Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Potret Raden Ajeng Kartini (Wikipedia)
Fauzah Hs

Rasanya setiap tanggal 21 April, lini masa kita mendadak penuh dengan foto-foto anggun berkebaya dan kutipan puitis dari surat-surat Raden Ajeng Kartini. Kita sering merayakan keberaniannya melawan tembok-tembok tebal Kadipaten Jepara sebagai aksi heroik yang membuka jalan bagi perempuan untuk bisa duduk di bangku kuliah atau mengejar karier setinggi langit.

Tapi Sobat Yoursay, apakah kita pernah benar-benar membedah apa yang dirasakan Kartini saat menulis surat-surat itu? Di balik kata-katanya yang tertata, sebenarnya ada jeritan kesehatan mental dari seorang perempuan yang sedang berusaha bertahan hidup di tengah tekanan sosial yang luar biasa menyesakkan.

Kartini dulu dipingit. Sebuah tradisi yang mungkin bagi kita sekarang terdengar seperti "istirahat di rumah saja", tapi bagi Kartini, itu adalah penjara mental. Bayangkan, di usia yang sangat muda dan penuh rasa ingin tahu, ia harus terputus dari dunia luar, kehilangan akses pada pendidikan formal yang ia cintai, dan dipaksa tunduk pada aturan adat yang kaku.

Di sinilah surat-suratnya kepada teman-temannya di Belanda, seperti Estella Zeehandelaar, mengambil peran yang sangat penting. Surat-surat itu adalah bentuk journaling paling jujur pada zamannya. Melalui goresan pena, Kartini sedang melakukan terapi mandiri untuk menjaga kewarasannya di balik tembok keraton yang bisu.

Sobat Yoursay, kalau kita perhatikan narasi dalam surat-suratnya, Kartini sering kali mengekspresikan rasa putus asa, kegelisahan, hingga amarah yang terpendam. Menulis menjadi satu-satunya cara bagi dia untuk tetap merasa "hidup" dan memiliki kendali atas pikirannya sendiri ketika raga dan masa depannya sudah diatur sepenuhnya oleh orang lain.

Di era modern ini, kita mengenal konsep expressive writing sebagai salah satu cara untuk meredakan stres dan kecemasan. Kartini sudah melakukannya lebih dari seabad yang lalu. Dia menciptakan ruang amannya sendiri di atas kertas karena di dunia nyata, dia tidak memiliki ruang untuk bicara tanpa dihakimi atau dicap sebagai perempuan yang menyimpang dari kodrat.

Tekanan sosial yang dihadapi Kartini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang kita rasakan sekarang, meski bentuknya sudah berevolusi. Kalau dulu Kartini terkungkung tembok fisik keraton, anak muda zaman sekarang sering kali merasa "terpingit" oleh ekspektasi media sosial atau standar ganda masyarakat yang masih kaku. Kita dituntut untuk berprestasi, tapi tetap harus "tahu diri"; kita diminta untuk vokal, tapi sering kali dicibir saat mulai menyuarakan keresahan hati.

Di sinilah kita belajar dari Kartini tentang betapa pentingnya memiliki ruang aman. Sobat Yoursay mungkin sering merasa ingin meledak karena tekanan kerja atau ekspektasi keluarga, tapi kemudian memilih diam karena takut dianggap lemah atau lebay. Padahal, apa yang dilakukan Kartini membuktikan bahwa menyuarakan keresahan—baik lewat tulisan maupun bicara kepada orang yang tepat—adalah mekanisme pertahanan diri yang sangat sehat. Kartini tidak sedang mengeluh tanpa tujuan; dia sedang memproses emosinya agar tidak berubah menjadi depresi yang melumpuhkan.

Namun, ada satu hal yang memilukan. Kartini harus mencari pendengar hingga ke benua lain untuk bisa didengarkan. Ini menjadi refleksi bagi kita semua, apakah kita sudah menjadi ruang aman bagi perempuan di sekitar kita?

Sering kali, saat seorang perempuan mulai bicara soal kelelahannya atau masalah kesehatan mentalnya, respons yang didapat justru kalimat "kurang bersyukur" atau "kamu cuma kurang ibadah". Komentar-komentar seperti inilah yang menciptakan tembok baru yang tidak terlihat tapi sanggup membungkam suara perempuan hingga mereka merasa terisolasi dalam penderitaannya sendiri.

Perjuangan Kartini bukan hanya soal sekolah untuk perempuan, tapi soal pengakuan terhadap kemanusiaan perempuan secara utuh, termasuk kesehatan mentalnya. Surat-surat Kartini adalah pengingat bahwa di balik sosok pahlawan yang tangguh, ada manusia yang pernah merasa rapuh. Dan kerapuhan itu bukanlah aib. Kerapuhan yang diakui dan dikelola adalah langkah awal menuju ketangguhan yang sesungguhnya.

Jadi, di Hari Kartini tahun ini, mari kita mulai membuka ruang-ruang diskusi yang lebih empatik. Sobat Yoursay, mari kita berjanji untuk tidak membiarkan ada lagi "suara yang terbungkam" hanya karena lingkungan yang enggan mendengarkan.

Menjadi Kartini masa kini berarti berani bicara soal kesehatan mental, berani mencari bantuan saat merasa tidak baik-baik saja, dan yang paling penting, berani memberikan telinga dan hati bagi mereka yang sedang berjuang di balik tembok kegelisahannya masing-masing.