Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Menulis (Freepik/cookie_studio)
Ukhro Wiyah

Sobat Yoursay, sebagai seorang penulis pernahkah kalian merasa kehabisan ide?

Kalau pernah, saya ingin bilang bahwa kalian nggak sendiri. Sebab saya pun sering mengalaminya. Bukan hanya sekali saat akan menulis, saya beralasan “lagi nggak ada ide”, “lagi blank” atau bahkan “nggak tahu harus nulis apa”.

Padahal di balik semua alasan itu, sebenarnya ada catatan yang penuh dengan berbagai ide yang ingin dibahas, ada draft yang siap dieksekusi, tangkapan layar referensi memenuhi memori, bahkan outline pun sudah disiapkan. Tapi alih-alih fokus menulis, yang saya lakukan malah scrolling atau nonton drama hingga berjam-jam lamanya. Ini artinya saya bukan tidak punya ide sama sekali, tetapi sulit memulai dan mengeksuksi ide yang sudah ada.

Dan sepertinya bukan hanya saya yang mengalami hal ini. Memang bukan semuanya, tetapi beberapa penulis mungkin ada yang mempunyai kebiasaan gemar mengumpulkan ide tanpa suatu tindakan apapun. Karena seperti yang kita tahu, ide bisa datang dari mana saja.

Apapun yang kita lihat, dengar, tonton, alami, pelajari, pikirkan, dan rasakan semua bisa dijadikan sebuah karya tulis. Penulis lalu dengan senang hati mencatat semua ide yang muncul, membuat konsepnya, hingga membayangkan hasil akhir. Tak jarang, kita sudah merasa produktif hanya dengan mengumpulkan ide saja.

Sayangnya, di sini kita melupakan satu hal: untuk mendapatkan hasil sebuah karya, harus ada proses menulis. Jika ide-ide itu tidak dieksekusi melalui proses demi proses, maka ia hanya akan menjadi draft kosong, judul tanpa isi, dan kerangka tulisan yang tak pernah selesai.

Sobat Yoursay, sekarang saya ingin mengajak kalian menggali penyebab di balik kebiasaan menunda yang mungkin dirasakan oleh seorang penulis. Ada dua poin utama, yaitu: rasa takut dan perfeksionisme. Banyak penulis pemula mungkin merasakan hal yang sama seperti saya. Merasa takut menghasilkan tulisan yang jelek, takut jika tidak ada yang membaca tulisan kita, takut jika tulisan kita dianggap aneh dan berlebihan, bahkan takut tulisan kita belum cukup bagus dibandingkan dengan penulis lain.

Sementara di sisi lain, ada rasa ingin memiliki hasil karya yang langsung terlihat sempurna yang membuat saya berulang kali membaca apa yang sudah saya tulis dan melakukan revisi di beberapa titik. Terkadang juga terlalu lama berpikir, terlalu banyak merencanakan tulisan yang “baik”, bahkan saat tulisan sudah selesai pun masih merasa ragu untuk submit. Hal ini membuktikan bahwa terkadang yang membuat suatu karya tidak terselesaikan bukan karena kurangnya ide, melainkan karena kita terlalu banyak menunda dan ragu untuk melangkah.

Kita banyak menghabiskan waktu untuk scrolling media sosial dengan dalih mencari referensi, melihat konten lain demi mendapat inspirasi, atau hanya sekadar demi menunggu mood datang. Namun tanpa sadar, proses itu sebenarnya hanyalah alasan kita untuk menunda. Dan di saat yang sama, kita sudah merasa produktif karena terus mengonsumsi konten, padahal tidak menghasilkan apa-apa.

Padahal faktanya, sebuah karya bisa selesai bukan karena mood sedang bagus-bagusnya atau karena banyaknya inspirasi yang ada, tetapi karena penulisnya yang memaksa diri mengerjakan karya itu hingga selesai. Saya sendiri jarang menulis karena mood, melainkan karena menemukan waktu yang tepat untuk fokus.

Misalnya, ketika sudah selesai dengan urusan di dapur atau beberes rumah, sudah menuntaskan obrolan dengan keluarga, atau ketika sudah benar-benar bisa fokus di depan laptop—biasanya malam saat keluarga sudah mulai beristirahat atau siang saat semua orang fokus dengan kesibukannya. Di tengah prosesnya, mungkin sesekali ada distraksi. Namun, ketika saya sudah memulai dan berada di tengah jalan, saya tetap bisa melanjutkannya setelah distraksi itu berlalu.

Mungkin bisa dibilang bahwa sebenarnya menulis lebih dekat dengan kebiasaan daripada inspirasi. Karena realitasnya, semakin banyak kita menulis, semakin terbiasa pula kita mengolah dan menyusun kata-kata. Sebaliknya semakin banyak inspirasi, malah semakin mumet kita saat akan mengeksekusinya. Ibarat kata, ide adalah benih dari sebuah tanaman. Sementara menulis dan self-editing menjadi proses menanam juga merawatnya.

Banyak orang sebenarnya mempunyai ide menarik. Namun, tidak semuanya benar-benar sempat diwujudkan menjadi tulisan yang selesai. Saya sendiri perlahan menyadari bahwa menulis bukan hanya soal menemukan inspirasi, tetapi juga tentang membiasakan diri duduk, fokus, lalu tetap melanjutkan prosesnya meski hasilnya belum terasa sempurna. Barangkali, rasa ragu dan keinginan untuk menghasilkan tulisan yang “baik” sejak awal yang membuat proses menulis terasa lebih berat dari yang seharusnya.

Karena hanya dengan ide saja, tidak cukup untuk melahirkan sebuah karya. Tanpa proses menulis, berbagai gagasan hanya akan berhenti sebagai draft, catatan, atau kerangka tulisan yang tersimpan begitu saja. Dan sebagus apa pun sebuah ide, ia tetap tidak akan pernah benar-benar menjadi tulisan jika terus tertunda untuk dieksekusi.