Hayuning Ratri Hapsari | Rahel Ulina Br Sembiring
Ilustrasi gudang Shopee yang overload (Tiktok/@anggiaa)
Rahel Ulina Br Sembiring

Siapa di sini yang menjelang hari-hari besar selalu checkout (CO) karena flash sale besar-besaran? Eits, hati-hati, ini bisa memicu impulsive buying, lho. Impulsive buying sendiri adalah perilaku berbelanja secara spontan atau tiba-tiba tanpa perencanaan matang sebelumnya.

Biasanya, fenomena ini dipicu oleh rasa lapar mata karena melihat diskon, potongan ongkir, atau promo hari raya yang menggiurkan.

Terus, siapa di sini yang pas CO di hari besar tiba-tiba paketnya ketahan di gudang sampai berminggu-minggu? Nah, saya pernah banget nih, paket ketahan lama sekali, dan pas dikonfirmasi, pihak kurir bilang gudangnya lagi overload.

Iya juga ya, kalau dipikir-pikir, itu terjadi karena kita semua serentak belanja di waktu yang sama, sehingga menciptakan volume paket yang melesat berkali-kali lipat dari kapasitas normal.

Namun yang bikin gemas, terkadang oknum kurir di lapangan malah menyalahkan konsumen. "Lagian kenapa sih belanjanya mepet Lebaran banget?" begitu kalimat defensif yang sering terdengar.

Lah, kok kita yang disalahkan? Padahal kita adalah konsumen sah yang membayar hak ongkos kirim.

Eits, sebentar dulu. Coba kita tempatkan diri dari sudut pandang kurir yang kelelahan luar biasa. Pas flash sale besar-besaran itu, kita sering banget CO barang-barang tersier atau non-primer yang sebenarnya bisa dibeli nanti-nanti.

Parahnya lagi, kita sering membeli barang secara terpisah, bukannya sekaligus dalam satu keranjang belanjaan.

Akibatnya, satu orang saja bisa menghasilkan banyak paket kecil-kecil yang datang berhamburan. Demi keamanan barang, penjual terpaksa membungkus paket kecil itu dengan plastik tebal, solatip, dan berlapis-lapis bubble wrap.

Bayangkan berapa banyak sampah plastik sekali pakai yang akhirnya menumpuk dan tertimbun di gudang ekspedisi dalam waktu seminggu saja? 

Ketika terjadi overload, manajemen gudang otomatis kolaps akibat bottleneck (penyumbatan aliran barang). Kurir yang tertekan secara fisik dan mental karena dikejar target akhirnya meluapkan frustrasinya ke wajah terdekat, yaitu pembeli.

Sadar atau tidak, ini bukan lagi sekadar masalah keterlambatan pengiriman, melainkan sebuah "Overload Ekologis" bencana lingkungan musiman yang polutif banget akibat timbulan limbah plastik yang tidak bisa diurai bumi.

Menerapkan 4 Pilar Green Logistics

Green Logistic (Pinterest)

Agar sistem logistik kita lebih berkelanjutan (sustain) dan tidak terus-menerus mengorbankan kurir serta kesehatan bumi, industri e-commerce wajib beralih ke konsep Green Logistics (Logistik Hijau).

Jika merujuk pada pilar-pilar logistik hijau, ada empat elemen utama yang bisa diterapkan secara konkret untuk mengurai benang kusut overload musiman ini:

Waste Reduction (Pengurangan Limbah): Fokus pada minimalisasi limbah operasional. Perusahaan ekspedisi harus menerapkan zero-waste management, misalnya dengan menggunakan wadah palet atau kotak pengiriman berbahan kokoh yang bisa dipakai berulang kali (reusable) antar-gudang, bukan kantong plastik besar sekali pakai yang langsung dibuang setelah disortir.

Sustainable Transportation (Transportasi Berkelanjutan): Mengurangi emisi karbon gas buang akibat proses retur atau salah sortir (reverse logistics). Solusinya, armada logistik harus mulai bertransisi menggunakan kendaraan listrik (Electric Vehicles) untuk pengantaran dekat serta mengadopsi bahan bakar nabati (Biofuels) pada truk kontainer besar, dibantu AI untuk optimasi rute.

Energy Efficiency (Efisiensi Energi): Gudang-gudang logistik raksasa yang beroperasi 24 jam penuh saat musim overload membutuhkan daya listrik yang sangat besar. Pilar ini menuntut pusat distribusi (DC) untuk mulai memanfaatkan sumber energi terbarukan (Renewable Energy Sources), seperti memasang panel surya di atap gudang.

Eco-Friendly Packaging (Kemasan Ramah Lingkungan): Mengganti bahan pembungkus plastik sekali pakai dengan alternatif ramah lingkungan yang mudah terurai di alam jika paket terpaksa tertimbun lama di gudang.

Apa yang Harus Dilakukan Tiga Aktor Utama?

Untuk mewujudkan keempat pilar di atas saat musim overload hari besar, peran aktif harus diambil oleh tiga pihak ini:

Bagi Penjual (Seller): Wajib Pakai Eco-Wrap

eco wrap (Papel)

Penjual harus mulai meninggalkan bubble wrap plastik dan beralih ke Honeycomb Paper Wrap (kertas pelindung bermotif sarang lebah). Jujur, saya masih jarang banget ketemu penjual yang pakai kemasan ini.

Padahal, harganya murah banget, cuma sekitar 3 ribuan saja di Shopee. Kertas honeycomb ini punya daya redam benturan yang sama bagusnya dengan plastik, namun sangat mudah terurai secara alami dan bisa didaur ulang sepenuhnya oleh konsumen.

Bagi Konsumen (Kita Semua): Kendalikan Impulsive Buying

ilustrasi mindful buying (Magnific.com/KamranAydinov)

Kita sebagai konsumen juga harus mulai bijak. Yuk, kurangi kebiasaan impulsive buying yang egois menjelang hari besar. Kalau memang harus belanja beberapa barang di toko yang sama, usahakan kumpulkan dulu barangnya di keranjang agar bisa dikirim sekaligus dalam satu paket besar.

Langkah kecil ini akan sangat membantu mengurangi pemborosan kemasan plastik kecil-kecil dan mempermudah kerja kurir.

Bagi Pihak Ekspedisi dan Platform: Manajemen Krisis yang Manusiawi dan Hijau

Perusahaan logistik tidak boleh lagi memakai metode "pemadam kebakaran" yang mengorbankan kurir lapangan saat krisis. Ekspedisi harus mengoptimalkan rute kurir dengan teknologi cerdas agar hemat BBM dan emisi.

Selain itu, mereka bisa menyediakan loker poin ambil mandiri (drop point) berbasis komunitas saat high season agar beban kurir berkurang. Di sisi lain, platform e-commerce wajib memberikan insentif atau logo khusus bagi toko yang sudah menggunakan kertas wrap untuk mengedukasi pasar.

Kesimpulan

Mengatasi kemacetan di gudang ekspedisi tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara kuno seperti menyalahkan pembeli yang impulsif atau memeras tenaga kurir lewat lembur ekstrem.

Kita butuh perubahan sistemik yang holistik lewat 4 pilar Green Logistics. Dengan memotong limbah kemasan lewat kertas wrap, menghemat emisi armada, dan mengefisiensikan energi gudang, kita bisa menikmati kemudahan belanja online tanpa harus merusak masa depan bumi.