Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi pertemanan (Pexels.com/Elijah O'Donnell)
e. kusuma .n

Sejak kecil, saya tumbuh dengan pesan moral agar menjadi orang yang bisa disukai. Saya, bahkan mungkin kamu juga, diajarkan untuk ramah, menyesuaikan diri, dan jangan bikin orang lain nggak nyaman. Hal semacam ini seolah jadi panduan sosial yang wajib saya terapkan. Tapi, apakah konsep ini memberi saya ruang nyaman? Tidak selalu.

Niat baik soal konsep sosialisasi ini tanpa sadar justru berpotensi berubah jadi tekanan, terutama di kota besar. Saya jadi sibuk mikir, “Gimana caranya biar semua orang suka dengan saya?”. Padahal, sejujurnya, tidak semua orang harus menyukai kita, dan hidup seperti itu tetap bisa baik-baik saja.

Terlebih saat saya hanya ingin menjadi diri sendiri dalam versi terbaik, sama sekali tidak apa-apa jika ada yang tidak suka. Be yourself pun jadi motivasi diri sebab saya merasa berhak menjadi diri sendiri di tengah keinginan untuk disukai orang lain.

Keinginan Disukai Itu Manusiawi

Punya keinginan disukai itu manusiawi dan wajar dirasakan atau bahkan diupayakan oleh siapa saja. Apalagi manusia itu makhluk sosial, pasti perasaan diterima bikin kita merasa aman. Masalahnya muncul saat keinginan itu berubah jadi kebutuhan mutlak hingga menjadi tekanan.

Kita mulai menahan pendapat, memaksakan diri ikut arus, pura-pura setuju, sampai mengorbankan diri sendiri. Semua demi satu tujuan, biar nggak ditolak dan bisa diterima orang lain. Padahal situasi semacam ini tidak akan pernah mampu memberikan ruang nyaman bagi diri sendiri.

Bahkan, keinginan disukai yang manusiawi ini tidak berdampak baik buat diri sendiri. Alih-alih merasa bisa "pulang" di circle sosial, kita justru semakin terjebak dalam hubungan toksik. Pada akhirnya, kita juga harus paham kalau tidak semua orang akan mau menerima dan suka sama kita.

Kenapa Tidak Semua Orang Akan Suka Kamu?

Faktanya sederhana, tidak semua orang akan suka kamu karena setiap orang punya selera, nilai, dan pengalaman hidup yang beda. Bahkan orang paling baik sekalipun tetap punya haters, lho. apalagi kalau hidup di kota, nilai-nilai individualis ikut berpengaruh.

Kamu bisa sopan, tetap aja ada yang menganggap kamu dingin. Kamu bisa jujur, tetapi ada yang bilang kamu terlalu blak-blakan. Kamu bisa pendiam, tetapi malah dibilang tidak bisa membaur

Masalahnya bukan di kamu, melainkan pada kecocokan. Terlalu ingin disukai semua orang justru bikin kita capek sendiri, lho. Saat sibuk menyenangkan semua orang, kita pelan-pelan kehilangan diri sendiri.

Kita jadi takut ngomong jujur, gampang overthinking, capek secara emosional, dan merasa tidak pernah cukup. Ironisnya, semakin kita berusaha disukai, semakin kita lupa siapa diri kita sebenarnya dan kehilangan jati diri.

Be Yourself: Bukan Berarti Tidak Punya Etika

Banyak yang salah paham soal konsep "be yourself". Menjadi diri sendiri bukan berarti bebas nyakitin orang lain atau malah tidak peduli sekitar. Be yourself itu tentang jujur sama nilai diri, tidak memaksakan peran, dan punya batas yang jelas.

Menjadi diri sendiri juga bisa tetap sopan tanpa pura-pura. Kamu bisa jadi diri sendiri sekaligus tetap menghargai orang lain, kok. Dua hal ini bisa jalan bareng tanpa harus mengorbankan diri sendiri hanya demi penerimaan sosial.

Tidak Disukai Bukan Berarti Kamu Salah

Ini bagian yang paling susah diterima. Saat ada orang yang tidak suka sama kita, refleks pertama biasanya menyalahkan diri sendiri. Padahal, penolakan bukan selalu tentang kesalahan. Kadang itu cuma soal beda karakter, frekuensi, atau sudut pandang, terutama di kota yang orang-orangnya memiliki pemikiran terbuka dan bebas.

Itu normal, lho. Kita tidak perlu punya banyak teman yang menuntut perubahan yang melawan batasan pribadi. Bukankah lebih baik punya sedikit orang yang tulus daripada punya banyak relasi tapi harus terus berpura-pura?

Jauh lebih baik punya sedikit orang yang menerima kamu apa adanya dan bisa memiliki hubungan yang sehat. Kamu juga tidak perlu lagi takut menjadi diri sendiri, terus mikirin omongan orang, atau merasa harus berubah total.

Kalau kamu bisa bernapas lega saat bersama seseorang, itu tanda hubungan yang dijalani sehat. Semua bisa didapat saat kita bisa belajar menerima fakta kalau kecocokan nggak bisa dipaksakan.

Belajar Menerima: “Aku Tidak Cocok Buat Semua Orang”

Menerima kalau kita tidak cocok buat semua orang justru bikin hidup lebih ringan. Kita berhenti memaksa, berhenti membandingkan, dan mulai fokus jadi versi diri yang lebih jujur. Saat kamu nyaman jadi diri sendiri, orang yang tepat akan datang dengan sendirinya. Pemikiran ini juga menjadi ruang nyaman dan aman buat dirimu sendiri, lho.

Be yourself bukan tentang jadi sempurna, tetapi jadi jujur. Tidak semua orang harus suka kamu, dan itu bukan kegagalan. Yang penting, kamu tetap menghargai orang lain tanpa mengorbankan diri sendiri. Karena pada akhirnya, hidup bukan soal disukai semua orang, tapi soal nyaman jadi diri sendiri.