “kumpulan manusia bermain Tuhan” demi cuan belaka.
Saya tak tertarik dengan ibunya ataupun kontroversi yang ibunya buat. Namun, entah mengapa, seluruh peristiwa ini mengingatkan saya pada COVID-19 di mana sebagian warga Indonesia menolak vaksin dan bahkan sampai menganggap penyakitnya ‘hanya akal-akalan pemerintah semata’.
Ketidaksukaan dan ketidakpercayaan sebagian orang pada ahli ini kadang disebut the death of expertise alias ‘matinya kepakaran’. Akhirnya, dari sini, saya mulai bertanya: Bagaimana ‘matinya kepakaran’ terjadi? Mengapa ‘kematian kepakaran’ bisa terjadi? Apa saja faktor yang memengaruhi ‘matinya kepakaran’?
Sekilas Mengenai 'Matinya Kepakaran'
Edisi sederhananya, ‘matinya kepakaran’ mengacu pada keadaan di mana orang tak lagi percaya pada pakar dan ahli pada suatu bidang. Dikutip dari Kompas, Tom Nichols dalam bukunya yang berjudul The Death of Expertise (Ada versi terjemahan Indonesia berjudul Matinya Kepakaran: Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2018) menyatakan bahwa orang modern sekarang kehilangan kepercayaan pada para pakar dan ahli.
Mengapa demikian? Salah satu faktor mendasar dari ‘matinya kepakaran’ adalah kemudahan penyebaran informasi melalui media sosial. Walaupun sebuah informasi bisa salah, informasi tersebut masih bisa diambil orang modern karena adanya anggapan bahwa semua informasi memiliki bobot yang sama tanpa perlu dasar ilmiah.
Fenomena ‘matinya kepakaran’ ini juga diperparah dengan adanya gerakan anti-intelektualisme alias menolak percaya pada pakar, ahli, dan kelompok resmi seperti lembaga kedokteran dan media massa serta populisme digital yang menganggap suara mayoritas di dunia daring lebih benar daripada analisis ilmiah.
Jika matinya kepakaran dapat disederhanakan menjadi ‘sebuah keadaan di mana orang tak lagi percaya pakar karena menolak percaya pakar dan menganggap benar suara mayoritas’, bagaimana kita bisa melihat contoh ‘matinya kepakaran’ dalam konteks masyarakat Indonesia?
Fenomena 'Matinya Kepakaran' Edisi Lokal
Mungkin sebagian dari kita masih ingat betapa repotnya kehidupan kita saat diterjang COVID-19. Dari ‘COVID bisa sembuh dengan nasi kucing’ hingga ‘COVID hanyalah akal-akalan pembuat vaksin agar cuan’, banyak hal terjadi di sekitar kita gegara pengaruh media sosial.
Lihat saja kasus pemukulan dokter di Batam oleh warga gegara jenazah terkonfirmasi COVID-19 pada Agustus 2020. Dikutip dari Antara, dokter Rumah Sakit Umum Daerah Embung Fatimah dipukul warga karena mau membawa pulang paksa jenazah yang terkena COVID-19.
Menko Polhukam Mahfud MD sendiri pernah menyebutkan betapa mengganggunya dan beragamnya hoaks COVID-19. Dikutip dari Detik, ragam hoaks yang dihadapi negara terdiri dari ‘Vaksin COVID-19 adalah akal-akalan negara non-Muslim untuk menghancurkan Islam’, ‘Vaksin COVID-19 dapat membuat Anda mati’, dan lain sebagainya.
Oh, ya. Bukan hanya rakyat rupanya yang mencetak misinformasi dan disinformasi COVID-19. Dikutip dari Antara, Menhub Budi Karya sempat melawak bahwa COVID-19 tidak masuk Indonesia karena warganya makan nasi kucing. Jadilah pernyataan itu dianggap kontroversial dan bahkan hoaks yang bikin warga marah begitu Indonesia ternyata betulan memiliki masalah COVID-19.
Kembali lagi ke urusan ‘matinya kepakaran edisi lokal’, COVID-19 bukan satu-satunya contoh fenomena tersebut. Masih ingat ‘ibu-ibu alami bilang TBC sembuh dengan herbal’, kan? Nah, setelah ibu ini berujar demikian, ibu ini juga menambahkan melalui kolom komentar kalau pengobatan medis hanyalah akal-akalan dokter yang bermain Tuhan dan ‘kita semestinya percaya Tuhan bisa sembuhkan TBC lewat obat herbal’. Begitu sudah dikoreksi para dokter asli (dan diamuk warganet, tentunya), ibu ini berkilah kalau obat herbal ‘hanya membantu penyembuhan’ alih-alih menjadi faktor tunggal penyembuhan TBC serta meminta warganet untuk selalu bertanya dulu sebelum menuduhnya ‘penyebar hoaks’.
Saya pun jadi bertanya, mengapa ada banyak orang berkeras kepala mengatakan hal-hal seperti ‘vaksin hanyalah tipuan’ atau ‘Herbal doang bisa sembuhkan TBC’, ya?
Beragam Faktor 'Matinya Kepakaran'
Penolakan terhadap pendapat pakar dan pola pikir ‘suara mayoritas pasti benar’ bukan satu-satunya faktor matinya kepakaran. Mengapa saya bisa berpikir demikian? Untuk memahaminya, saya ajak Anda membayangkan skenario ini bersama.
Bayangkan Anda sudah berkeluarga, lalu sudah memiliki anak. Sesuai anjuran Puskesmas tempat Anda tinggal, Anda bawa anak Anda untuk cek kesehatan dan beragam vaksinasi. Ya, Anda tahulah, vaksin TB, hepatitis, dan lain sebagainya. Lalu, anak Anda meninggal setelahnya.
Dari sini, Anda memiliki beberapa kemungkinan. Pertama, Anda terima saja sebagai bagian dari takdir Tuhan. Kedua, Anda cari Puskesmas lain yang dapat Anda percaya sambil bertanya kepada dokter anak dan ahli kesehatan terkait mengenai masalah pada anak Anda.
Atau, Anda bisa saja protes tak terima dengan dunia kesehatan Indonesia yang (Anda yakini) ‘bobrok tak karuan’ sambil mengunggah di medsos mengenai ‘pengalaman pahit Anda percaya pada sistem kesehatan nasional’.
Dari sini, kita bisa menarik dua faktor lain yang menimbulkan ‘matinya kepakaran’: trauma mental dan rasa kecewa berlebih pada pakar atau otoritas terpercaya, serta cara otak menerima berita negatif.
Gegara kecewa, trauma mental, atau perasaan negatif lainnya, seseorang bisa saja berbalik haluan jadi lebih percaya ‘jawaban lain’ walaupun jawabannya keliru. Bisa juga gegara menerima informasi bertentangan (dan tidak berhati-hati) di media sosial, seseorang lebih percaya ‘jawaban atau cara alternatif’. Ingat-ingat saja lagi ‘populisme digital’ yang sempat saya sebutkan sebelumnya.
Berita-berita negatif pun juga dapat memengaruhi ‘matinya kepakaran’. Sudah terlalu sering melihat ‘berita negatif dari otoritas atau pakar’ bisa membuat seseorang tak percaya dengan pakar. Mungkin, alasan lain ada orang antivaksin pada zaman COVID-19 adalah ‘terlalu sering melihat berita orang mati, baik karena COVID-19 maupun meninggal setelah vaksin’. Rolf Dobelli dalam bukunya yang berjudul Stop Membaca Berita pernah menyebutkan bahwa terlalu banyak mengonsumsi berita dapat membuat kita salah mengambil prioritas, membesar-besarkan opini tak penting (dan bisa jadi tak benar), serta mudah termanipulasi.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Gen Z Tidak Kurang Dukungan Hanya Kecanduan Pengakuan, Benarkah?
-
Asal-usul 'Pokoknya Ada' yang Viral dan Jadi Meme di Media Sosial
-
Pembatasan Medsos Anak Tak Cukup, IDAI Soroti Peran Orang Tua dan Kesenjangan Pendampingan
-
Dukung PP TUNAS, IDAI Setuju Pembatasan Usia Pengguna Media Sosial bagi Anak
-
Gugat Meta dan YouTube soal Kecanduan Medsos, Perempuan Ini Tuntut Rp100 M
Kolom
-
Krisis Perlindungan di Zona Konflik: Insiden Berulang Minim Akuntabilitas
-
Sesat Logika Tipikor: Saat Vendor Kreatif Jadi Kambing Hitam Anggaran
-
Warisan Himmel: Ketika Karakter Anime Mengubah Cara Kita Berbuat Baik
-
Kota Pelajar dengan Gaji Satu Jutaan: Potret Pekerja di Kota Malang
-
Gen Z Tidak Kurang Dukungan Hanya Kecanduan Pengakuan, Benarkah?
Terkini
-
Riyadus Shalihin: Teduhnya Oase Spiritual di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
-
Pantai Panjang Bengkulu: Pasirnya Putih, Ombaknya Panjang, Bikin Betah Sampai Lupa Pulang!
-
3 Tablet Rp1 Jutaan Rasa Premium di 2026: Murah, Kencang, dan Layar Tajam
-
Pengikut Tak Kasatmata
-
Penikmat Film Alur Pelan Merapat! Still Shining Sajikan Romansa Slow Burn yang Menyentuh