Sekar Anindyah Lamase | Sherly Azizah
Ilustrasi buku [pexels/Min An]
Sherly Azizah

Di era media sosial yang serba visual ini, ada sebuah tren "pamer" yang terasa jauh lebih elegan daripada pamer saldo ATM atau mobil mewah, yaitu pamer tumpukan buku.

Kita sering melihatnya di feed Instagram atau Threads: sebuah buku tebal dengan sampul minimalis, diletakkan secara artistik di samping cangkir kopi yang masih mengepul, lengkap dengan kacamata diletakkan secara acak dan pencahayaan hangat. Caption-nya? Biasanya kutipan sok bijak atau sekadar tulisan, "Self-healing hari ini."

Sekilas, pemandangan ini tampak menyejukkan hati. Kita merasa bahwa minat baca masyarakat Indonesia sedang berada di puncak kejayaan. Namun, mari kita jujur: dari sekian banyak orang yang mengunggah foto buku-buku tersebut, berapa banyak yang benar-benar menyentuh daftar isi, apalagi menamatkan satu bab penuh?

Sering kali, buku-buku itu hanyalah aksesori gaya hidup—komoditas untuk membeli label "pintar", "puitis", atau "berwawasan luas" di mata pengikut media sosial.

Fenomena ini sering disebut sebagai Tsundoku, sebuah istilah dari bahasa Jepang yang merujuk pada kebiasaan membeli bahan bacaan tetapi membiarkannya menumpuk tanpa pernah membacanya. Namun, di tangan netizen zaman sekarang, Tsundoku telah berevolusi menjadi alat flexing.

Dilansir dari survei yang dilakukan oleh Statista mengenai perilaku konsumen, tren pembelian buku fisik justru meningkat di kalangan anak muda bukan karena lonjakan minat baca, melainkan karena estetika "Bookstagram" yang menjanjikan citra diri yang lebih berkelas.

Mari kita bicara data yang lebih pahit. Dikutip dari laporan UNESCO, Indonesia masih menempati peringkat bawah dalam hal literasi nyata, dengan tingkat minat baca hanya sekitar 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang merupakan pembaca aktif.

Ironinya, penjualan buku di toko daring terus melonjak setiap ada diskon tanggal kembar. Ini membuktikan adanya kesenjangan besar: kita suka memiliki buku, tapi kita malas membaca buku. Literasi telah bergeser menjadi sekadar performa visual.

Saya menyampaikan keresahan ini, bukan berarti saya melarang orang untuk berfoto dengan buku. Silakan saja. Tapi masalahnya muncul ketika nilai sebuah buku direduksi hanya sebatas warna sampul yang cocok dengan dekorasi kamar.

Buku adalah hasil pemikiran, perenungan, dan riset mendalam dari penulisnya. Menjadikannya sekadar pajangan tanpa pernah menyerap isinya adalah bentuk penghinaan halus terhadap pengetahuan. Kita sedang menciptakan masyarakat "pintar di permukaan", yang jago memamerkan judul buku terbaru tapi gagap saat diajak berdiskusi tentang isinya.

Dampaknya secara sosial cukup berbahaya. Kita terjebak dalam budaya literasi semu. Kita merasa sudah menjadi bagian dari kaum intelektual hanya karena rak buku kita penuh, padahal pikiran kita masih kosong. Ini adalah bentuk penipuan terhadap diri sendiri. Kita lebih peduli pada bagaimana orang lain memandang kita daripada bagaimana kita mengembangkan diri sendiri.

Jika kita cermati ulang, tren ini dipicu oleh keinginan untuk mendapatkan validasi instan. Membaca buku itu berat, butuh waktu, fokus, dan energi mental. Sementara itu, berfoto dengan buku hanya butuh waktu lima menit dan beberapa filter. Di dunia yang haus akan pengakuan, pilihan kedua tentu jauh lebih menggiurkan. Namun, pengetahuan tidak bisa ditransfer lewat proses osmosis dari sampul buku ke otak hanya karena kita sering menjadikannya properti foto.

Dampak jangka panjangnya, industri perbukuan mungkin akan lebih fokus pada desain sampul yang "Instagrammable" daripada kualitas konten. Dan itu adalah sebuah tragedi bagi dunia literasi. Sebagai orang yang mencintai bahasa, saya merasa miris melihat buku-buku bagus hanya berakhir berdebu di rak, sementara pemiliknya sibuk mencari angle foto terbaik untuk mendapatkan ribuan likes.

Jujur saja, melalui tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk kembali ke fitrah sebuah buku. Buku dibuat untuk dibaca, didebat, dicoret-coret marginnya, dan dipahami maknanya. Berhenti menjadikan tumpukan buku sebagai alat untuk pamer kecerdasan yang tidak kita miliki.

Apakah kamu benar-benar haus akan ilmu, atau hanya haus akan pujian bahwa kamu "kelihatan seperti orang cerdas"? Ingat, kacamata dan buku tebal tidak otomatis membuatmu menjadi intelektual jika otakmu lebih sering digunakan untuk memikirkan filter foto daripada memikirkan isi bacaan.

Mari mulai membaca lagi, bukan sekadar memotret lagi. Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkanmu dari ketidaktahuan adalah isi kepala, bukan isi feed media sosial.