“Setiap orang memiliki pengalaman unik yang valid untuk diceritakan.”
Kalimat tersebut disampaikan oleh Kak Bimo dalam kegiatan Yoursay Class pada 7 April 2026 yang bertajuk “Ubah Storymu Jadi Opini Berisi”. Kalimat sederhana ini terasa dekat, sekaligus mengingatkan bahwa pengalaman pribadi bukan sekadar cerita, tetapi juga bisa menjadi sudut pandang yang bermakna ketika dituliskan.
Ucapan itu membuat saya menyadari bahwa hal-hal sederhana yang sering kita alami sebenarnya bisa menjadi bahan tulisan yang bermakna. Tidak hanya sebagai cerita pribadi, tetapi juga sebagai opini yang mewakili pengalaman banyak orang.
Sebelum mengikuti kelas tersebut, sebetulnya saya sudah beberapa kali menuliskan opini berbasis pengalaman personal di Yoursay. Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu pikiran saya: takut dianggap oversharing apabila suatu saat tulisan saya dibaca oleh orang di sekitar.
Keresahan itu sempat saya sampaikan dalam Yoursay Class. Alih-alih mendapatkan jawaban langsung, saya justru mendapat pertanyaan, “Apa yang kemudian membuat kamu memutuskan tetap menulisnya?” Pertanyaan dari Kak Bimo membuat saya sejenak termenung dan berpikir. Benar juga. Jika memang ragu, seharusnya sejak awal saya tidak perlu menuliskannya.
Kemudian, saya mencoba mengingat kembali beberapa pengalaman pribadi yang pernah saya tulis: mengapa saya menceritakan hal itu, dan apa tujuan saya menuliskannya. Jawabannya ternyata sudah terangkum dalam tagline yang tertulis di bio profil saya sendiri: menulis dengan rasa, merefleksikan hidup dengan kata-kata.
Di balik setiap tulisan yang saya bagikan di Yoursay, ada harapan kecil yang menyertainya. Saya ingin pengalaman tersebut bukan sekadar cerita, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran dan refleksi, baik bagi diri saya maupun pembaca. Seperti ungkapan yang sering kita dengar, guru terbaik adalah pengalaman.
Lalu, bagaimana jika ada yang menilai tulisan saya sebagai oversharing?
Pertanyaan itu membuat saya teringat bahwa sebenarnya kita tidak perlu terlalu memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali kita, termasuk penilaian orang lain. Jika tulisan saya dianggap oversharing, bisa jadi karena mereka belum menangkap apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Atau mungkin, mereka memiliki preferensi yang berbeda dalam memandang batas antara berbagi pengalaman dan membuka hal yang terlalu personal.
Meski demikian, sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya memilih untuk menceritakan pengalaman tersebut secara umum tanpa menyebut detail yang terlalu spesifik dan hanya menuliskan pengalaman yang saya rasa cukup aman untuk dibagikan. Pengalaman pribadi hanya saya gunakan sebagai gambaran fenomena yang lebih nyata dan dekat dengan kehidupan sebelum masuk ke sudut pandang yang lebih luas.
Dalam Yoursay Class kali ini, Kak Bimo juga menyampaikan sebuah kalimat yang baru saya dengar: personal is political. Pernyataan tersebut bermakna bahwa pengalaman sehari-hari seseorang bisa dipengaruhi oleh struktur sosial yang lebih besar.
Hal itu membuat saya semakin memahami bahwa pengalaman personal tidak selalu berhenti sebagai cerita individu. Apa yang kita alami seringkali berkaitan dengan konteks yang lebih luas, baik lingkungan sosial, budaya, maupun cara pandang masyarakat terhadap suatu hal. Ketika pengalaman tersebut dituliskan dalam bentuk opini, cerita yang awalnya terasa personal dapat berubah menjadi refleksi yang relevan bagi banyak orang.
Di sinilah saya menyadari bahwa menulis pengalaman personal bukan sekadar menceritakan diri sendiri. Lebih dari itu, ada upaya untuk mengaitkan pengalaman tersebut dengan fenomena yang mungkin juga dialami oleh orang lain. Dengan begitu, tulisan tidak hanya menjadi ruang curhat, tetapi juga ruang berbagi perspektif.
Dalam Yoursay Class, hal ini juga dijelaskan melalui struktur penulisan yang dimulai dari pengalaman personal sebagai hook, kemudian dilanjutkan dengan konteks yang lebih luas, reframing, hingga penutup reflektif. Struktur tersebut membantu tulisan tetap terarah sehingga pengalaman pribadi tidak berhenti sebagai cerita, tetapi berkembang menjadi opini yang memiliki makna.
Bagi saya, pendekatan ini terasa sangat relevan. Ketika pengalaman personal dihubungkan dengan konteks yang lebih luas, tulisan menjadi lebih kuat, relatable, dan lebih mudah diingat oleh pembaca. Menulis opini dari pengalaman pribadi bukanlah tentang membuka semua hal secara detail, melainkan tentang bagaimana memaknai pengalaman tersebut dan menariknya ke dalam perspektif yang lebih luas. Pengalaman personal hanyalah titik awal, sementara refleksi dan sudut pandanglah yang membuat tulisan memiliki nilai.
Mungkin itu juga yang membuat saya akhirnya tetap menulis, meskipun sempat merasa takut dianggap oversharing. Sebab bagi saya, selama pengalaman itu dituliskan dengan tujuan refleksi dan pembelajaran, cerita tersebut tidak lagi menjadi milik pribadi semata. Ia dapat menjadi ruang untuk saling memahami, berbagi perspektif, dan melihat bahwa pengalaman sederhana pun bisa memiliki makna yang lebih besar ketika dituliskan dari sudut pandang yang berbeda.
Baca Juga
-
Surabaya dalam Sebuah Perjalanan dengan Kenangan yang Tak Mungkin Terulang
-
Sering Jajan sampai Harus 'Tirakat': Pelajaran Finansial di Semester Akhir
-
Lagu Gala Bunga Matahari: Merefleksikan Kehilangan dan Kerinduan Mendalam
-
Membaca Lirik Sedia Aku Sebelum Hujan: Ada Makna Spiritual di Balik Hits Idgitaf yang Viral?
-
Perempuan Bergaun Merah dan Jejak di Pos Satpam
Artikel Terkait
Kolom
-
Ugal-ugalan Anggaran MBG: Menyoal Puluhan Ribu Motor Dinas Baru
-
Sentuhan Fisik untuk Perempuan: Bikin Gagal Move On atau Cuma Reaksi Oksitosin?
-
Kukira Orang Pakai Gelar itu Pamer, Ternyata Cara Pandangku yang Dangkal
-
Filter Laut yang Kita Santap: Dilema Kerang Hijau dan Kesehatan
-
Hidup Bukan Template: 7 Keputusan Ini Sah Banget Dilakukan Tanpa Butuh Validasi Netizen
Terkini
-
Makanya, Mikir!: Teman Refleksi di Tengah Hidup yang Ruwet
-
7 HP OPPO Murah 2026 dengan Spek Tinggi, Nomor 4 Paling Menarik
-
ARIRANG Jadi Album Korea Pertama Puncaki Billboard 200 Dua Pekan Beruntun
-
Pedas! Fabio Quartararo Sebut Yamaha Tak Tau Cara Atasi Masalah Yamaha V4
-
Ulasan Novel Pintu Terlarang, Labirin Kegilaan dalam Simbolisme Karya Seni